Thursday, March 9, 2017

VALENTINE BERDARAH



Rhonda membuka-buka kembali halaman majalah fashion yang ada di tangannya. Kedua matanya bergerak cepat meneliti katalog baju yang dijual di awal bulan Februari, yang akan cocok digunakan untuk kencan atau sekedar makan malam di hari Valentine.
Rhonda memang sudah terobsesi dengan yang namanya hari Valentine sejak ia masuk ke sma. Setiap tahun, ia selalu menyiapkan dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya di hari yang spesial itu. Dan bukan untuknya saja. Tentu saja untuk teman kencannya juga. Namun ada satu hobi jelek dari Rhonda yang sudah terkenal di smanya, bahkan di kalangan teman-teman terdekatnya. Ia selalu bergonta-ganti pasangan setiap tahunnya, dan tidak mau menambatkan hatinya pada seorang pria lebih dari dua bulan.
Hal itulah yang kadang menjadi pokok pembicaraan di kalangan teman-temannya. Teman-temannya selalu menasehatinya agar ia mau sedikitnya menghargai sebuah hubungan cinta. Namun bagi Rhonda, perjalanan cintanya adalah seperti sebuah petualangan, yang harus berganti setiap waktunya agar ia tidak bosan.
“Serius.” Ucap Dana teman sekelasnya. “Suatu saat kau akan menyesal bergonta-ganti pasangan seperti ini, Rhonda. Apa kau tidak punya perasaan terhadap lelaki-lelaki yang kau tinggalkan itu?”
“Oh, Dana! Kumohon!” balas Rhonda sambil memutar matanya. “Jangan menguliahiku saat ini. Aku sedang sibuk, kau tidak lihat?”
Rhonda sibuk membalasa pesan-pesan yang masuk dari salahs eorang pria yang baru saja ia kenal. Dan sejak beberapa minggu terakhir, ia memang sedang terobsesi dengan segala sesuatunya mengenai pria itu.
“Siapa lagi yang akan kau kencani saat ini?” tanya Dana. “Kurasa kau sudah mengencani setiap cowok keren di sekolah ini.”
“Ada kenalan baru.” Jawab Rhonda sambil tersenyum, namun dengan kedua mata terus teraku pada ponselnya. “Seorang pria dewasa yang sepertinya akan menjadi pria terbaik untuk hari Valentine.”
“Pria? Dimana kau mengenalnya?”
“Apa itu penting?” balas Rhonda, sekali lagi memutar matanya. “Yang terpenting adalah, dia peduli padaku dan sepertinya akan menjadi teman kencan yang baik.”
“Dan kau juga akan memutusnya setelah dua bulan berlalu?”
Rhonda sedikit ragu dengan hal itu. Ya. Biasanya ia hanya akan mencampakkan begitu saja lelaki yang sudah ia kencani. Namun dengan pria yang baru ia kenal itu, ia merasa benar-benar menyambung. Ada satu sisi dari cara bicara pria itu yang membuatnya merasa begitu nyaman dan aman. Berbeda dengan lelaki seumurannya yang lebih suka bermain-main. Pria itu terlihat lebih serius.
“Ingat, kau harus bertahti-hati!” ucap Dana memperingatkan. “Mungkin dia bukan pria baik-baik.”
Rhonda kembali memutar matanya. Ia kesal saat Dana terus menceramahinya seolah ia seperti seorang gadis kecil. Rhonda tahu apa yang ia lakukan, dan Dana sepertinya ahrus tutup mulut. Hubungan percintaannya dengan seseorang adalah urusan pribadinya. Dan ia tidak mau diganggu.
Sepulang sekolah, yang Rhonda lakukan hanyalah terus mengirim pesan kepada pria yang baru saja ia kenal itu. Sesekali ia melakukan pembicaraan di telepon, namun yang lebih sering adalah melakukan chatting via IM. Jika sudah melakukan chat dengan pria itu, Rhonda lupa dengan segalanya. Ia sudah berada di tahun terakhir Sma, dan seharusnya mulai belajar mempersiapkan ujian finalnya. Namun apa yang ia lakukan justru sebaliknya. Ia seolah tidak peduli lagi pada sekolahnya.
“Rhonda, kau baik-baik saja?” tanya ayahnya saat makan malam. Ayah Rhonda pun khawatir dengan putrinya yang jarang berbicara dan terus memegang ponsel di tangannya.
“Letakkan ponsel itu dan makan!” ucap ibunya dengan tegas. Namun Rhonda adalah satu-satunya anak dari keluarga itu. Ia sudah sering dimanja dan ucapan ibunya sama sekali tidak berarti.
“Ini urusan penting, ibu!” ucap Rhonda. “Tidak bisa aku tinggalkan sedikitpun.”
“Kau, dan pacar barumu itu?” ucap ibunya. “Temanmu Dana mengatakan kau mulai mengencani pria tak dikenal. Apa itu betul?”
“Apa?!” Rhonda tidak menyangka bahwa teman sekelasnya itu akan mengadukannya pada ibunya. Seketika, Rhonda merasa sedikit kesal dengan temannya itu.
“Tidak.” Ucap Rhonda sedetik kemudian. Namun ayahnya sepertinya sudah sadar bahwa ia mulai mengencani pria yang tidak jelas.
“Sudah berapa kali kukatakan padamu, Rhonda, sayang?” ucap ayahnya. “Hati-hati dalam memilih lelaki yang akan kau kencani. Dan apa yang selalu kudengar berbanding terbalik dengan apa yang selalu kukatakan padamu. Kau sering mengencani pria dan mencampakkan mereka begitu saja.”
“Aku tidak perlu nasehat soal kencan, ayah!” ucap Rhonda sedikit kesal. Ia seketika bangkit dari kursi dan bergerak kembali ke arah kamarnya. Sama sekali tidak menghiraukan teriakan ayah dan ibunya.
Kenapa setiap orang selalu mencoba mengganggunya? Itu yang Rhonda pertanyakan di dalam kepalanya. Satu-satunya cara untuk meleakan perasaan kesalnya, hanyalah dengan cara terus berhubungan dengan pria itu.
Nama pria itu Peter. Seorang pria dewasa yang katanya bekerja sebagai seorang detektif swasta. Rhonda begitu girang ketika pria itu mau menerima tawaran pertemanannya dari media sosial. Siapa kira ia bisa berkenalan dan kini berhubungan dengan pria sekeren itu? Teman-temannya pasti akan iri dengannya.
“Aku tidak sabar untuk segera bertemu.” Ucap pria itu di IM yang baru saja ia kirimkan pada Rhonda. Dan Rhonda membalasnya cepat.
“Bagaimana jika Sabtu besok?” dan jawaban dari pria itu membuat Rhonda melonjak-lonjak di dalam kamarnya.
“Yes!” seru Rhonda saat Peter menyetujui ajaknnya. Kencan Sabtu besok mungkin akan menjadi kencan latihan untuk hari Valentina yang tinggal satu minggu lagi. Rhonda benar-benar tidak sabar.

**

Hari Sabtu yang ia tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Rhonda bahkan tidak berkonsentrasi dengan pelajaran yang ia terima hari itu, sebab ia selalu sibuk dengan ponsel dan IM-nya. Peter, terus berbicara dengannya mengenai rencana malam nanti.
“Ayolah, Rhonda!” ucap Dana saat istirahat siang. “Pria itu sepertinya mencurigakan. Kau tidak bisa…”
“Kau hanya iri denganku, ‘kan, Dana?” potong Rhonda cepat. Ia sedikit kesal dengan temannya itu.
“Aku mengatakan sejujurnya.” Ucap Dana. “Aku peduli padamu, dan tidak ingin kau jatuh dalam masalah.”
“Tidak akan ada masalah.” Ucap Rhonda. “Peter sepertinya pria baik-baik.”
Rhonda begitu yakin dengan perasaannya. Sepulang sekolah hari itu, ia langsung mengarah ke kloset pakaiannya dan mulai memilih baju yang cocok yang akan ia gunakan untuk kencan malam nanti. Seolah ia akan bertemu denga presiden, ia menyibukkan dirinya. Ia bahkan tidak makan siang.
“Mau kemana kau, Rhonda?” tanya ibunya malam itu saat Rhonda keluar dari kamar, sudah berdandan dengan rapi.
“Ada kencan dengan seseorang.” Jawab Rhonda. “Dengan pria yang kuceritakan waktu itu.”
“Kau serius?” balas ibunya. “Kau harus berhati-hati dengan…”
“Ibu! Aku tahu!” Rhonda mendesah. “Tidak akan ada apa-apa denganku. Jangan khawatir!”
“Dia akan menjemputmu disini?”
“Tidak.” Jawab Rhonda. “Aku akan menemuinya di kedai terdekat. Mungkin kami akan makan disana.”
“Tapi, Rhonda…”
Rhonda tidak mau mendengar apapun dari mulut ibunya. Seketika, ia melangakahkan kakinya dan pergi dari rumah. Membuat ibu dan ayahnya heran dengan sikap tak acuhnya itu.
Restoran tempat Rhonda bertemu dengan Peter sebenarnya terletak tak jauh dari kawasan perumahan. Dan Rhonda, yang sudah bersiap diri sejak beberapa jam yang lalu, mulai merasa gugup ketika ia akan bertemu dengan kencannya itu untuk yang pertama kali. Ya. Rhonda belum pernah bertemu langsung dengan lelaki itu kecuali lewat video call.
Rhonda menunggu dengan sabar di sebuah meja. Hingga akhirnya, pria yang ia tunggu-tunggu itu datang. Seorang pria yang terlihat begitu menawan dalam balutan blazer hitam yang menutupi t-shirt putihnya. Senyum dari pria itulah yang membuat Rhonda lupa akan segalanya.
Keduanya melakukan banyak hal malam itu. Rhonda mendapatkan pengalaman yang luar biasa dengan Peter. Tidak sama dengan para lelaki yang sudah ia kencani selama ini, Peter tentu saja lebih dewasa dan juga pengertian. Untuk sesaat, Rhonda berpikiran mungkin ia akan menetapkan Peter sebagai kekasihnya.
Kegiatannya dengan Peter tidak hanya malam itu saja. Semenjak malam itu, Peter selalu menjemputnya sepulang sekolah dan mengajaknya ke berbagai tempat di kota. Makan, menonton film dan sebagainya. Bahkan keduanya sempat berbelanja. Rhonda bahkan tidak sadar ia sudah menghabiskan uang tabungannya dalam sehari.
“Bagaimana jika bertemu dengan teman-temanku?” tanya Rhonda di akhir kencan suatu hari. Mobil yang ia tumpangi berhenti beberapa rumah dari rumahnya. Entah kenapa Peter tidak mau memarkir mobilnya tepat di depan rumah Rhonda.
“Maaf, Rhonda!” ucap Peter. “Mungkin lain kali.”
Kenyataan bahwa Peter tidak mau bertemu dengan satupun teman Rhonda membuat teman Rhonda, Dana, sedikit curiga.
“Aku kini benar-benar khawatir padamu, Rhonda.” Ucap Dana. “Pria itu sepertinya buka pria baik-baik. Kenapa ia tidak mau bertemu dengan kami, teman-temanmu? Dan katamu dia selalu memakai slayer yang terus menutupi wajahnya?”
“Peter orang yang baik.”
“Bagaimana kau tahu?” tanya Dana cepat. “Rhonda, dia…”
“Bisakah kau diam, Dana?” sentak Rhonda kesal. “Aku tidak peduli apa katamu soal Peter. Peter begitu sempurna di mataku, dan tidak akan ada apapun yang terjadi. Kami akan baik-baik saja.”
Mulai saat itu, Dana mencoba untuk tidak mengungkit lagi mengenai Peter ataupun kencan dan Rhonda lakukan. Dan tanpa sadar, hari Valentine sudah tiba. Di sekolah Rhonda tindak henti-hentinya melakukan chat dengan Peter, berbicara mengenai acara untuk malam nanti.
“Aku sudah tidak sabar.” Tulis Rhonda. “Tunggu aku!”
Seperti biasa, Rhonda harus berjalan sedikit jauh dari rumahnya untuk bertemu dengan Peter. Ia masih tidak tahu kenapa Peter tidak mau menjemputnya di depan rumah.
“Malam Valentine.” Gumam Rhonda sambil terkikik saat masuk ke dalam kabin mobil Peter. Peter, seperti biasa, terlihat aneh dengan syal yang terus menutupi lehernya itu.
“Aku akan membawamu ke tempat spesial, Rhonda. Malam ini.”
Rhonda begitu bersemangat dengan kencan malam itu, dan ia lupa segalanya. Sambil duduk di bangku penumpang, ia dengan santai meminum sekaleng kopi yang diberikan oleh Peter. Namun hal yang tidak iaduga terjadi beberapa saat kemudian.
Ia mulai merasa begitu pening dan merasakan kepalanya berat. Karena apa? Apakah ia mabuk perjalanan? Bukan. Rhonda tidak pernah memiliki masalah soal itu. Tapi…, jantungnya tiba-tiba saja berdebar tanpa sebab yang jelas, dan rasanya begitu nyeri. Rhonda seolah nyaris kehabisan nafas.
“Peter, aku…” Rhonda tidak dapat berkata-kata. Ia rasakan seluruh otot di tubuhnya melemas, dan ia tidak memiliki kekuatan untuk berbicara lagi. Dan tanpa ia sadari, kepalanya terkulai, dan ia jatuh pingsan. Hanya satu kaliman terakhir dari Peter yang ia dengar.
“Kau akan baik-baik saja.”

**

Rhonda tersadar. Namun kedua matanya masih terpejam. Satu hal yang ia sadari, ia sudah tidak ada di dalam mobil. Ketika ia mencoba membuka keuda matanya, cahaya terang dari sebuah lampu gantung menusuk matanya. Rhonda mengerang, masih merasakan tubuhnya begitu lemas. Dan ia menjadi sedikit panik saat ia sadari bahwa…
Ia terikat pada sebuah kursi!
Rhonda meronta, mencoba melepaskan diri namun usahanya itu sia-sia. Kenapa? Kenapa ia terikat di kursi? Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Dan dimana Peter?
Rhonda melihat ke seisi ruangan dimana ia berada. Dan baru sekilas lihat saja, ia rasanya mau muntah. Ruangan itu dipenuhi dengan berbagai maca perkakas tajam yang terlihat ternodai oleh cairan merah kehitaman. Apa itu? Darah?
Jantung Rhonda berdebar seketika. Apakah ia baru saja diculik dan kini disekap? Oleh siapa?
Jawabannya hanya ada satu.
Peter bergerak perlahan masuk ke dalam ruangan itu dengan satu seringai di wajahnya. Kesan tampan dan berwibawa dari pria itu sama sekali hilang. Dan Rhonda, mulai merasakan ketakutan yang tidak biasa.
“Peter!”
“Senang kau sudah sadar, Rhonda.” Ucap Peter. “Mungkin kini kau berpikir, kau seharusnya mendengarkan nasehat temanmu?”
“Peter, apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!”
“Hmm…., belum saatnya.”
“Apa?! Apa yang akan kau lakukan padaku?”
Peter terkekeh melihat wajah ketakutan Rhonda. Ia berkuasa sepenuhnya atas Rhonda. Dan Rhonda benar-benar putus asa.
“Peter, kumohon!” teriak Rhonda dengan air mata mulai mengalir dari matanya.
“Kau tahu apa kesalahan besarmu, Rhonda?” tanya Peter. “Kau mungkin tidak menyadarinya. Atau mungkin, kau tahu, namun kau mengabaikan perasaanmu?”
“Apa yang kau bicarakan? Lepaskan aku!”
“Lelaki yang selalu kau campakkan.” Ucap Peter. “Kau tahu bagaimana rasanya dicampakkan begitu saja, setelah segala hal yang mereka lakukan untukmu?”
“Peter, kumohon! Aku benar menyesal dengan hal itu! Aku…”
“Sepertinya sudah terlambat untuk meminta maaf, ‘kan?” balas Peter sambil menyeringai. Rhonda menjerit saat pria itu mulai meraih sebuah belati dari tumpukan perkakas, dan bergerak mendekati Rhonda.
“Selamat, Rhonda!” ucap Peter. “Ini menjadi malam Valentine terakhirmu.”

**

Kota kecil itu digegerkan oleh sebuah berita yang menjadi headlina surat kabar hari itu. Seorang wanita muda ditemukan tewas di sebuah gudang bekas di batas luar kota. Seorang wanita, yang tewas dengan luka irisan di lehernya. Dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengidentifikasi mayat. Wanita itu, adalah Rhonda Nelson, 17 tahun, warga dari kota kecil itu.
Polisi menyimpulkan bahwa apa yang terjadi pada Rhonda bukan merupakan hal baru. Semenjak setahun terakhir, ada pembunuh berantai yang berkeliaran di sekitar kota-kota kecil. Modus operandinya adalah menculi gadis-gadis muda dan membunuh mereka dengan cara yang sama pembunuh itu membunuh Rhonda. Rhonda mungkin bukan korban terakhir. Mungkin masih akan ada lagi pembunuhan serupa berikutnya. Dan sudah menjadi tugas kepolisian, untuk segera mengungkap pelaku dibalik serentetan pembunuhan sadis itu.
Kabar duka itu tentu saja menyebar ke setiap tempat, tak terkecuali sma dimana Rhonda dulunya bersekolah. Dana tidak dapat menahan tangisnya ketika mendengar berita ini. Dan ia benar-benar merasa bersalah, karena ia tidak bisa menghentikan temannya itu dari kencan misterius itu.
“Jika saja dia mau mendengarku…” ucap Dana.
Pria yang kini menjadi buronan itu tersenyum senang saat melihat mobil-mobil patroli polisi berkeliaran di jalanan kota. Aksinya telah membuat keonaran yang cukup besar. Namun ia masih belum mau berhenti.
Ia menunduk, memaku pandangannya pada ponselnya. Ada seorang gadis yang berusaha untuk mendekatinya.
“Alice.” Gumam pria itu. “Kurasa akan lebih menyenangkan dari Rhonda.”
Pria itu terkekeh. Aksi brutalnya ini ia lakukan karena dendam pada seorang wanita yang dulu juga pernah mencampakkannya. Kini, targetnya adalah gadis-gadis nakal yang suka bergonta-ganti pasangan, dan gadis yang terlalu terbuka seperti Rhonda. Alice, mungkin memiliki sifat yang sama dengan Rhonda. Dan pria itu merasa begitu senang, akhirnya ia bisa mendapatkan mangsa baru. Ia kemudian dengan cepat membalas IM dari Alice, yang bunyinya,
“Tunggu aku, Alice! Aku akan datang menjemputmu.”

****

Wednesday, March 1, 2017

BEHIND THE CLOSED DOOR



John masih tidak menyukai ide istrinya untuk pindah ke rumah baru itu. Rumah baru yang baru dilihat saja sudah menimbulkan kesan yang aneh dan misterius. Rumah itu adalah sebuah rumah bergaya kuno yang terletak di ujung Whisper Street, Blackwood. Mendengar kata Blackwood saja John sudah bergidik ngeri, karena kota tua itu sudah terkenal dengan hal-hal spiritualnya. Namun apa yang dapat ia perbuat? Pekerjaan istrinyalah yang membuatnya harus rela masuk ke dalam rumah yang mungkin sudah berusia ratusan tahun itu.
Halaman depan rumah tua itu terlihat begitu rapi meski sudah tidak ditinggali sejak lama. Mungkin ada yang merawat taman secara berkala. Sekilas pandang, rumah itu memang terlihat menyenangkan. Teras yang bersih, jendela-jendela tinggi yang ditupi dengan tirai putih, dan keadaan rumahnya pun masih cukup bagus meski sudah berusia tua. Namun hanya ada satu hal yang sejak ia pindha ke rumah itu selalu mengganggu pikiran John. Yaitu ada sebuah pohon besar yang terletak di samping rumah. Pohon yang mungkin berusia lebih lama dari pada rumah itu terlihat mengerikan dengan rimbunnya dedauan pohon itu. Beberapa cabang dan rantingnya terlihat hitam legam, dan memberikan kesan yang tidak menyenangkan.
“Apa yang kau takutkan? Kita akan baik-baik saja.” Ucap Jenna, istri John, yang bekerja sebagai seorang jurnalis sebuah surat kabar.
“Kenapa harus kota ini? Kenapa harus Blackwood?” tanya John sedikit kesal dengan tingkah istrinya yang seenaknya itu. Ia jarang sekali bertengkar dengan Jenna. Dan ketika mereka bertengkar, keadaannya akan jadi begitu kacau. Karena itulah John segera menutup mulutnya saat melihat tatapan mata tajam dari istrinya itu.
“Kita lebih dekat dengan Arcadia, ‘kan?” ucap Jenna. “Hanya beberapa kilo dari kota ini. Dengan mobil, mungkin hanya akan memakan waktu setengah jam.”
“Tetap saja hal itu tidak menjawab pertanyaanku tadi.” Ucap John. “Pekerjaanmu di Arcadia. Kenapa kita tidak mencari rumah disana saja?”
Jenna memberikan tatapan tajamnya lagi pada John. John sadar, mungkin ia sudah kelewatan dengan ucapannya. Namun sepertinya Jenna mengurungkan niatnya untuk marah.
“Kita tidak punya cukup uang saat ini untuk membeli, bahkan menyewa apartemen di Arcadia. Tapi rumah ini, rumah ini dijual dengan harga yang murah. Dan siapa sangka masih dalam kondisi yang bagus seperti ini?”
John tidak mengucapkan apapun setelah itu. Ia tidak mau bertengkar hanya karena masalh rumah itu. John mencoba masuk ke dalam rumah dan memeriksa setiap ruangan begitu ia sampai di rumah itu. Memang keadaannya masih bagus. Dan beberapa furnitur dari pemilik rumah yang lama masih ditinggal di tempat itu.
John berhenti tepat di depan sebuah jam besar yang ada di ruang tengah. Penduluk di jam besar itu terlihat bergerak perlahan, dengan ritme yang teratur.
“Kita mendapat banyak barang baru.” Ucap Jenna sambil melepas tawanya. “Lihat apa yang kutemukan di loteng!”
Jenna mengangkat sebuah musik box tua dan sebuah cermin tangan yang penuh dengan ukiran. Memang dapat dikatakan sebagai barang yang antik. Jenna membuka boks musik itu, dan sebuah patung balerina menari saat tutupnya terbuka. Suara dari musik box itu masih terdengar begitu tajam dan sempurna.
“Lalu kaca itu?” tanya John. Ia ulurkan tangannya dan meraih cermin tangan itu dari tangan Jenna. John melihat refleksi wajahnya sendiri di cermin itu. Tidak ada yang aneh, tapi…
John memutar kepalanya seketika, memeriksa keadaan di belakangnya. Aksinya yang spontan ini tentu saja mengejutkan Jenna yang tepat berdiri di depannya.
“Kenapa denganmu?” tanya Jenna.
John tidak tahu harus bagaimana untuk menjelaskannya. Di pantulan cermin yang tadi ia lihat, ia seperti melihat gumpalan asap hitam di belakang punggungnya. Namun ketika ia periksa, tidak apa-apa disana. Semuanya masih terlihat begitu normal. John melirik lagi pada cermin yang ia pegang, dan gumpalan asap hitam itu menghilang. Apakah benar ia melihatnya? Atau mungkin hanya halusinasinya saja? Mungkin akrena ia sudah terlalu lelah setelah perjalanan panjang dari utara menuju kota kecil itu.
“Kau bertingkah aneh, sayang.” Ucap Jenna. “Kenapa kau tidak periksa kamar tidur kita di atas?”
John menuruti apa kata istrinya. Ia menaiki tangga menuju lantai dua, dan ebrakhir di ujung sebuah koridor sempit yang terlihat remang, karena tidak ada jendela di sekitar tempat itu. Meski hari masih siang, namun koridor itu terlihat begitu menekan hatinya. John merasakan aura yang negatif, entah bagaimana untuk menjelaskannya.
Kamar tidur utamanya terlihat luar biasa. Terdapat sebuah tempat tidur besar dengan seprai putih terletak di tengah ruangan. Di ujung ruangan, terdapat kamar mandi, dan juga sebuah kloset untuk menyimpan pakaian. John mengarah ke jendela kamar itu, dan baru menyadari kemudian bahwa kamar itu terletak tepat di samping pohon besar yang ada di halaman samping. John bahkan dapat meraih salah satu cabang pohon itu dari tempatnya berdiri.
BRAK!
John memutar tubuhnya seketika saat suara keras itu terdengar. Ia memandang ke arah pintu kamar yang masih terbuka, namun tidak ada siapapun disana.
“Jenna?” panggilnya. “Kau disana?”
Tidak ada jawaban. Mungkin Jenna masih ada di lantai bawah. Lalu suara apa tadi? Sebuah suara hantaman keras, seperti sebuah benda mengenai permukaan kayu atau lantai. John kembali ke arah koridor, namun tidak menemukan apapun.
John memeriksa kamar lain yang ada di lantai dua itu. Yang ternyata hampir sama dengan kamar tidurnya. Namun ada satu kamar di ujung koridor yang tidak bisa ia buka. Pintunya terkunci, dan John tidak memiliki kuncinya.
“Ada berapa kunci yang ditinggalkan untuk kita?” tanya John begitu ia kembali turun ke dapur.
“Hanya dua.” Jawab Jenna. “Satu untuk pintu depan, dan satu untuk pintu belakang.”
“Bagaimana dengan pintu kamar?”
“Kuncinya pakai gerendel dari dalam, ‘kan?” ucap Jenna. “Kita tidak perlu mengunci kamar.”
“Tapi kamar di ujung koridor itu…” ucap John. “Aku tidak bisa membukanya. Dan aku penasaran dengan apa yang ada di dalam.”
“Mungkin hanya ruangan kosong, dan sang pemilik lama memutuskan untuk menyegelnya tertutup, mungkin?”
Masuk akal. Namun entah kenapa John merasa bahwa ada satu hal besar di balik pintu kamar yang tidak dapat dibuka itu. Sesuatu, yang mengatakan bahwa ada misteri yang harus ia ungkap. Namun untuk tidak untuk saat ini. Ia merasa terlalu lelah.
Malam itu John dapat tidur dengan cepat karena rasa lelah yang ia rasakan. Pukul sepuluh malam, ia sudah melingkar diatas tempat tidur dengan istrinya, diam di bawah selimut hangat. Keadaan kamar saat itu gelap, namun masih ada cahaya bulan yang masuk dari kisi-kisi jendela.
John nyaris bermimpi, saat tiba-tiba ia membuka kedua matanya dengan cepat.
BRAK!
Suara itu! Suara itu terdengar lagi. John bangkit ke posisi duduk, mencoba untuk mendengarkan lagi suara benturan itu. Yang sepertinya berasal dari arah koridor, namun John tidak menemukan apapun saat memeriksanya.
John mencoba untuk melupakan apa yang terjadi. Ia mencoba menganggap bahwa suara itu hanyalah suara normal dari sebuah rumah tua. Tapi beberapa jam kemudian, John kembali dikejutkan dari tidurnya. Kedua matanya terbuka cepat, saat telinganya mendengar dengan sama sebuah suara anak kecil yang tertawa.
Apa?
Ya. John yakin dengan apa yang ia dengar. Ia tidak bermimpi. Suara hantaman aneh itu, dan kini suara anak kecil yang tertawa? Tapi tidak ada anak kecil di dalam rumah itu.
John merasa bahwa misteri mengenai dua suara itu berasal dari kamar yang tertutup itu. John kini begitu penasaran dengan kamar itu. Ia harus membukanya, dan menemukan jawaban. Tapi…, apakah ia memang benar-benar perlu melakukannya?
“Ada apa, John?” tanya Jenna yang ikut bangun. John hanya melepas senyum dan menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau membuat istrinya itu terlalu khawatir.
“Tidak apa-apa.” Ucapnya berbohong. “Kembalilah tidur!”
Keesokan harinya, John kembali memeriksa kamar yang berada di ujung koridor itu. Ia mencoba memutar kenop pintunya yang sepertinya macet dan tidak mau berputar. Ia mencoba menendang pintu itu, namun kekuatannya tidak sanggup untuk menjebol pintu yang seolah dipatri dari dalam. John merasa begitu penasaran dengan apa yang ia dengar semalam. Apakah ia hanya berhalusinasi? Rasanya aneh. John dapat mendengar tawa anak kecil itu dengan begitu jelas.
John mendesah saat ia gagal membuka pintu itu. Namun baru beberapa langkah ia berjalan menjauhi kamar itu, suara keras itu terdengar lagi.
BRAK! BRAK!
Dua kali. John seketika memutar tubuhnya, dan kini dapat memastikan bahwa suara itu memang berasal dari kamar yang tertutup itu. Rasa penasaran John semakin besar. Ia bergerak kembali ke arah depan pintu kamar itu, lalu sekali lagi memberikan tendangan panda pintunya. Namun pintu itu sekuat baja. Tidak bergeming sedikitpun.
John kemudian merunduk, menempelkan wajahnya pada lantai. Mungkin ia dapat mengintip dari celah bawah pintu? Tapi…, tidak. Celahnya terlalu rapat, dan ia sama sekali tidak dapat melihat bagian dalam ruangan.
Hari masih siang. Namun entah kenapa John seketika merasakan hawa dingin menyentuh bagian belakang kepalanya. Ia bergidik ngeri membayangkan apa yang mungkin ada di dalam kamar misterius itu. Kenapa penjual rumah tidak pernah mengatakan apapun soal ruangan yang tertutup itu?
“Kau berpikiran terlalu jauh, sayang.” Ucap Jenna sore harinya saat John mengatakan apa yang sebenarnya ia dengar semalam dan juga siang tadi. Jenna sepertinya masih tidak percaya dengan ceritanya.
“Ini rumah tua.” Ucapnya lagi. “Tidak aneh jika terdengar suara-suara misterius dari rumah yang mungkin sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu.”
“Itu yang membuatku cemas.” Ucap John. “Ada terlalu banyak misteri dari rumah tua ini.”
Saat malam tiba, keadaan menjadi semakin mencekam. John sebisa mungkin menghindari koridor lantai dua karena koridor itu terlihat begitu gelap saat malam, meski ada lampu yang meneranginya. Ia memilih untuk duduk di ruang tengah sambil menonton tv. Untuk sesaat, acara di tv dapat menghilangkah perasaan aneh yang selalu ia rasakan sejak ia pindah ke rumah itu. Namun tiba-tiba…
“AAHHHH!!!”
John seketika bangkit dari sofa yang ia duduki saat mendnegar teriakan istrinya itu. Istrinya berada di kamar. John dengan cepat berlari menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamar, dan mendapati istrinya berdiri terpaku di depan meja rias dengan wajah pucat.
“Ada apa, Jenna? Kau baik-baik saja?” tanya John cepat. Jenna memutar wajahnya ke arah John. Dan dari raut wajah yang Jenna tunjukkan, John tahu bahwa ada yang tidak beres.
“Seseorang!” ucap Jenna dengan tangan gemetar. “Seseorang mengawasiku!”
“Apa?”
Ucapan Jenna benar-benar tidak masuk akal. Apa maksud dari ucapan itu? Bagaimana mungkin ada yang mengawasi saat jendela kaamr tertutup dengan rapat dan bertirai?
“Dari cermin!” ucap Jenna masih dengan nada gemetar. “Aku melihat ada yang mengawasiku dari pantulan cermin!”
John seketika mendaratkan matanya pada cermin tangan berukir yang Jenna perlihatkan kemarin. Ya. John saat itu pun melihat pantulan aneh saat melihat ke dalam cermin. Ia seperti melihat ada gumpalan asap hitam di belakangnya. Dan kini Jenna mengatakan ia melihat bayangan seseorang dari cermin itu?
John meraih cermin tangan itu. Ia lihat permukaannya, namun yang terlihat hanyalah pantulan dari wajahnya. Kenapa sebenarnya dengan cermin itu? Apakah cermin itu memiliki sebuah kekuatan yang tidak ia ketahui?
Seketika, satu teori muncul di dalam kepala John mengenai cermin antik itu. Mungkin cermin itu bukanlah cermin biasa. Mungkin cermin itu dapat menunjukkan apa yang tidak dapat dilihat oleh mata?
John mengangakat kembali cermin itu dan dengan instingnya, mengarahkan permukaan cermin ke arah pintu kamar. Dan seketika ia lihat, meski sulit untuk mempercayainya, ada gumpalan asap aneh lagi yang kini terlihat berada di ambang pintu, dari pantulan cermin. John menoleh ke arah pintu, namun tentu saja matanya tidak dapat melihat. Dan ia hanya dapat melihat dari pantulan cermin itu. Saat ia kembalikan kedua matanya pada cermin, jantung John serasa melompat.
“OH! SIALAN!”
Sesosok bocah terlihat berdiri di depan pintu dari bayangan cermin. John secara spontan memutar tubuhnya, mengarahkan matanya ke arah pintu. Namun tentu saja ia tidak dapat melihat apapun. Namun…
“DUK! DUK! DUK!
John dan Jenna sama-sama dapat mendengar suara itu. Seperti suara langkah kaki yang berlari menyusuri koridor. Dan sedetik kemudian…
BRAK!
Suara itu lagi!
John seketika sadar bahwa suara hantaman di permukaan kayu itu muntkin bukanlah hantaman biasa. Kini ia baru sadar bahwa suaranya mirip seperti sebuah pintu yang ditutup dengan keras. Pintu kamar yang tertutup itu?
“JOHN!”
John bergerak cepat keluar dari ruangan diikuti oleh Jenna. Langkah kaki pria itu langsung mengarah pada ruangan bermasalah itu, dan ia melihat apa yang seharusnya tidak ada disana.
Ia melihat cahaya dari bagian bawah celah pintu. Mustahil, ‘kan? Seharusnya ruangan itu tidak berpenghuni. Namun ketika John bergerak mendekat, cahaya itu menghilang seketika. Seolah penunggu di dalamnya dengan cepat mematikan lampu.
“Disini!” ucap John dengan nafas cepat sambil menunjuk ruangan yang tertutup itu. “Sudah kukatakan ada yang tidak beres dengan ruangan ini, Jenna. Apa yang kau lihat di cermin…”
“Oh, John! Kau membuatku takut!”
“Kita akan segera tahu.”
John dengan kekuatan yang sudah ia kumpulkan mulai melepaskan tendangan ke arah kenop pintu ruangan itu. Suara hantaman tentu saja terdengar dengan begitu keras. Pintu itu terlihat sedikit bergetar saat mendapat tendangan dari kaki John.
“Sekali lagi!”
John melakukan tendangan lagi, dan tidak ia sangka, bahkan kemudian pintu akan…
BRAK!
Terbuka lebar. Pintu itu menjeblak terbuka oleh tendangan terakhir dari John. Dan apa yang dapat ia lihat di dalam ruangan itu benarr-benar membuatnya serasa ingin muntah.
Noda hitam legam terlihat memenuhi ruangan yang acak-acakan itu. Kasurnya terlihat terkoyak, dan setiap barang yang ada di dalam ruangan itu terlihat berceceran di segala tempat. Namun noda hitam itu, memnuhi setiap senti dari ruangan itu. Noda cipratan…, darah?
BRAK! BRAK! BRAK!
Suara keras itu terdengar dengan begitu jelas, dan disaat bersamaan, lampu rumah tiba-tiba saja meredup dan padam. Jenna berteriak, dan memegang lengan John dengan erat. John berteriak, namun suaranya tertutupi oleh sebuah suara desir angin keras yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
“Jenna, kita harus keluar!” teriaknya. Di dalam kegelapan total, John meraba ke arah dinding koridor, mencoba untuk mengarah ke tangga. Namun disela-sela usahanya itu, ia kemudian mendengar sebuah suara bocah lelaki tepat di telinganya.
“Kalian tidak seharusnya disini.”
John melangkahkan kakinya dengan cepat. Satu hal yang tidak ia kira terjadi beberapa detik kemudian. Pintu kamar tidurnya tiba-tiba saja tertutup dengan keras, dan lukisan-lukisan dan foto yang tergantung di dinding koridor tiba-tiba saja beterbangan, melompat ke segala tempat. Salah satu pigura foto bahkan sempat menghantam kening John.
“Cepat! Turun!”
Segala benda yang ada di dalam rumah itu bergetar dan berjatuhan dari tempatnya. Seolah ada angin ribut yang tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah yang kini berada dalam kegelapan total itu. John dan Jenna berlari menyusuri ruang tengah, dimana beberapa pigura foto kembali beterbangan menyerang mereka.
“Pergi!” bisik suara bocah itu di telinga John. Dan detik berikutnya, John menendang pintu depan terbuka dan ia terjatuh ke arah rerumputan yang berada di depan rumah besar itu. Seketik, John merasakan kembali kehangatan di tubuhnya saat ia berhasil kabur dari dalam rumah yang mengamuk itu.
Rumah tua itu terlihat begitu menantang, mencekam, saat kegelapan total menyelimuti setiap senti dari rumah itu. Pohon besar yang ada di samping rumah terdengar seolah berteriak, saat ranting dan dahannya saling bertautan. Dan John, tidak mengira bahwa hal aneh itu akan terjadi pada dirinya malam itu.
John duduk diatas rerumputan sambil memegang tubuh istrinya. Dan sekali lagi, ia pandang rumah barunya itu. Tidak. Suara bocah yang ia dengar tadi masih terngiang di telinganya. Suara itu jelas-jelas memintanya untuk pergi dari rumah itu.
“Jenna…” ucap John kemduian sambil memandang ke arah istrinya. “Sepertinya kita harus meninggalkan rumah ini.”
Jenna hanya dapat mengangguk. Ya. Mungkin ide untuk mendapatkan rumah dengan harga murah itu adalah ide yang cukup buruk. Setelah apa yang ia alami malam itu, Jenna dan John berusaha untuk memikirkan terlebih dahulu secara masak seperti apa rumah yang akan ia tempati. Dan berharap, agar hal mistis seperti itu tidak akan terjadi lagi.

**

John dan Jenna pada akhirnya keluar dari rumah itu begitu pagi menjelang. Banyak dari tetangga yang bertanya kenapa mereka pergi dengan tiba-tiba, namun John tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi. Mungkin tidak akan ada yang percaya.
John baru mengetahui kisah sebenarnya dari rumah tua itu beberapa minggu kemudian. Rumah itu dulunya dimiliki oleh seorang  pria dan anak lelakinya. Namun entah karena apa, pria itu mengunci anaknya itu sendiri di ruangan yang tertutup itu. Dan entah karena apa juga, anak itu ditemukan tewas dengan darah telah memenuhi seisi kamar. Hal itu sudah terjadi sekitar seratus tahun yang lalu. Dan dari cerita yang beredar, tidak ada yang pernah betah tinggal di rumah yang terletak di ujung Whisper Street itu. Mungkin karena rumah itu masih ditunggu oleh arwah sang anak lelaki itu?
John mempercayai dengan cerita itu. Apa yang ia lihat di cermin menjelaskan bahwa arwah anak itu masih terperangkap di dalam kamar yang tertutup itu. Entah bagaimana caranya untuk bisa melepaskan arwah bocah itu. Namun itu bukan urusan John lagi. Kini ia mencoba untuk hidung tenang di Arcadia. Di sebuah rumah kecil yang suasananya jauh lebih menyenangkan dari rumah besar itu. Dan John, berusaha untuk mengubur dalam-dalam kenangan mengerikan mengenai rumah tua di Blackwood itu. Mungkin untuk selama-lamanya.

****