Thursday, January 14, 2016

BOLA KRISTAL PEMBAWA MIMPI



Rachel tidak bisa tidur lagi. Jika ia ingat, hal ini sudah menjadi hal kesekian kali idmana ia harus terbangun di tengah malam karena mendapatkan mimpi buruk, atau mendapatkan gangguan-gangguan suara dari lantai bawah rumahnya. Ia dengar setiap malam, suara berkelotakan atau suara seperti bola menggelingding di lantai. Namun ketika ia periksa, tidak ada yang berubah dari posisi furnitur atau barang-barang lain di rumahnya.
“Mungkin kau hanya kelelahan.” Ucap James, suaminya. “Kau bekerja terlalu keras, dan kau mulai berpikir macam-macam. Kau seharusnya beristirahat, Rachel.”
“Bagaimana mungkin?” balas Rachel.
Rachel merasa sedikit kesal karena James tidak mau percaya padanya. Ya. Memang sedikit masuk akal mengingat memang tidak ada yang aneh dengan barang-barang di rumahnya. Namun Rachel berani bersumpah bahwa ia yakin suara-suara yang ia dengar di tengah malam itu bukan berasal dari mimpinya. Lalu kenapa? Apakah ia sudah gila?
Rachel sebenarnya bukanlah seorang penakut, dan tidak begitu percaya dengan hal-hal supranatural. Ia bekerja di sebuah rumah jenasah sebagai perias jenasah. Berhadapan dengan kematian sudah bukan hal baru bagi Rachel. Tapi, akhir-akhir ini ia sering mendapat serangan mimpi buruk yang begitu aneh dan juga suara-suara aneh itu. Rachel tidak dapat menjelaskannya. Seingatnya, ia mulai mendapatkan gangguan seperti ini semenjak ia mendapatkan hadiah sebuah bola kristal dari seseorang.
Bola krystal kecil seukuran bola tenis itu kini terpajang di rak ruang tamunya, bersanding dengan pigura-pigura foto. Tidak ada yang aneh dengan bola itu kecuali kenyataan bahwa sang pemimilik sebelumnya adalah seorang cenayang. Beberapa hari setelah mendapatkan gangguna, Rachel semat berpikir, apakah mungkin benda itu yang menyebabkan suara-suara aneh di rumahnya, dan juga bertanggung jawab dengan mimpi-mimpi buruknya?
Mustahil! Tegas Rachel pada pikirannya sendiri. Tidak mungkin bola itu dapat terbang dan menghasilkan suara-suara aneh. Bola kristal itu hanya sebuah benda mati, yang tidak mungkin dapat bergerak sendiri. Lalu, bagaimana ia menjelaskan mengenai suara-suara aneh itu?
Rachel sudah bercerita pada James mengenai segala hal yang ia alami. Mengenai suara-suara itu, dan juga mimpi buruknya. Bahkan, ia juga sudah mengutarakan teorinya mengenai bola kristal itu. Tapi, James malah tertawa padanya.
“Sejak kapan kau mulai mempercayai takhayul?” ucapnya.
Ya. Benar. Rachel memang tidak mempercayainya. Hingga pada suatu hari ia secara tak sengaja menjatuhkan bola kristal itu dari dudukannya ke arah lantai dan…
DUK!
Sebuah suara hantaman ke lantai yang terdengar tak asing keluar. Rachel seketika membelalakkan kedua matanya saat ia mendengar suara hantaman keras ke lantai itu. Ya. Suaranya sama dengan apa yang selalu ia dengar setiap malam.
Rachel meraih bola yang terjatuh itu dengan tangannya, saat ia secara tak sengaja menemukan bekas-bekas goresan di sekitar tempanya berjongkok. Kaki-kaki kursi dan meja, dan juga bagian bawah dinding terlihat bekas hantaman benda. Beberapa goresan yang tak jelas, yang tidak dapat ia jelaskan. Dan seketika Rachel mulai berpikir, apakah bola itu penyebabnya?
Rachel tidak terlalu memikirkannya, dan pergi tidur seperti biasa di suatu malam. Hingga pada akhirnya ia mendapatkan sebuah mimpi buruk lain yang selalu terlihat sama setiap harinya.
Ia seperti tengah berada di dalam sebuah rumah yang terlihat suram dan tak bercahaya di suatu hari yang dipenuhi mendung. Bayangan-bayangan dan furnitur terlihat mengerikan, memenuhi ruangan dimana ia berdiri. Saat itu, ia mendengar suara lirih dari arah lantai dua. Ia mendengar suara gadis kecil tengah bersenandung lirih, menyanyikan sebuah lagu dengan not yang tidak biasa. Terdengar sedikit mengerikan, dan terasa aneh.
Rachel dapat bergerak di dalam mimpinya. Seperti yang sudah ia lakukan di mimpi-mimpi sebelumnya, ia selalu bergerak ke arah tangga dan naik ke lantai dua. Namun setiap kali ia mendekati ruangan dimana gadis kecil itu berada, Rachel selalu terbangun dari tidurnya. Tentu saja, dikarenakan suara-suara hantaman di lantai bawah rumahnya. Rachel sejauh ini belum pernah sampai di ruangan gadis kecil itu berada.
Malam itu Rachel memimpikan hal yang sama. Rumah yang suram, dan juga adanya nyanyian gadis kecil itu. Ia kembali bergerak perlahan, menaiki susunan anak tangga, hingga akhirnya sampai di lantai atas sebuah rumah yang terlihat asing baginya. Suara nyanyian itu masih terdengar jelas, dan semakin terdengar jelas begitu Rachel mendekati ke arah ruangan dimana gadis itu berada.
Rachel biasanya akan terbangun saat ia mencapai ambang pintu kamar itu. Namun malam itu ia tidak terbangun. Ia yang berada di alam mimpi berhasil meraih kenob pintu kamar dimana gadis kecil itu berada. Dan dalam mimpinya, ia putar kenob pintu itu dan membukanya.
Gambaran sebuah kamat terlihat di depan kedua matanya. Sebuah kamar yang suram, terlihat seperti sudah ditinggalkan selama beberapa tahun. Dan ia lihat, seorang gadis kecil duduk membelakanginya. Ia hanya dapat melihat gadis kecil itu dari belakang. Seorang gadis kecil dengan rambut terkepang, dan sepertinya tengah bermain dengan sebuah boneka tua.
Rachel bergerak memasuki kamar, dan mendekati gadis kecil itu. Namun satu hal yang tak terdua terjadi. Gadis kecil itu tiba-tiba saja memutar kepalanya, dan menunjukkan sebuah wajah kosong yang dihiasi dengan sepasang mata hitam yang dengan cepat dapat membekukan tubuh Rachel.
“Tidak!!” Rachel berteriak seketika. Di saat yang bersamaan, ia terlepas dari mimpi buruknya itu dan mendapati dirinya sudah terduduk diatas tempat tidurnya, di kamarnya yang hangat. James berada di sisinya, mengelus lengannya sambil memandang penuh perhatian.
“Kau tidak apa-apa?” tanya James. “Kau mengigau lagi. Apa mimpi itu masih mengganggumu?”
“Ya.” Jawab Rachel.
“Sepertinya kita mencari bantuan, sayang.” Ucap James.
Bantuan yang dimaksudkan oleh James adalah bantuan medis. Rachel sudah bertemu dengan seorang dokter jiwa dan menceritakan semua hal pada dokter itu, mengenai mimpi dan juga suara-suara yang ia dengar setiap malam. Dokter tiu tentu saja tidak percaya dengan hal-hal gaib. Sebagai jawaban, sang dokter memberikan resep obat penenang pada Rachel, dengan harapan Rachel dapat tidur tenang tanpa mendapat gangguan di tidurnya. Tapi…, apakah obat itu berhasil?
Hanya satu hari. Dan di hari berikutnya, Rachel kembali dikejutkan dengan adanya wajah polos dengan mata hitam itu. Gadis itu menyeringai ke arahnya, seolah tengah mengejeknya. Apa yang terjadi? Kenapa Rachel mendapatkan gangguan seperti itu?
“Ini sudah kelewatan, Rachel.” Ucap James di suata malam sesaat setelah rachel terbangun sambil berteriak.
“Kau…, terganggu.”
“Ya.” Jawab Rachel dengan nada sedikit kesal. “Dan kau sama sekali tidak membantuku, James. Kau tidak mengerti dengan apa yang kurasakan.”
“Aku ingin membantu.”
Rachel bangkit dari tempat tidurnya, memakai slippernya dan bergerak keluar dari kamar. Ia mengarah ke dapur di lantai satu untuk mengambil minum, saat tiba-tiba ia dengar saura hantaman itu lagi.
Duk!! Duk!!
Rachel berdiri diam seketika. Suara itu berasal dari arah ruang tamunya yang gelap. Benda apa yang sebenarnya menciptakan saura hantaman seperti itu? Bola kristal itu?
Rachel berada diantara dua pilihan. Apakah ia harus mencari tahu tentang suara itu ?, atau ia bisa saja tak peduli dan kembali ke kamar. Namun hati Rachel mengatakan bahwa ia harus mencari tahu tentang suara misterius itu.
Rachel bergerak ke arah ruang tamunya setelah mendengar satu suara hantaman lagi. Rachel berani bersumpah bahwa ada yang tidak beres dengan bole kristal itu. Tapi ia tidak begitu yakin apakah memang bola kristal itu penyebabnya.
Ruang tamu menyala seketika saat Rachel menekan saklar lampunya. Dan seketika ia lihat, bahwa tidak ada yang berubah dengan perabotnya yang berada di ruangan itu. Kecuali…, benda bulat bening itu.
Rachel mendekat ke arah tempat dimana bola itu berada sebelumnya. Dudukan dari kain yang terdapat di sebelah pigura foto telah kosong, tanpa ada kehadiran benda bula itu. Mungkin terjatuh?
Rachel berjongkok, kemudian melihat ke sekeliling. Sama seperti sebelumnya, yang ia temukan hanyalah bekas-bekas hantaman dan goresan yang berada di bagian bawah furnitur. Akan tetapi, seberapa keras ia mencoba mencari, bola kristalnya itu telah menghilang secara gaib.
Rachel mencoba mencari di ruang sebelah yang berhubungan dengan ruang tamu. Namun ia tetap tidak dapat menemukan bola kristal itu.
Rachel kembali ke kamarnya dan kemudian bertanya pada James mengenai bola kristal itu.
“Bukankah di tempat biasanya?” ucap James.
“Tidak ada disana.” Jawab Rachel. “Bolanya menghilang, James. Bolanya benar-benar hilang.”
“Mungkin terjatuh.”
“Tidak.” Bantah Rachel. “Aku sudah mencarinya kenamapun tapi bola itu tidak ada.”
Rachel yang biasanya tidak terlalu peduli dengan barang antik tentu saja bertingkah aneh saat kini ia mulai kelabakan saat bola kristal itu menghilang. Sebenarnya bukan masalah besar. Akan tetapi, Rachel merasa bahwa bola kristal itulah penyebab mimpi-mimpi buruknya.
“Yang benar saja!” ucap James saat Rachel mengeluarkan teorinya itu. “Tidak mungkin benda itu…”
“Semua yang kualami terjadi setelah menerima benda itu.” Ucap Rachel. “Tidak pernah terjadi sebelumnya, ‘kan? Kurasa ada sesuatu yang tidak beres dengan bola itu.”
“Darimana kau mendapatkannya?” tanya James. “Kau mengatakan…, kau mendapatkannya dari salah seorang keluarga jenasah?”
Rachel mengangguk. Ya. Kini baru terpikirkan kembali mengenai seorang ibu yang memberikan bola itu padanya. Seroang wanita yang putrinya meninggal, memberikan bola itu sebagai pembayaran periasan jenasah. Entah kenapa Rachel mau menerima benda itu. Tentu saja bukan karena alasan pembayaran, karena Rachel tahu bahwa bola itu sama sekali tidak berharga. Dan kini, ia dihantui oleh mimpi buruk itu. Dan…, tunggu dulu! Mimpi itu…
“Sial!” umpatnya. “Mimpiku…, selalu berkaitan dengan adanya seorang gadis.”
“Apa maksudmu?”
“Gadis kecil.” Ucap Rachel. “Gadis kecil itu bernyanyi di kamarnya, sendirian, kurasa ia kesepian, james. Dan kini aku tahu kenapa.”
“Kenapa?”
“Bola kristal itu.” Ucap Rachel. “Bola kristal itu seharusnya berada bersamanya, dan bukan disini.”
“Aku tidak menger…”
“Gadis itu adalah gadis yang kurias di rumah jenasah sebulan yang lalu.”
Semua kejadian misterius yang menimpa Rachel kini sepertinya mulai masuk akal. Memang Rachel bukanlah orang yang dapat dengan mudahnya menerima teori supranatural seperti itu. Tapi mengingat hal-hal aneh yang sudah terjadi secara nyata dalam kehidupannya, ia rasa ia mulai bisa menerima penjelasan yang sedikit tidak rasional.
Rachel berpikir, mungkin satu cara untuk dapat membuang segala kejadian aneh dan mimpi buruk dari kehidupannya adalah dengan cara mengembalikan bola kristal itu. Pada pemilik sebenarnya, yang kemungkinan besar adalah gadis putri dari wanita itu.
Bukan hal yang sulit bagi Rachel untuk melakukannya. Setiap orang yang datang ke rumah jenasah untuk mendapatkan jasa Rachel, mereka selalu meninggalkan alamat rumah mereka. Dan tidak butuh waktu lama bagi Rachel untuk dapat menemukan alamt tempat tinggal dari wanita yang memberikan bola kristal itu.
Nama wanita itu adalah Sandra. Yang tinggal tidak begitu jauh dari tempat Rachel bekerja. Rachel ingin segera mengembalikan bola kristal itu. Sayangnya, bolanya masih belum ketemu.
Rachel pulang dari kerja pukul lima sore. James masih berada di kantor tempatnya bekerja. Keadaan rumahnya sepi, hanya ia sendiri. Hari itu sedikit mendung, dan cahaya remang memasuki rumah tempat tinggal Rachel.
Rachel seketika membeku di pintu masuk saat ia melihat rumahnya dalam keremangan suasana. Keadaannya mengingatkannya akan sesuatu yang terjadi di dalam mimpinya. Rumahnya…, benar-benar mirip dengan rumah suram yang ada di dalam mimpinya. Kenyataan saat rumahnya belum mendapatkan cahaya lampu dan berada di dalam kegelapan menjelaskan kenapa rumah itu terlihat begitu suram.
Rachel menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin? Apakah rumah di dalam mimpinya itu adalah rumahnya?
Rachel tengah berusaha untuk melepas pemikiran itu, saat tiba-tiba saja ada sebuah suara yang menginagtkannya kembali akan mimpinya. Terdengar bunyi ‘Duk!’ pelan, lalu diikuti dengans ebuah suara yang rasanya tidak asing bagi Rachel.
Nyanyian seorang gadis.
Tubuh Rachel seketika meremang ketika ia mendengar saura nyanyian menyedihkan itu, yang berasal dari lantai dua. Apakah berasal dari kamarnya? Rachel bergerak perlahan, dengan pikiran bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia naik kesana? Apakah gadis dengan wajah kosong itu juga akan berada disana?
Rachel mencoba memberanikan dirinya. Jika apa yang ia pikirkan benar, mungkin ia akan mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi dalam kehidupannya. Mengenai mimpi-mimpi itu, dan juga bola kristal yang menghilang itu.
Rachel menaiki susunan tangga secara perlahan, dengan jantung berdegup kencang. Ia sudah menghidupkan lampu di rumahnya. Akan tetapi, kesan suram itu masih tetap ada.
Suara nyanyian itu terdengar semakin jelas saat Rachel mulai mendekati kamarnya. Dengan perasaan yang begitu berat, penuh dengan ketakutan, Rachel mulai mengarahkan tangannya pada kenob pintu kamarnya. Ia putar, kemudian ia buka. Dan sesuatu terlihat berada diatas tempat tidurnya.
**
Rachel dapat bernafas lega saat ia tidak melihat adanya sosok lain di dalam kamarnya yang gelap itu. Dan saat itu juga, suara nyanyian misterius itu menghilang. Rachel terpaku pada sebuah benda yang terletak diatas lipatan selimutnya. Sebuah benda bulat, cemerlang, yang sudah hilang sejak kemarin malam.
Rachel menyalakan lampu di kamarnya, dan wujud dari bola kristal itu terlihat semakin jelas. Aneh. Kenapa bola itu bisa berada di kamarnya?
Masih ada terlalu banyak pertanyaan berada di dalam kepala Rachel mengenai menghilangnya, dan muncul kembalinya bola kristal itu. Tapi Rachel tidak mau berdiam terlalu lama untuk memikirkannya. Ia raih bola kristal itu, lalu berlari keluar kamar. Ia tahu apa yang akan ia lakukan.
Beberapa menit kemudian, Rachel sudah berada di belakang kemudi mobil pribadinya dengan bola kristal itu berada di jok sebelah. Rachel menggerakkan mobilnya ke arah sebuah rumah, yang sejak tadi sudah berada di dalam pikirannya.
Kediaman Sandra Parker, wanita yang memberikannya bola itu, terlihat sedikit sepi. Rachel melompat turun dari mobilnya sambil membawa bola itu. Dan anehnya, ia merasakan sedikit getaran dari bola yang ia pegang.
Rachel mengetuk pintu beberapa kali, sebelum akhirnya ia bisa bertemu dengan Sandra. Dan Rachel pun menjelaskan semua hal yang telah terjadi pada wanita itu.
**
“Jadi kau mengembalikan bolanya?” tanya James malam itu. Rachel mengangguk pelan, dengan perasaan yang terasa sudah lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya.
“Sandra menjelaskan banyak hal padaku mengenai bola itu, dan juga mengenai keamtian putrinya.” Ucap Rachel.
“Helen.” Lanjutnya. “Itu nama purinya yang meninggal karena penyakit lama yang sudah ia derita. Dan Sandra menceritakan padaku mengenai Helen, segala hal, yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku saat meriah jenasahnya.”
“Dia menceritakan mengenai bola itu?”
“Ya.” Jawab Rachel. “Bola kristal itu adalaj pemberian kakek Helen sebelum ia meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan bola itu, adalah satu-satunya benda kesayangan Helen sat ia merasa kesepian. Ia tidak mempunyai teman karena penyakit yang dideritanya itu, yang memaksanya untuk terus berada di rumah dengan tubuh lemah. Dan bola itu adalah hal terpenting di dalam hidupnya. Karena itulah…”
“Kau mengembalikannya.” Sambung James.
Rachel mengusap wajahnya. Ia merasa lega karena sudah mengembalikan bola itu. Namun ia juga masih merasa sedikit takut seandainya suara-suara hantaman itu kembali lagi malam nanti. Apah hal itu akan terjadi?
“Syukurlah!” ucap Rachel keesokan harinya di meja makan. James mengelus punggung istrinya, sambil menatapnya serius.
“Kau tidak mengalaminya lagi?”
“Berbeda.” Jawab Rachel. “Aku masih berada di rumah yang sama, akan tetapi keadaannya sungguh berbeda. Rumah itu tidak lagi suram, dan terlihat begitu hangat. Suara nyanyian yang kudengarkan juga sudah tidak aneh lagi. Dan ketika aku memasuki kamar itu…”
“Helen.”
“Dia tersenyum padaku.” Ucap Rachel sambil tersenyum. “Kurasa apa yang kupikirkan benar, james. Helen hanya menginginkan bolanya kembali. Itu sebabnya ia selalu masuk kedalam mimpiku. Untuk mengatakan hal itu.”
Rachel merasa lebih lega beberapa hari setelahnya, saat ia sudah tidak mendapatkan gangguan lagi di dalam tidurnya. Kini ia benar-beanr yakin dengan pemikirannya itu. Helen hanya menginginkan bola kristalnya kembali.
Sesuatu berubah. Namun masih ada yang tidak berubah dari dalam diri Rachel. Wanita itu masih belum mempercayai kekuatan gaib seratus persen. Akan tetapi, kini ia mulai bisa menghargai apa yang tersaji di depan kedua matanya. Ia sadari bahwa jenasah-jenasah yang ia rias memiliki cerita tersendiri di dalam kehidupan mereka. Dan Rachel berusaha untuk menghargai hal-hal tersebut dengan pekerjaannya. Satu doa yang selalu keluar dari mulutnya ketika ia meraih pada jenasah adalah,
“Semoga kau menemukan ketenangan.”

***


Thursday, January 7, 2016

WORLD WIDE WEB



Tidak ada yang dapat memisahkan Karen dari internet. Setiap hari, setiap waktu, ia selalu menyempatkan dirinya untuk mengunjungi website favortinya. Atau paling tidak, ia dapat memeriksa pesan masuk di kotak emailnya, atau permintaan pertemanan di media sosialnya. Orang tuanya sudah pernah mengatakan padanya bahwa internet suatu saat akan menyebabkan hal buruk padanya. Akan tetapi, Karen mentah-mentah menolak pendapat itu.
Memangnya hal buruk apa yang dapat terjadi karena internet? Ia sudah dewasa. 17 tahun sepertinya umur yang cukup baginya untuk dapat membuat keputusannya sendiri tanpa bantuan orang tua. Intinya, ia dapat mempertanggung jawabkan apa yang ia lakukan. Dan seperti yang selalu ia pikirkan, internet tidak akan membunuhnya.
Karen terkikik geli saat membaca pesan konyol yang dikirimkan oleh temannya melalui media sosial yang tengah terbuka di layar komputernya. Jemari Karen dengan cepat bergerak diatas keyboard, membalasa pesan temannya itu. Tanpa ia sadari, sudah ada dua jam ia duduk di depan komputer. Kamar yang ia tempati terlihat gelap, karena Karen malas bangkit dari tempat duduknya untuk menyalakan lampu.
Aktivitas yang tengah ia lakukan sedikit terganggu saat seseorang secara tiba-tiba membuka pintu kamarnya. Seorang wanita berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang, mendecakkan lidah karena kesal dengan apa yang dilakukan putrinya.
“Kapan kau akan berhenti?” tanya ibunya itu dengan nada sedikit kesal. Hal seperti ini bukanlah hal baru bagi Karen. Gadis itu hanya mendecak kesal sembari menggerutu.
“Sebentar lagi.” Ucapnya. “Aku berjanji aku akan segera mengerjakan pr-ku.”
Ibunya hanya dapat menghembuskan nafas panjang. Ia tidak tahu akan jadi apa Karen nantinya, jika ia hanya fokus pada internet, dan bukan pada pelajaran sekolahnya. Tapi…, apakah Karen akan menepati janjinya itu?
Sulit. Ya. Bagi seseorang yang sudah kecanduan internet, menutup browser merupakan satu hal yang sulit dilakukan. Ketika Karen tidak bersentuhan dengan internet, meski hanya setengah jam, ia langsung mendapatkan kecemasan. Bagaimana jika ada pesan masuk? Bagaimana jika ia sampai ketinggalan berita terbaru? Bagaimana jika…
Terlalau banyak kata ‘bagaimana seandainya?’ di dalam kepalanya ketika tidak bersentuhan dengan internet. Karena alasan itulah, Karen selalu memantau perkembangan pertemanan onlinenya, baik lewat komputer atau ponselnya.
Karena kembali terkikik geli saat menerima pesan balasan dari temannya, yang disertai dengan sebuah foto konyol temannya. Insting internetnya mengatakan, bahwa ia harus segera membalas pesan itu. Akan tetapi, satu hal aneh terjadi.
Karen mengernyitkan keningnya saat satu hal yang tidak biasa terjadi pada komputernya. Ia menggerakkan-gerakkan mouse komputernya, namun pointernya tidak bergerak sama sekali. Ia mencoba menekan tombol di keyboard, namun tidak juga berhasil. Seketika, komputernya berhenti bekerja. Layar komputernya masih menampilkan halaman media sosial yang tengah ia gunakan. Akan tetapi, beberapa detik kemudian muncul satu gambar yang datang tak terduga. Seperti gambar sebuah jolly roger yang datang dengan begitu cepat, dan hilang begitu cepat. Hanya seperti sebuah kilatan. Sisi baiknya, Karen dapat menggerakkan mousenya lagi.
Hal aneh kembali terjadi beberapa detik setelah Karen mengirim pesan balasannya. Kotak masuknya secara tiba-tiba terisi dengan begitu banyak pesan. Ada 29 pesan, dan seseorang yang sama sekali tidak karena kenal. Karen sudah terbiasa mendapatkan permintaan pertemanan dari orang yang tidak ia kenal, atau bisa disebut, pengagum rahasianya. Namun ia belum pernah mendapatkan 29 pesan dari orang yang sama sebelumnya. Karen yang penasaran dengan hal itu langsung membuka profil dari sang pengirim pesan. Nama akun itu adalah,
“WILL1992”
Dari nama akunnya, Karen hanya dapat menebak bahwa nama lelaki itu adalah William, yang lahir-mungkin-di tahun 1992. Tidak ada yang mengejutkan dari nama itu, kecuali halaman akun dari pengguna itu, yang Karen buka beberapa detik kemudian.
Warna dari halaman akun Will terlihat seperti darah. Merah pekat, dengan berbagai macam gambar-gambar mengerikan yang terpasang di setiap sudut halaman. Terdapat satu musik aneh ketika Karen membuka halaman akun itu. Terdengar seperti sebuah audio yang rusak, atau kaset yang kusut. Karen tidak dapat menggambarkannya. Karen mencoba melihat foro profil dari Will, namun ia tidak melihat adanya wajah. Melainkan, ia melihat lambang jolly roger sebagai foto profilnya.
Karen merasa tidak tenang sesaat setelah membuka akun misterius yang cukup mengerikan itu. Will, atau siapapun nama lelaki itu bukanlah orang biasa. Atau paling tidak, Karen berpikir bahwa lelaki itu mungkin memiliki gangguan jiwa. Siapa yang mau berteman dengan seseorang yang memasang begitu banyak gambar mengerikan di halaman profilnya? Sebagai tindakan terakhir, Karen mengabaikan seluruh pesan dari WILL1992.
Karen mencoba membicarakan hal ini dengan temannya yang lain. Mengenai akun WILL1992. Namun tidak ada satupun dari teman Karen yang tahu mengenai akun itu. Seharusnya Karen dapat melupakan akun itu begitu saja. Akan tetapi, kenyataannya berbeda.
Karen begitu penasaran dengan pemilik akun mengerikan itu. Kenapa? Apa yang diinginkan oleh orang itu? Dan kenapa orang itu memilih dirinya?
Karen pergi tidur sambil membawa pertanyaan itu ke dalam mimpinya. Dan ia harus terbangun tengah malam saat ia mendengar ponselnya berdering. Karen, dengan mata mengantuk, mencoba melihat siapa yang meneleponnya malam-malam. Begitu ia lihat layar ponselnya, ia melonjak ngeri. Jantungnya berdegup dengan kencang saat sebuah nama tertera di layar ponselnya.
“WILL1992”
Kenapa hal itu bisa terjadi? Karen tidak pernah menyimpan nama itu di buku telepon ponselnya. Seharusnya nama itu tidak bisa muncul begitu saja. Keanehan yang terjadi ini memaksa Karen untuk tidak tidur semalaman, dan terus memikirkannya. Ia mencoba mencari di internet mengenai akun misterius itu, tapi ia tidak menemukan satu hasil sekalipun.
Di sekolah, Karen mencoba untuk menceritakan hal ini pada teman-temannya. Sesuai dengan dugaannya, teman-temannya ternyata peduli dengan apa yang tengah ia hadapai. Beberapa dari mereka bahkan mengutarakan berbagai macam solusi.
“Sebaiknya kau bertanya.” Ucap salah seorang teman Karen.
Pesan-pesan aneh dari WILL1992 selalu masuk ke dalam ponsel Karen. Yang tentu saja membuat gadis itu semakin merasa gila. Siapa sebenarnya orang ini? Bukan hanya itu saja. Ketika Karen pulang ke rumah, ia lihat komputernya sudah menyala. Dan apa yang tertera di layarnya adalah halaman akun dari WILL1992 yang penuh dengan gambar-gambar menyeramkan.
“Berengsek!” Karen geram dengan ulah usil pemilik akun itu. Ia mencoba untuk menutup halaman akun milik WILL1992, tetapi beberapa detik setelah ia menutup browser, halaman akun itu kembali muncul. Ia tutup lagi, dan muncul lagi. Beberapa kali terjadi hal yang sama secara berulang-ulang. Hingga akhirnya terdapat satu pop-up di layar komputernya dengan tulisan,
“Kau sudah diperingatkan!”
Karen tidka mengerti dengan arti dari kata-kata itu. Pikirannya sudah dipenuhi dengans egala macam ketakutan yang ditimbulkan oleh akun aneh itu, yang kini seolah telah menjadi virus di komputernya.
Karen berteriak marah seraya menutup laptopnya dengan keras. Secara paksa, ia cabut baterai dari laptopnya itu. Dengan laptopnya dalam keadaan mati, tidak mungkin pemilik akun itu bisa mengganggunya lagi. Tapi…, benarkah begitu?
Karen sudah merasa lebih tenang dalam beberapa setelah kejadian itu. Ia tidak lagi membuka komputernya, meski keinginannya untuk online sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia mencoba untuk melampiaskan hasratnya dalam jejaring sosial dengan ponselnya. Namun ia rasa hal itu tidak cukup.
Barulah satu minggu kemudian, Karen berani menghidupkan kembali komputernya. Semuanya terlihat cukup normal, dan komputernya berjalan sebagai mana mestinya. Tidak ada tanda-tanda kerusakan meski ia telah mencabut baterai komputer itu secara paksa. Dan ia rasa, virusnya sudah hilang.
Karen nyaris lupa dengan tragedi mengerikan yang menimpanya seminggu yang lalu itu. Hingga akhirnya, sebuah pop-up muncul di halaman media sosialnya. Karen membaca tulisan,
“Kau anak nakal!”
Karen mengarahkan pointer mousenya ke arah tombol close. Namun ketika ia tekan, tidak terjadi-apa-apa. Halaman pop-up itu masih disana dan kini malah muncul berbagai amcam pop-up lain dengan kalimat yang berbeda-beda. Dengan tatapan nanar, Karen sempat membaca beberapa diantara.
“Jauhi dunia ini!”, “Kau sudah diperingatkan!”, “Kau tidak mau mendengar!”, “Kau telah menjadi budak!”
Dan yang terakhir,
“Kau tidak akan pernah bisa keluar dari alam maya.”
Karen merasakan jantungnya berdegub kencang saat itu. Dan tiba-tiba saja, listrik di rumahnya padam. Kini meninggalkan dirinya duduk di tengah kegelapan, menatap layar komputernya yang menyala dengan berbagai macam pesan mengerikan itu. Karen mencoba untuk mematikan komputernya, tapi…, komputernya berkedip dengan begitu cepat sambil mengeluarkan bunyi kaset kusut. Semakin keras, dan keras, dan keras, hingga pada akhirnya…
Tubuh Karen terlempar dari kursi saat layar komputer itu meledak, dan menghancurkan sebagian besar wajahnya.

***


Friday, December 18, 2015

GADIS DI PERPUSTAKAAN



Daniel tidak tahu lagi cara lain untuk melampiaskan kemarahan dan kekesalannya. Jika saja bukan karena lembar tugasnya yang ditolak mentah-mentah oleh profesornya karena kurang bagus, mungkin Daniel tidak perlu menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk memulai lagi risetnya mengenai subyek yang tengah ia pelajari. Ia kesal, ia bosan, namun ia tahu bahwa ia harus melakukannya.
Sudah dua tahun Daniel kulaih di universitas yang ia tempati saat ini. Dan setiap kali ia membuat tugas, entah kenapa profesornya selalu menunjukkan poin-poin yang salah dalam setiap lembar tugasnya. Apa dia terlalu bodoh? Tidak. Daniel selalu membuat nilai yang bagus saat sma. Tapi entah kenapa di bangku perkuliahan ini ia selalu tertinggal dengan teman-temannya. Hal itu, membuatnya harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan nilai yang baik.
Daniel tidak pernah menjadi penggemar dari sebuah perpustakaan. Kenapa harus ke perpustakaan jika ia bisa mencarinya lewat internet? Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa kadang ia memang harus membaca beberapa buku sebagai sumber makalahnya. Dan terpaksa, ia harus mengunjungi perpustakaan.
Diantara sekian banyak kesibukannya sebagai seorang mahasiswa, Daniel sulit untuk mengatur waktunya. Akibatnya, ia tidak memiliki cukup waktu untuk pergi ke persutakaan. Ia hanya bisa melakukannya saat malam tiba. Pukul sembilan malam, ia berjalan seorang diri di lorong yang gelap, bergerak menuju perpustakaan tua di kampusnya yang dijaga oleh seorang wanita gemuk dengan sikap yang tidak menyenangkan.
“Jangan berisik!” ucap wanita gemuk berkacamata itu ketika Daniel bergerak memasuki perpustakaan. Daniel hanya mendengus pelan, lalu bergerak ke arah rak buku.
Perpustakaan yang ia tempati saat itu merupakan sebuah perpustakaan yang sudah cukup berumur. Mungkin sudah ada sejak kampus ini dibangin 70 tahun yang lalu. Terdapat begitu banyak rak buku yang tinggi, yang menciptakan koridor-koridor sempit, gelap, berdebu, dan membuat suasananya sedikit tidak menyenangkan. Daniel bahkan sedikit kesulitan untuk menemukan buku yang ia inginkan. Ia kadang harus memanjat tangga, menggeser tangga, dan melakukan hal lain yang tidak ia senangi. Hanya demi makalahnya.
Daniel membawa setumpuk buku ke arah sebuah meja kecil yang terletak di samping sebuah rak. Tidak ia sangka bahwa ia harus membaca buku sebanyak itu. Daniel tengah sibujk membuka-buka buku ketika ia sadar bahwa keadaan begitu sepi dan sedikit membuatnya tidak tenang. Sama sekali tidak ada suara lain, keculai suara halaman buku yang ia buka.
Daniel berpikir, mungkin ia bisa mati karena bosan. Cahaya temaram di ruangan itu membuat kedua matanya berat, mengantuk, dan ia tidak tahu apakah kalimat-kalimat yang ia baca dapat masuk ke dalam otaknya. Daniel menguap. Dan tiba-tiba saja…
“Bosan?”
Daniel hampir saja menjerit saat mendengar suara itu. Sebuah suara seorang gadis dari arah sampingnya, yang tidak ia ketahui kapan gadis itu duduk disana. Daniel tidak percaya bahwa ia tidak sadar saat seroang gadis duduk beberapa meter darinya. Apakah gadis itu sudah ada disana sejak tadi?
Gadis itu terlihat cukup menarik bagi Daniel, yang hingga detik itu memang belum memiliki kekasih. Gadis itu memiliki rambut priang sebahu yang mengombak, senyum manis, dan sepasang mata hijau secerah zamrud. Gadis itu tengah membaca beberapa buku, ketika ia melepaskan satu senyuman pada Daniel.
“Maaf mengagetkanmu.” Ucap gadis itu.
“Kau…, sudah ada disana sejak tadi?” tanya Daniel. “Err…, maaf! Aku tidak menyadari kehadiranmu.”
Kebosanan yang Daniel rasakan tiba-tiba saja menghilang dengan kedatangan gadis manis itu. Kini, perasaannya digantikan dengan perasaan tak karuan karena telah melihat seorang gadis yang mungkin…, dapat menjadi teman baginya.
Daniel mencoba melanjutkan apa yang sedang ia lakukan. Membaca, sayangnya, kenyataan bahwa ada gadis cantik duduk disampingnya membuat Daniel tidak dapat berkonsentrasi. Detik berikutnya, ia membawa semua bukunya dan memindah posisi duduknya. Ia kini berada di samping gadis itu.
“Aku merasa beruntung.” Ucap Daniel ketika ia duduk di samping gadis pirang itu.
“Karena apa?”
“Karena aku tidak harus membaca sendiri malam ini.” Jawab Daniel. “Aku, dan tugas-tugas menyebalkan ini. Kau juga?”
“Ya.” Jawab gadis itu. “Tugas.”
“Oh! Namaku Daniel.” Ucap Daniel sambil mengulurkan tangannya. Gadis itu menjabat tangannya, terasa dingin, namun Daniel mengabaikannya. Mulut manis gadis itu mengucapkan satu nama yang akan selalu Daniel ingat.
“Rachel.”
Keadaan menjadi sedikit canggung saat keduanya saling diam dan mulai membaca buku yang ada di hadapan mereka. Jujur, Daniel merasa semakin tidak berkonsentrasi dengan bukunya. Ia ingin berbicara dengan gadis itu, tapi ia tidak tahu apa yang harus ia ucapkan.
Sesekali Daniel melirik ke arah gadis itu. Dan disaat yang bersamaan, gadis itu melirik ke arahnya. Perasaan canggung semakin menjadi-jadi. Daniel sadar bahwa ia harus segera mengucapkan sesuatu.
“Kenapa?” tanya Daniel beberapa detik kemudian. Rachel mengenyit, bingung dengan apa yang Daniel maksudkan.
“Maaf?”
“Maksudku…, kenapa kau berada disini malam-malam? Gadis sepertimu…, err….”
“Suasananya cukup tenang saat malam hari.” Jawab gadis itu. “Dan kau? Kau sepertinya bukan tipe orang yang suka dengan perpustakaan.”
“Ya.” Jawab Daniel. “Tapi kurasa…, ada baiknya membaca buku.”
Ketika Daniel merasa bahwa ia telah membuka sebuah celah untuk sebuah percakapan, maka tidak ada lagi yang dapat menghentikannya. Ia banyak bercerita mengenai kehidupan kampusnya, bertanya pada Rachel mengenai jalur perkuliahan yang ia ambil, dan hal-hal lain hingga mereka tak sadar bahwa kini keduanya telah melupakan buku yang seharunya mereka pelajari.
“Dingin.” Ucap gadis itu.
“Ya.” Timpal Daniel. “Cuaca memang sedang tidak bagus.”
Daniel merasa bahwa Rachel mungkin dapat menjadi teman baiknya. Detik berikutnya, ia bertanya kapan ia dapat menemui Rachel lagi.
“Aku selalu berada di tempat ini setiap malam.” Jawab gadis itu. “Kau bisa menemukanku disini.”
“Bagaimana dengan tempat lain?”
Gadis itu tidak menjawab. Tatapan kedua matanya lurus ke arah buku yang terbuka di hadapannya. Mungkin gadis itu tengah berkonsentrasi dengan buku yang ia baca. Daniel mencoba untuk tidak mengganggunya lagi.
Daniel sempat pergi meninggalkan gadis itu untuk mengambil buku lain yang berada di seberang ruangan. Wanita gemuk yang menjadi penjaga perpustakaan itu mengucapkan beberapa kata padanya.
“Hampir tutup. Sebaiknya kau segera pergi.”
“Baik.” Jawab Daniel.
Daniel kembali ke arah meja yang ia tinggalkan tadi. Dan anehnya, gadis itu telah menghilang dari pandangan. Gadis itu sudah pergi? Tapi Daniel tidak menyadari kepergian gadis itu.
Daniel mengabaikan keanehan yang ia rasakan. Mungkin Daniel hanya tidak sadar saat gadis itu keluar dari perpustakaan. Daniel mencoba untuk membaca kurang lebih dua puluh menit, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari perpustakaan. Dan ia berjanji dalam hatinya bahwa ia akan kembali besok malam. Mungkin ia akan bertemu dengan gadis itu lagi?

*

Mungkin terdengar sedikit gila. Namun Daniel kini lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan tua kampusnya itu. Sudah beberapa malam terakhir, Daniel selalu mengunjungi perpustakaan ini. Alasan utamanya adalah mengenai makalah yang sedang ia kerjakan. Yah…, paling tidak itu yang ia katakan pada teman-temannya. Alasan lain, tentu saja karena Rachel.
Daniel tidak pernah merasakan kedekatan seperti yang ia rasakan ketika ia sedang bersama dengan Rachel. Entah kenapa, hanya dalam hitungan hari Daniel dapat menjadi orang yang berbeda sepenuhnya. Ia yang biasanya selalu terlambat menyelesaikan tugas-tugasnya, kini selalu rajin mengerjakannya dan mendapatkan nilai bagus. Semua itu dikarenakan Rachel. Gadis itu mampu merubahnya dengan setiap kata-katanya.
“Ini impianku.” Ucap Rachel di suatu malam di perpustakaan, di tempat yang sama seperti malam-malam sebelumnya.
“Bisa bersekolah di tempat ini dan lulus, merupakan cita-citaku. Aku tidak akan membuang waktuku.”
Ucapan itu menyadarkan Daniel bahwa ia tidak bisa selamanya bersekolah di tempat itu. Ia harus berhasil dalam setiap pelajaran yang ia ikuti. Dan yang paling penting, ia harus lulus dari tempat itu.
Daniel kembali mengunjungi Rachel di malam-malam berikutnya. Daniel sebenarnya tidak suka jika ia harus terus berbincang dengan Rachel di perpustakaan, dan telah mengusulkan tempat lain. Tapi Rachel menolak dengan alasan yang tidak Daniel mengerti.
Malam itu, Rachel terlihat berbeda dari biasanya. Wajahnya yang biasanya merona merah dan cantik itu kini terlihat pucat dan tak bergairah. Dari sorot kedua mata zamrudnya, Daniel tahu bahwa gadis itu tengah menghadapi masalah.
“Aku ingin pulang.” Ucap Rachel.
“Kenapa?”
“Aku rindu dengan keluargaku.”
Daniel tidak begitu mengerti dengan apa yang Rachel bicarakan. Apakah Rachel tidak pernah pulang saat libur natal? Daniel sudah mencoba bertanya tentang hal itu, tapi Rachel tidak memberikan satupun penjelasan.
Daniel pergi tidur malam itu masih dengan sejuta pertanyaan mengenai Rachel. Gadis itu berubah. Awalnya gadis itu terlihat riang dan banyak berbicara, kini gadis itu hanya terdiam, dan kadang terlihat seperti ingin menangis. Daniel masih teringat ucapan terakhir Rachel malam itu. Dia berkata,
“Dingin.”
Daniel terabngun di tengah malam saat ponselnya berdering. Nama yang tertera di layar ponselnya adalah nama Rachel. Ya. Ia memang sudah memberikan nomornya apda gadis itu beberapa hari yang lalu. Daniel tidak mengerti kenapa gadis itu meneleponnya malam-malam. Dan gadis itu pun hanya mengucapkan satu kalimat sebelum menutup kembali sambungan telepon.
“Temui aku besok di belakang lapangan sepak bola.”
Daniel tidak mengerti. Dan ia tak habis pikir. Ia terus bertanya-tanya dalam hati, mengenai segala keanehan yang ditunjukkan oleh gadis itu. Keesokan harinya ia pun mengunungi tempat yang telah ditunjukkan oleh Rachel.
Bagian belakang lapangan sepak bola di kampus itu merupakan sebuah kawasan hutan kecil yang asri. Terdapat banyak pohon-pohon tua yang masih berdiri di tempat itu, tanpa ada tanda-tanda bahwa akan di tebang. Daniel menunggu di bawah naungan sebuah pohon besar. Tapi…, gadis yang ia tunggu tidak juga muncul.
Daniel sadar bahwa Rachel tidak pernah mengatakan jam berapa ia harus menemuinya. Daniel mencoba menunggu lebih lama, tapi gadis itu tak muncul juga.
Daniel kembali ke hutan kecil itu sore harinya. Di bawah siraman cahaya senja, Daniel mencoba untuk bersabar, dan menunggu kedatangan gadis bermata hijau itu. Ia ingin menemui Rachel. Karena Rachel kini menjadi seseorang yang cukup berarti baginya.
Pukul enam sore, saat matahari sudah mulai terbenam, Daniel masih berdiri di bawah naungan pohon. Tanpa ada tanda-tanda kedatangan gadis itu. Daniel berjalan berputar-putar, sedikit merasa kesal, namun tidak benar-benar marah. Kenapa gadis itu tidak juga datang?
Daniel mencoba menyepak beberapa tumpukan dedaunan kering dengan sepatunya. Hingga akhirnya ia merasa telah menedang sesuatu. Suatu benda yang rasanya cukup berat, dan terasa menyakitkan ketika ia menendangnya. Benda itu terletak di bawah tumpukan dedaunan kering. Daniel membungkukkan badannya, dan mencoba untuk menyingkirkan daun-daun kering. Hingga akhirnya ia melihat…
Daniel menjerit seketika saat melihat benda yang ada di depan kedua matanya. Benda putih kusam, berbentuk bulat, dengan rambut-rambut kering berada di permukaannya. Warna rambut itu terlihat sama persis dengan rambut yang selalu ia ingat dari Rachel. Benda itu adalah sebuah tengkorak.
Terdengar derap langkah kaki mendekat sesaat setelah Daniel menjerit. Seorang pria, yang Daniel kenal adalah salah satu pegawai di kampus itu, datang dan berhenti seketika ketika melihat benda yang berada di hadapan Daniel. Dengan satu helaan nafas pria itu itu berucap,
“Astaga!”

*

Daniel masih merasakan tubuhnya yang bergetar. Melihat ada tengkorak yang terkubur di bagian belakang sekolahnya memang benar-benar bukan hal yang ia harapkan. Yang lebih tidak ia harapkan lagi adalah cerita mengerikan dibalik hal itu.
“Rachel Summers.” Ucap seorang penjaga sekolah yang sudah bekerja cukup lama di kampus itu.
“Dia adalah seorang gadis yang dilaporkan menghilang sepuluh tahun yang lalu. Dan siapa sangka bahwa ia dikuburkan di belakang sekolah ini?”
Daniel tidak dapat menerima kenyataan itu. Rachel, sudah meninggal? Lalu, bagaimana dengan malam-malam yang sudah ia lewati bersama dengan gadis itu? Bahkan gadis itu sudah dapat merubah dirinya.
Daniel tahu, setelah mendengar cerita lengkap dari sang penjaga sekolah, bahwa Rachel adalah seorang gadis yang sering mendapatkan bullying dari para seniornya. Dia gadis yang pintar. Namun karena hal itulah ia sering menjadi bulan-bulanan para senior. Dan seperti ulah para senior itu sudah keterlaluan, dan sebagai akibatnya, Rachel harus kehilangan nyawanya. Jenazahnya dikuburkan dibagian belakang sekolah. Tidak ada yang pernah tahu, hingga Daniel menemukannya.
Polisi dan keluarga Rachel datang beberapa jam setelah penemuan kerangkanya. Daniel mendapatkan berbagai macam pertanyaan, yang sama sekali tidak mengenakkan bagi Daniel. Barulah beberapa jam kemudian, Daniel dapat kembali ke kamarnya.
Daniel duduk di dalam kamarnya yang gelap, termenung, dan masih tidak memeprcayai apa yang baru saja terjadi. Ia yang melamun terkagetkan oleh dering ponselnya. Ada satu pesan masuk ke dalam ponselnya. Daniel meraih ponselnya itu, dan lagi-lagi harus melonjak.
Rachel. Gadis itu mengirimkan satu pesan kepada Daniel yang berbunyi,
“Terima kasih, Daniel.”

***