Wednesday, January 18, 2017

THE RESTROOM



Kristin terlalu fokus dengan pekerjaan yang ada di depannya. Perhatiannya terlalu fokus pada essay yang ia tulis, hingga ia tidak menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya. Hingga sebuah hembusan menghempas wajahnya, dan mengingatkannya seketika bahwa ia saat itu berada di dalam sebuah perpustakaan remang yang dihuni oleh puluhan rak-rak tinggi.
Kristin mengangkat wajahnya untuk pertama kali sejak lima belas menit terakhir. Tangan kanannya yang hingga sedetik yang lalu berdansa diatas kertas putih pun berhenti seketika. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Memandang pada deretan rak buku yang terlihat kosong dan  terlupakan. Atmosfir yang ia rasakan menjadi sedikit menekan saat keadaan semakin gelap di luar sana. Kristin sadar bahwa ia sudah terlalu lama duduk sendirian di dalam perpustakaan yang mencekam itu.
Kristin menolehkan kepalanya cepat saat ia mendengar suara berderak yang berasal dari ujung rak buku tinggi. Terdengar sebuah suara langkah kaki pelan, yang nyaris tidak dapat didengar. Tapi Kristin dapat merasakan kehadiran sosok lain di dalam perpustakaan yang mulai kosong itu. Kristin sadar ia tidak sendiri.
Entah apa yang ada di dalam kepalanya. Ia bangkit seketika dari kursi yang ia duduki, meninggalkan pekerjaannya dan bergerak perlahan ke arah ujung rak buku dimana suara langkah kaki itu berasal. Bukan hanya langkah kaki. Ia bahkan dapat mendengar desahan nafas berat yang tidak biasa. Keadaan yang super sunyi membuat segala indera di tubuhnya menjadi begitu sensitif. Apa yang akan ia temui? Seseorang…, atau sesuatu yang mungkin hanya pernah nyata di dalam mimpi dan angannya. Sesuatu yang kasat mata…
Kristin bergerak semakin dekat sambil mengepalkan tangannya. Perasaan tak karuan yang berada di dadanya semakin menjadi-jadi. Ia bahkan seolah dapat mendengar detak jantungnya sendiri, yang berderap kencang, menjadi semakin keras semakin ia mendekati ujung rak tinggi itu. Selangkah, dua langkah, dan…
“AHH!!”
Kristin menjerit seketika saat sesosok wajah putih yang tertutup rambut hitam muncul di depan wajahnya. Sepasang mata mendelik ke arahnya, dan satu seringai muncul di wajah putih itu. Tapi…
“Oh!” Kristin seketika mengarahkan satu tangan ke dadanya. Mengelus bagian dimana jantungnya berada. Ia sadari kemudian bahwa sosok itu adalah temannya sendiri, yang sudah tega mengusilinya sejak ia masuk ke dalam perpustakaan itu.
Ashley. Gadis berambut hitam dengan wajah putih bersih itu tak dapat menahan tawanya setelah melihat ekspresi wajah Kristin. Kristin, di lain sisi, merasa begitu geram dengan apa yang dilakukan oleh teman satu kamarnya itu. Ashley tidak biasanya usil padanya.
“Apa yang kau lakukan?” geram Kristin sedikit kesal. Ia mencoba untuk menahan agar suaranya tidak terdengar terlalu keras di dalam perpustakaan itu. Ia ingat bahwa sang pustakawan sedikit ketat dan mengerikan.
“Maaf! Maaf!” ucap Ashley sambil masih mencoba menahan tawa. Ia menarik lengan Kristin kembali ke arah meja dimana Kristin mengerjakan tugas sekolahnya. Kristin belum melepaskan raut amarah dari wajahnya.
“Kau tidak punya ide yang lebih gila lainnya?” bisik Kristin sambil mendecakkan lidah. “Oh, ya. Buat aku takut di tmepat yang sudah mengerikan seperti perpustakaan ini. Ho..ho.., aku yakin aku akan baik-baik saja.”
“Apa yang kau takutkan?” tanya Ashley. “Ada banyak murid di dalam perpustakaan ini, ‘kan tahu?”
Kristin menyadari hal itu detik berikutnya. Ia, yang awalnya mengira bahwa ia sendirian di dalam perpustakaan besar itu, kini dapat melihat sekelompok remaja-remaja lain yang berdiri di antara rak-rak buku di seberang ruangan. Yang membuat mengerikan adalah kenyataan bahwa tidak ada satupun orang yang membuat suara. Menjadikan perpustakaan itu seolah sudah ditinggalkan.
“Kau tidak menjawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan?” tanya Kristin. Dengan kesal ia kembali duduk di kursinya.
“Aku sedang mencari buku di rak sebelah.” Jawab Ashley dengan wajah tanpa dosa. “Dan ketika aku melihatmu, aku tidak dapat menahan keinginanku untuk mengagetkanmu.”
“Lucu sekali!”
“Aku benar-benar tidak mengira kau akan termakan dengan guyonan kecilku itu.”
“Setelah apa yang terjadi?”
Tawa di wajah Ashley menghilang seketika. Ucapan yang baru saja ia dengar keluar dari mulut Kristin soelah membekap mulutnya. Membuatnya tidak dapat mengeluarkan kata-kata selama beberapa detik. Otaknya serasa beku.
“Ya.” Ucapnya setelah ia dapat membuka mulutnya lagi. “Setelah tragedi itu.”
Kristin menggelengkan kepalanya. Jika ia mengingat lagi mengenai tragedi yang baru saja terjadi di sekolahan itu, ia rasanya tidak ingin lagi terus bersekolah di sma itu. Tapi, apa yang sebeanrnya terjadi?
Sma Norrington yang ia tempati saat ini adalah sebuah sma yang terkenal sebagai salah satu sma di Cherwood yang sudah banyak menghasilkan siswa-siswi berprestasi selama kurang lebih dua dekade terakhir. Namun sejak setahun terakhir, reputasi sma Norrington sedikitt tercemari dengan adanya sebuah tragedi yang menimpa salah satu murid di tempat itu. Seorang murid di temukan tewas di dalam salah satu toilet.
Kristin masih ingat benar dengan apa yang terjadi saat itu. Sekolahan itu menjadi kacau dengan ditemukannya jenasah gadis malang itu di toilet. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi. Menurut penyelidikan polisi, tidak ditemukan adanya luka di tubuh korban. Dan berdasarkan dari penelitian, gadis itu dinyatakan tewas karena serangan jantung.
Sungguh sebuah hal yang tak terkira. Kedua orang tua korban mengatakan bahwa putri mereka tidak pernah memiliki permasalahan kesehatan jantung. Dan entah kenapa hal itu bisa terjadi.
Banyak spekulasi yang bermunculan mengenai tragedi yang terjadi. Ada yang mengatakan bahwa gadis itu adalah korban bullying. Namun hal ekstrim lainnya mengatakan bahwa gadis itu mungkin tewas karena sesuatu yang tak kasat mata, yang hingga detik ini menghuni toilet wanita lantai dua gedung utama. Namun tidak ada yang pernah beanr-benar menganggap cerita itu nyata. Semua murid menganggap hal itu hanya omong kosong dan mitos belaka. Hingga suatu kejadian terjadi beberapa minggu yang lalu.
Seorang gadis ditemukan pingsan di toilet yang bermasalah itu. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi. Ketika sadar, gadis itu tidak mampu mengucapkan apapun selain jerit panik seolah ada teror yang terjadi di depan kedua matanya. Gadis itu menggila, dan tidak ada informasi yang bisa didapat dari gadis itu.
Cerita-cerita mulai berkembang di lingkup sma Norrinton. Sma yang awalnya menyenangkan itu kini menjadi semacam pusat keangkeran yang tak terjelaskan. Terutama mengenai toilet wanita di lantia dua itu. Ada yang mengatakan bahwa toilet itu berhantu. Ada pula yang mengatakan bahwa apa yang terjadi merupakan usaha balas dendan dari arwah seorang gadis yang meninggal puluhan tahun yang lalu.
Cerita-cerita lain pun mulai bermunculan. Kini, yang dicap berhantu bukan hanya toilet itu saja. Namun juga beberapa tempat lain di dalam gedung utama sma Norrington. Gym di lantai tiga juga dikatakan berhantu. Lalu ruang staff di ujung koridor, dan yang terakhir, tentu saja, adalah perpustakaan besar itu. Itu sebabnya Kristin merasa ketakutan dengan keusilan yang dilakukan oleh temannya itu.
“Bisakah kita ‘tidak’ membicarakan soal hal itu?” ucap Kristin. Ia merasa bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan tragedi yang terjadi membuatnya merasa tidak nyaman. Ia merasa ada yang bergerak di dalam perutnya.
“Tapi, serius.” Ucap Ashley. “Kau tidak percaya dengan hal-hal supranatural, ‘kan?”
“Tentu tidak.” Jawab Kristin. “Di jaman di mana teknologi sudah maju sekarang ini, rasanya aneh jika masih percaya dengan superstisi seperti itu. Hantu, atau yang lain…”
“Lalu apa penjelasanmu soal gadis gadis itu?” tanya Ashley. “Gadis yang ditemukan pingsan di toilet itu? Yang kini menghuni salah satu rumah sakit jiwa di kota.”
“Aku tidak tahu.” Jawab kristin jujur. Mengenai apa yang terjadi dengan gadis itu, ia akui, bahwa hal itu sedikit membingungkan dan sempat membuat bulu kuduknya berdiri.
“Dan di perpustakaan ini…”
“Hentikan!” potong Kristin cepat dengan sedikit menaikkan nada bicaranya. Ashley memandangnya dengan heran.
Kristin memang sudah mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak percaya dengan yang namanya hantu. Namun entah kenapa, cerita-cerita misterius yang berkembang di sekolah akhir-akhir ini membuatnya merasa tidak nyaman. Terutama dengan cerita mengenai perpustakaan yang berhantu itu. Kristin sadari bahwa kini ia harus banyak menghabiskan waktu di perpustakaan untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya yang menumpuk. Dan ia tidak mau pikirannya terkotori dengan segala cerita mistis yang ada.
“Tidak usah membahas soal hal itu lagi, oke?” lanjutnya. “Aku masih punya pr banyak. Dan harus selesai besok.”
“Jadi kau masih mau tinggal disini?”
“Satu jam lagi.” ucap Kristin. Entah kenapa ia merasa sedikit ragu dengan ucapan yang keluar dari mulutnya itu. Ia melirik jam tangannya, dan menyadari bahwa waktunya untuk berada di dalam perpustakaan itu hanya tinggal dua jam. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul delapan. Dan perpustakaan akan tutup jam sepuluh malam.
“Kau tidak perlu memaksa, Kristin.” Ucap Ashley. “Kau bisa menyelesaikannya di kamar.”
“Tidak untuk subjek satu ini.” Balas Kristin. Ia memutar kepalanya, dan memandang pada lembaran beberapa kertas essay yang tertumpuk di depan matanya. Masih banyak yang harus dilakukan.
“Kalau begitu, aku akan kembali ke kamar.” Ucap Ashley sedetik kemudian. “Kau yakin kau akan baik-baik saja?”
“Asal kau tidak usil lagi.”
“Ha..ha…, ya. Maaf soal itu!” balas Ashley. Ashley kemudian melenggang pergi meninggalkan Kristin. Dan dalam hitungan detik, Kristin sudah sendiri lagi. hanya ditemani oleh lampu meja, buku-buku tebal, lembaran essay, dan juga rak-rak buku tinggi itu.
Kristin dengan segera terjun kembali pada tugas yang harus ia kerjakan. Tangannya sekali lagi bergerak cepat, menuliskan kata-kata yang terangkai di dalam otaknya. Ia benar-benar fokus, dan tidak menyadari bahwa lama kelamaan perpustakaan itu mulai kosong. Kristin sempat melihat murid terakhir pergi meninggalkan perpustakaan. Dan kini, hanya tinggal ia sendiri bersama dengan sang pustakawan yang jarak jauh dari tempatnya duduk.
Hal buruk apa yang mungkin terjadi? Kristin mempertanyakan hal itu di dalam kepalanya selama ia berada di dalam perpustakaan itu. Sejauh apa yang ia ingat, belum pernah ada kejadian aneh di perpustakaan itu. Yang ada hanyalah cerita-cerita. Dan semua itu belum benar terjadi. Namun mengenai toilet itu, Kristin masih ragu.
Kristin menlonjak kaget saat Ny. Winston, sang pustakawan, secara tiba-tiba sudah berdiri di sisinya. Kristin terlalu fokus dengan apa yang ia kerjakan sampai-sampai ia tidak menaydari kedatangan wanita tua itu. Wajah Ny. Winston terlihat pucat seperti biasa, dengan dua mata kecil yang menatap tajam.
“Perpustakaan akan segera tutup. Sebaiknya segera kembalikan buku-buku itu.” Ucap wanita itu.
“Ya, Ny. Winston.” Jawab Kristin seraya meraih lembaran essay-nya, dan memasukkannya ke dalam tas. Ia segera menutup buku-buku besar di depannya, dan segera mengembalikannya ke tempat semula.
Perpustakaan sudah benar-benar kosong, dan terlihat begiu mencekam. Seolah ada sesuatu yang menunggu di sudut-sudut raku tinggi. Ketika Kristin sadari, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang sepuluh. Malam sudah larut, dan ia harus segera kembali ke kamar asrama.
Koridor di gedung utama terlihat begitu mencekam di malam hari. Memang ada lampu penerangan. Namun koridor yang kosong tanpa penghuni itu memberikan kesan yang tak menyenangkan. Kristin dapat mendengar langkah kakinya menggema di koridor.
Kristin memutuskan untuk mampir sebentar ke toilet yang ada di lantai itu. Dia tidak sendiri. Sebelum ia masuk, ia melihat sekelebatan seorang gadis memasuki toilet. Begitu Kristin tiba di dalam toilet, ia tidak melihat adanya gadis itu. Namun salah satu bilik toilet tertutup. Mungkin gadis itu ada di dalam sana.
Terlalu banyak membaca dalam cahaya remang membuat kedua mata kristin sedikit perih. Ia mampir ke toilet hanya untuk membasuh wajahnya. Namun ketika ia akan keluar dari toilet, ia mendengar satu suara yang aneh datang dari dalam bilik tertutup itu.
Ia mendengar isak tangis. Gadis yang ia lihat sebelumnya itu, menangis di dalam toilet? Apa yang terjadi?
“Halo?” ucap Kristin sambil menghadap pada pintu bilik tertutup itu. “Er…, kau baik-baik saja?”
Tidak ada balasan dari dalam. Namun Kristin dapat mendengar gadis itu menyedot hidungnya. Sepertinya tengah berusaha untuk menghentikan isak tangisnya. Kristin bahkan mendengar suara roll toilet. Gadis itu mungkin sedang menyeka wajahnya.
“Sebaiknya kau segera kembali ke asrama.” Ucap Kristin. “Penjaga sekolah sebentar lagi akan menutup gedung.”
Kristin mengira bahwa ia tidak akan mendapat jawaban lagi. Namun pikirannya itu salah, saat ia mendengar satu ucapan terima kasih lirih dari balik pintu bilik toilet. Kristin tidak akan menunggu gadis itu keluar dari toilet. Ia dengan segera melangkah lagi, bergerak meninggalkan toilet, dan kembali ke asramanya.

**

“Kau yakin dengan apa yang kau dengar?” tanya Ashley keesokan harinya setelah kristin menceritakan soal gadis yang menangis itu. Wajah Ashley dipenuhi dengan bermacam pertanyaan.
“Ya.” Jawab Kristin. “Memang sedikit aneh. Aku tidak tahu siapa gadis itu. Tapi aku yakin benar dengan apa yang kudengar. Memang terdengar seperti isak tangis.”
“Kau melihat gadis itu memasuki toilet?”
“Ya. Sebelum aku masuk.”
“Di toilet mana?” tanya Ashley. Wajahnya semakin terlihat begitu serius.
“Toilet yang satu lantai dengan perpustakaan.” Jawab Kristin. Seketika ia melihat mata Ashley membelalak, menatapnya dengan tatapan tak percaya.
“Kenapa?”
“Kau serius dengan apa yang baru saja kau ucapkan?” tanya Ashley. “Toilet di lantai dua?”
“Ya. Ken…”
Kristin seperti mendapat struman listrik saat menyadarinya. Toilet yang satu lantai dengan perpustakaan adalah toilet wanita lantai dua. Toilet dimana dua kejadian janggal itu terjadi.
“Gadis itu…” ucap Ashley. “Yang kau lihat sebelum masuk ke toilet, kau melihat wajahnya?”
“Tidak. Aku hanya melihat sekelebat pandang.”
“Oh, Kristin! Jangan-jangan…”
Kristin sudah dapat menebak apa yang akan diucapkan oleh Ashley. Mengenai dua kejadian janggal di toilet itu, dan kini ada gadis yang menangis.
“Bukan hantu, itu yang pasti.” Ucap Kristin. “Aku mendengarnya mengambil tisu dari roll tisu. Hantu tidak akan melakukannya, ‘kan?”
“Lalu siapa yang memutsukan menangis di toilet jam sepuluh malam saat smeua murid berada di asrama?” ucap Ashley. “Tidakkah aneh? Gedung itu sudah benar-benar kosong di jam-jam seperti itu.”
Kristin mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia dengar bukanlah hal yang besar. Namun memang ia tak habis pikir, siapa sebenarnya gadis yang ia lihat semalam?
“Aku masih harus mengerjakan tugas lagi malam ini.” Ucap Kristin. “Di perpustakaan lagi.”
“Jangan, Kristin. Kau gila?” balas Ashley. “Lakukan di sore hari saat masih ramai.”
“Tapi mungkin akan selesai malam.”
“Pinjam bukunya, dan bawa saja ke asrama. Lebih baik begitu, ‘kan?”
Ide itu cukup masuk akal. Kristin memang bukan gadis penakut. Namun tetap saja, suasana perpustakaan di malam hari memang sangat tidak menyenangkan.
“Kau mau menemaniku?” tanya Kristin kemudian.
“Kau takut?”
“Tidak. Hanya…”
“Oke.” Sahut Ashley. “Asalkan kita ke sana sore hari, kurasa tidak apa-apa.”
Ashley menepati janjinya itu. Sore itu, bersama dengan kristin, ia bergerak menuju gedung utama. Di jam-jam seperti itu terlihat masih ada begitu banyak murid yang berkeliaran baik di dalam maupun luar gedung utama. Sama sekali tidak ada kesan menakutkan sedikitpun. Namun ketika mereka masuk ke dalam perpustakaan, suasana mencekam itu kembali muncul.
Ny. Winston yang duduk di salah satu meja menatap keduanya dengan tajam. Secara non verbal, ia meminta kedua gadis itu untuk tidak gaduh di dalam perpustakaan. Tentu saja hal itu adalah satu aturan yang sudah diketahui banyak murid. Ny. Winston bisa menjadi lebih mengerikan dari hantu jika ada yang gadus di dalam perpustakaan.
Kristin dan Ashley mengarah pada deretan rak buku yang ada di ujung ruangan. Dimana Kristin dengan segera mengeluarkan semua buknya dan mulai mengerjakan tugas. Ia merasa beruntung karena memiliki teman sore itu yang bisa diajak bicara.
Keduanya mengobrol dengan suara lirih agar tidak menimbulkan kegaduhan. Mereka begitu fokus dengan apa yang mereka bicarakan, sampai-sampai mereka lupa dengan waktu. Dan ketika mereka sadari kemudian, keadaan perpustakaan begitu hening. Langit terlihat sudah gelap di luar jendela.
“Apa kita sendirian?” bisik Kristin. Ia melongokkan kepalanya melalui sisi rak buku dan melihat ke deretan rak-rak lain. Dan…, ya. Murid-murid lain sudah tidak berada di dalam perpustakaan itu.
“Sudah jam tujuh.” Ucap Ashley. “Kita sebaiknya kembali ke asrama. Kau pinjam bukunya saja.”
“Baik.” Jawab Kristin.
Keduanya keluar dari perpustakaan beberapa menit kemudian. Tidak seperti kemarin, koridor-koridor di gedung utama terlihat masih cukup ramai. Beberapa murid terlihat duduk di bangku yang ada di koridor, dan ada murid-murid lain yang bergerak menyusuri lorong-lorong remang itu.
“Tunggu sebentar!” ucap Kristin begitu ia dan Ashley tiba di ujung tangga. Ashley memandangnya heran.
“Temani aku ke toilet!”
“Apa?!”
“Ke toilet.” Ulang Kristin.
“Kristin…” ucap Ashley. “Kau tidak ingat kita berada di mana? Kita ada di lantai dua. Aku tidak mau masuk ke toilet itu.”
“Toilet di bawah sedang diperbaiki.” Ucap Kristin. “Ayolah! Aku sudah tidak bisa menahannya.”
Dengan ragu, akhirnya Ashley mau mengantarkan Kristin ke toilet yang ada di lantai dua itu.
“Tenang saja!” ucap Kristin. “Masih ada banyak murid di koridor. Jika ada sesuatu, kita bisa berteriak meminta tolong.”
Mereka tidak yakin apakah akan ada sesuatu yang ganjil yang akan terjadi. Toilet di lantai dua gedung utama itu terlihat begitu normal. Lampunya masih menyala, dan keadaan bersih di dalam toilet itu sebenarnya cukup membuat nyaman.
Ashley menunggu Kristin menyelesaikan urusannya di depan deretan wastafel. Diatas wastafel, terdapat cermin besar yang merefleksikan deretan bilik toilet. Ashley kemudian teringat dengan cerita Kristin pagi tadi soal gadis yang menangis itu.
“Di bilik di sebelah kiri.” Jawab Kristin dari dalam toilet saat Ashley menanyakan soal hal itu.
Ashley iseng-iseng bergerak ke arah bilik yang ditunjukkan oleh Kristin. Bilik itu terlihat biasa-biasa saja. Di dalamnya terdapat satu toilet yang bersih, dan selain itu, tidak ada apapun yang dapat dikatakan aneh atau semacamnya.
“Ashley!” seru Kristin dari dalam bilik toilet. Kristin dengan segera menghampiri lokasi temannya itu. Mengira ada hal aneh yang terjadi.
“Kristin, kau baik-baik saja?” tanya Ashley dari depan pintu bilik. Pintu bilik tiba-tiba saja terbuka, dan wajah Kristin muncul dari celahnya.
“Kukira kau pergi.” Ucap Kristin. Ashley mendenguskan hidungnya. Merasa sedikit kesal dengan ulah temannya itu.
“Ayo kita segera kel…”
Ucapan Ashley terpotong seketika saat tiba-tiba saja lampu di dalam toilet itu mati. Keduanya kini berada di dalam kegelapan dan tak dapat melihat apapun.
“Ashley!” seru Kristin lagi.
“Aku disini.” Ucap Ashley. Ia meraba dalam kegelapan dan menemukan lengan temannya.
“Aku tidak dapat melihat.”
“Tunggu sebentar. Pakai ponsel saja.”
Ashley merogoh ke dalam sakunya dan segera mengeluarkan ponselnya. Dalam sedetik, cahaya flash dari ponsel itu menjadi satu-satunya penerangan di dalam toilet yang gelap.
“Mati lampu?”
“Aneh.” Ucap Ashley. “Tidak pernah terjadi sebelumnya, ‘kan?”
“Ayo keluar!” ucap Kristin. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh, dan perasaannya tidak nyaman.
Ketika kedua gadis itu bergerak mengarah ke pintu keluar, satu hal yang tak terduga terjadi. Pintu bilik toilet di sebelah kiri tiba-tiba saja tertutup dengan sendirinya. Kristin dan Ashley melonjak seketika. Pikiran mereka langsung memikirkan hal yang sama. Kenapa pintu itu bisa tertutup sendiri?
“Angin?” ucap Ashley mencoba mencari penjelasan yang masuk akal. Namun…
Tiba-tiba saja terdengar satu suara dari dalam bilik toilet. Satu isak tangis seorang gadis yang terdengar dengan jelas oleh Kristin dan Ashley. Kedua gadis itu seketika menjerit dan berlari keluar dari toilet.
Keduanya kembali dihadapkan pada satu keadaan yang cukup ganjil. Semua lampu di dalam gedung utama mati, dan murid-murid yang sebelumnya memenuhi koridor sudah tidak ada lagi. Kosong. Hanya ada kekosongan di tempat itu.
“Kristin, cepat!” teriak Ashley.
Keduanya berlari secepat mungkin dari toilet, menyusuri koridor, lalu mengarah ke tangga yang membawa mereka ke lantai satu. Tanpa berhenti, mereka segera menerobos pintu ganda yang membawa mereka keluar dari gedung itu.
Keduanya berhenti berlari ketika mereka sudah berada cukup jauh dari gedung utama. Nafas mereka tersengal, dan pikiran mereka berputar dengan cepat. Tangisan itu. Mereka mendengar tangisan misterius itu.
“Ash!” seru Kristin sedetik kemudian. Ashley yang masih berusaha mengatur nafasnya mengangakt wajah, memandang ke arah Kristin sambil bertanya. Wajah Kristin terlihat pucat, dengan tatapan mata terarah pada gedung utama.
Ashley memutar kepalanya, dan seketika ia merasakan rasa dingin mengalir turun dari lehernya, membekukan setiap otot di tubuhnya. Gedung utama yang seharusnya gelap itu kini berpendar. Cahaya terlihat dari berbagai jendela. Apa yang baru saja mereka alami seolah tidak pernah terjadi.
“Kenapa bisa?” tanya Kristin. “Lampunya….”
“Kristin, ayo pergi! Cepat!” dengan segera Ashley menarik lengan temannya itu, dan mereka kembali ke asrama.
“Aku tidak mempercayainya! Tidak!” ucap Ashley begitu ia tiba di kamarnya bersama dengan Kristin. Kristin pun memiliki pemikiran yang sama dengan temannya itu. Mereka mendengar tangisan di dalam toilet yang seharusnya kosong. Dan lampu tiba-tiba saja mati. Yang lebih aneh lagi, seluruh gedung gelap saat mereka berlari keluar. Namun begitu mereka sampai di luar, lampu menyala kembali. Apakah hal itu hanya ulah iseng seseorang? Atau memang ada hal aneh yang yang menunggu toilet di lantai dua itu?
Apa yang Kristin dan Ashley alami pada akhirnya menyebar ke setiap penjuru sekolah itu. Setiap murid kini benar-benar menghindari toilet di lantai dua itu, dan memilih kembali ke asrama jika mereka ingin pergi ke toilet. Dan selama seminggu sejak kejadian itu, Kristin tidak lagi menghabiskan banyak waktu di perpustakaan. Ia lebih memilih meminjam buku dan mengerjakan tugasnya di dalam kamar.
Namun satu hal aneh kembali terjadi beberapa hari kemudian. Ashley tiba-tiba saja menghilang. Kristin sudah mencoba mencari ke setiap area di sekolahan itu tapi ia tidak dapat menemukan keberadaan Ashley. Ia sudah bertanya pada teman-teman Ashley yang lain. Namun jawaban mereka selalu sama. Mereka tidak tahu kemana perginya gadis itu.
Salah satu gadis mengatakan ia melihat Ashley terakhir kali berada di depan perpustakaan yang ada di lantai dua. Untuk memastikannya, Kristin kembali memasuki gedung utama meski hari sudah sore. Sebagian besar murid sudah keluar dari gedung utama, dan seperti biasanya, atmosfir di dalam gedung itu sedikit tidak menyenangkan.
Kristin masuk ke dalam perpustakaan dan mencoba mencari temannya itu. Ia bergerak menyusuri setiap deret rak buku, namun yang ia lihat hanyalah remaja-remaja lain. Ashley tidak ada di dalam perpustakaan itu.
Untuk lebih memastikannya, Kristin mencoba bertanya pada Ny. Winston, sang pustakawan mengenai Ashley.
“Beberapa jam yang lalu.” Jawab wanita tua itu. “Dia sedikit aneh. Wajahnya terlihat pucat dan tidak ada senyum di wajahnya. Ia hanya duduk di ujung ruangan, membaca sebuah buku.”
“Buku apa yang dia baca?”
“Aku tidak tahu.” Jawab Ny. Winston.
“Kapan dia keluar?”
“Sekitar pukul lima.”
Keterangan dari Ny. Winston beanr-benar tidak membantu. Kristin tetap tidak tahu dimana keberadaan temannya itu. Jika ada satu area yang belum ia cari, mungkin adalah toilet di lantai dua itu. Namun ia ragu Ashley berada disana. Mengingat apa yang yang sudah terjadi, tidak mungkin Ashley berada di dalam toilet itu.
Kristin baru saja akan keluar dari perpustakaan saat tiba-tiba saja ponselnya berdering. Nama Ashley muncul di layar ponselnya. Kristin tanpa ragu segera membuka sambungan.
“Ashley, kau dimana?”
Tidak ada jawaban dari seberang. Yang terdengar hanyalah desah nafas berat dan isak tangis. Apakah Ashley menangis?
“Ash!” panggil Kristin lagi. “Kumohon, Ash! Jangan buat aku takut! Dimana kau sekarang?”
“Gelap.” Jawab suara diseberang. Kristin yakin dengan beanrbahwa suara yang ia dengar adalah suara Ashley.
“Gelap?”
“Aku tidak tahu dimana aku.” Jawab Ashley. “Sekelilingku gelap, dan… huh?”
“Apa? Ada apa?”
Kristin menunggu. Namun yang lagi-lagi ia dengar hanyalah desah nafas berat dari temannya itu. Ashley sepertinya sedang ketakutan.
“Bagaimana mungkin aku bisa disini?” gumam Ashley. “Tolong! Kristin!”
“Ash!”
“Tidak bisa dibuka!” teriak temannya itu. “Pintu biliknya tidak bisa dibuka. Kristin, tolong aku!”
“Dimana kau, Ashley? Ash jawab…”
“AAHHHHH!!!!”
“ASHLEY!!”
Tidak ada lagi balasan dari seberang. Yang ada hanyalah suara statis dan bunyi bergemerisik. Teriakan terakhir dari Ashley menandakan bahwa gadis itu ada dalam bahaya. Masalahnya, Kristin tidak tahu dimana keberadaan gadis itu.
“Bilik tidak bisa dibuka…” gumam Kristin mengulang apa yang Ashley ucapkan. Dan ia mendapat pencerahan sedetik kemudian. Hanya ada satu tempat dimana Ashley kemungkinan berada. Sebuah tempat yang memang sudah ia pikirkan beberapa menit yang lalu, yang awalnya ia pikir tidak mungkin.
Toilet itu.

**

Kristin bergerak cepat menyusuri koridor yang mulai gelap, mengarah pada toilet bermasalah itu. Satu sisi dirinya mengatakan abhwa ia tidak seharusnya kembali ke toilet itu setelah apa yang ia alami seminggu yang lalu. Namun sisi dirinya yang lain mengatakan bahwa toilet itu adalah tempat dimana mungkin Ashley berada. Tidak mungkin Ashley bisa menghilang begitu saja dari sekolah itu. Dan segala tempat sudah Kristin cari. Tinggal toilet itu. Lagipula, Kristin ingat dengan apa yang Ashley ucapkan di telepon.
“Pintu biliknya tidak bisa terbuka.”
Jantung Kristin berdegup kencang saat ia mulai mendekati toilet yang berada di ujung koridor itu. Ia bisa saja mengajak seseorang untuk menemaninya. Namun sudah terlambat. Ia sudah terlanjur berada di depan toilet itu.
Toilet itu bersinar terang. Namun atmosfir mengerikan yang keluar dari toilet itu benar-benar terasa. Kristin memaku pandangannya pada pintu masuk toilet itu. Di dalamnya, ada misteri mengenai tangisan itu. Dan di dalamnya, mungkin juga ada temannya. Mana yang ia pilih? Lari, atau masuk ke toilet?
Kristin mengepalkan tangannya. Perasaan yang tak karuan melingkupinya saat ia memutuskan untuk masuk ke dalam toilet itu. Begitu ia melewati pintu, ia merasa hawa dingin yang tidak normal. Dingin, sedingin es yang membuat ujung jarinya seolah membeku.
“Ashley!” seru Kristin dari ujung deretan bilik. Suaranya menggema. Namun tidak ada balasan.
Kristin memutuskan untuk bergerak lebih masuk. Ia melewati deretan bilik-bilik yang kosong, namun sama sekali tidak menemukan Ashley. Namun di ujung deretan itu, ada bilik yang tertutup. Mungkinkan Ashley berada disana? Kristin tidak menunggu lama untuk mencari tahu. Ia percpat langkahnya, lalu dengan seketika membuka pintu bilik. Dan…
“Ashley!”
Ashley terpuruk diatas toilet dengan kepala terkulai lemah. Kristin mendekatinya, menepuk pipi gadis itu, mencoba membangunkannya. Namun Ashley tak bergerak sama sekali. Kabar baiknya, Kristin masih bisa mendengar desah nafas yang keluar dari hidung temannya itu. Temannya itu hanya pingsan.
“Ashley, kumohon! Bangun!”
Kristin melonjak saat lampu toilet itu tiba-tiba saja berkedip, hidup dan mati. Untuk sesaat Kristin menghentikan usahanya untuk membangunkan Ashley. Apa yang terjadi? Apa hanya malfungsi?
Kristin kembali melonjak saat lampu kembali berkedip. Kali ini lebih lama dari sebelumnya. Dengan tergesa Kristin mencoba untuk membangunkan temannya itu. Ia menepuk setiap senti dari wajah temannya itu.
“Ayolah, Ash! Bangun, kumohon!”
Kristin tiba-tiba saja merasakan bulu kuduknya meremang saat ia merasa mendengar sebuah bisikan. Kristin memutar kepalanya, namun ia tidak menemukan apapun di belakangnya. Hanya ada sebuah cermin besar, dimana ia dapat melihat bayangan wajahnya sendiri. Tapi ada satu hal aneh di cermin besar itu. Cermin itu mengembun. Bayangan wajah Kristin menghilang seketika.
Kristin tanpa sadar memutar tubuhnya dan bergerak ke arah cermin. Ia angkat tangannya, dan menyeka embun yang menempel di permukaan cermin itu. Dan ia melihat…
“TIDAK!!!”
Bukan bayangan wajahnya yang ia lihat. Namun wajah lain. Sebuah wajah putih pucat dengan rambut hitam terurai di depan wajah. Dan ketika wajah itu terangkat, wajah yang membusuk dengan dua mata merah menatap pada Kristin.
Kristin seketika berlari ke arah pintu keluar. Namun ketika ia berjarak satumeter dari pintu keluar, pintu toilet itu tiba-tiba saja tertutup dengan keras.
“TIDAK! TIDAK! TOLONG!”
Kristin mencoba memutar kenob pintu tapi usahanya itu sia-sia. Pintu itu benar-benar tertutup. Kristin kembali melonjak, dengan jantung berdegup kencang saat lampu toilet padam seketika. Kristin berada di dalam kegelapan. Yang dapat ia rasakan hanyalah udara dingin yang membekukan kulit. Dan ia mendengar, dengan jelas, suara terseret di lantai, yang perlahan mendekatinya. Dan seketika…, satu cengkeraman mendarat di lehernya.

**

Sma Norrington dihebohkan keesokan harinya dengan ditemukannya tubuh Kristin dan Ashley di toilet lantai dua itu. Keduanya selamat, dan hanya pingsan. Namun keadaan mereka cukup lemah sampai-sampai mereka harus dilarikan ke rumah sakit.
Cerita mengenai keangkeran dari toilet itu sampai pada telinga kepala sekolah. Dan setelah mempertimbangkan apa yang selama ini terjadi, akhirnya kepala sekolah meminta agar toilet itu disegel. Mengubur misteri yang ada di dalam toilet itu.
Kristin dan Ashley kembali ke sekolah seminggu kemudian. Namun keduanya memutuskan untuk pindah sekolah karena sudah tidak betah dengan suasana mengerikan yang ada di Sma Norrington. Mereka mencoba untuk melupakan apa yang sudah terjadi. Mencoba untuk melupakannya. Namun apakah hal itu bisa hilang begitu saja dari ingatan mereka?
“Kita tidak akan pernah tahu rahasia apa yang sebenarnya disimpan oleh toilet itu.” Ucap Ashley ketika ia membereskan barang-barangnya di kamar. Besok pagi mereka akan pergi.
“Bukan urusan kita.” Jawab Kristin. Ia memegang lehernya. Ia seolah masih bisa merasakan cengkeraman sedingin es itu. Makhluk apa yang sebenarnya berada di dalam toilet itu? Siapa gadis yang mengais itu? Dan wajah yang ada di cermin? Semua teka-teki itu sepertinya akan terus terkubur, dan tidak akan pernah terungkap. Namun Kristin sadari bahwa ia tidak perlu memikirkan semua hal itu. Ia harus segera melupakannya.
“Aku tidak sabar untuk segera pergi dari tempat ini.”

****

Tuesday, January 3, 2017

MONSTER OF THE MINE



Matahari bersinar dengan cerah di Berkshire, sebuah desa kecil di tengah perbukitan yang luas. Area pegunungan di sekeliling desa itu membuat Berkshire cocok untuk ditempati, terutama bagi warga kota yang merindukan ketenangan sebuah alam pedesaan. Selama ini, kehidupan di desa kecil itu tentram-tentram saja. Hingga beberapa kejadian aneh menggemparkan warga desa kecil tersebut.
Belum ada satu minggu sejak kejadian aneh terakhir. Sebuah toko kecil yang berada di desa itu dijarah habis-habisan oleh orang yang tidak dikenal. Sang pemilik toko, Ny. Adam, tidak habis pikir kenapa ada yang tega menguras habis isi dari dalam tokonya. Tidak ada terlalu banyak barang yang berharga di dalam toko kelontong kecil itu, dimana yang ada sebagian besar hanyalah makanan. Namun hampir setengah dari isi toko itu menghilang dalam waktu semalam.
“Seseorang masuk dari pintu belakang. Kuncinya dijebol.” Ucap Ny. Adam pada salah satu petugas keamanan yang bermarkas tak jauh dari Berkshire. Ny. Adam sudah menjelaskan segala hal. Ia, yang tinggal di lantai dua toko itu, sama sekali tidak mendengar adanya kegaduhan di toko bawah saat malam kejadian. Kenyataan ini menciptakan suatu kesan bahwa pencurinya adalah pencuri yang profesional. Anehnya, uang yang ada di dalam kasir tidak diambil sama sekali.
“Hanya makanan. Bukankah aneh?” ucap Ny. Adam di akhir pembicaraannya dengan polisi lokal.
Perampokan yang terjadi atas toko kelontong Ny. Adam bukanlah satu-satunya kejadian aneh yang terjadi di desa itu. Beberapa hari sebelumnya, keluarga Moran mendapati bahwa ada seseorang yang telah mengobrak-abrik peternakannya. Ia mendapati beberapa ayam yang ada di kandang hilang, begitu juga seekor kambing yang ada di kandang tak jauh dari kandang ayam.
“Tidak. Tidak ada yang aneh dengan malam itu.” Ucap Moran saat ditanyai mengenai kejadian aneh yang menimpanya. “Aku bahkan sudah berpatroli beberapa jam sebelumnya, sekitar pukul sebelas malam. Aku sama sekali tidak menemukan sedikitpun keanehan di sekitar corral atau kandang ayam.”
“Kau tidak mendengar sesuatu?” tanya pria lain. “Ayam-ayam itu, jika diambil, mungkin akan menciptakan suara sedikit gaduh, ‘kan?”
“Aku sama sekali tidak mendengar apapun.” Jawab Moran, dengan banyak pertanyaan bermunculan di dalam kepalanya.
Kasus yang lain pun terjadi beberapa bulan sebelum kedua kejadian itu. Peternakan Trudy mendapatkan masalah yang sama dengan apa yang dialami Moran. Tapi bukan ayam atau kambing yang menghilang. Namun seekor kuda.
“Bagaimana mungkin aku tidak mendengarnya? Kudaku akan menghentak jika bukan aku yang mendekat.”
Tidak ada yang pernah tahu akan penjelasan rasional mengenai menghilangnya barang-barang dan hewan ternak itu. Berkshire, yang awalnya adalah desa yang cantik dan tenang, kini berubah seperti sebuah kota kecil dalam film horor. Yang penuh dengan teka-teki dan misteri.
John Copper adalah salah satu petani yang ada di desa itu. Ia memiliki lahan pertanian yang cukup luas, ditambah dengans ebuah peternakan. Ia beruntung, sebab hingga saat ini, belum ada kejadian aneh yang menimpa peternakannya. Ia selalu melakukan patroli bersama anak tertuanya setiap malam. Keduanya bergerak mengelilingi area peternakan, memeriksa setiap hewan untuk memastikan mereka aman.
“Aku tidak mengerti.” Ucap James, anak tertua Moran yang ikut dalam patroli malam itu. “Siapa yang melakukan hal itu? Maksudku, mencuri makanan mungkin sedikit mudah. Tapi mencuri hewan tanpa menciptakan suara?”
“Bukankah pertanyaan itu yang kini sedang berputar di desa ini?” balas John. “Aku juga tidak mengerti.”
Keduanya bergerak dalam siraman cahaya bulan malam itu. Ladang pertanian tersiram oleh cahaya keperakan, menciptakan satu pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat, seandainya saja mereka tidak terus cemas dengan bahaya yang mengintai di desa itu.
“Kau sudah memastikan jumlah kambingnya? Dan juga ayam dan kuda?”
“Ya.” Jawab James sambil mengangguk.
Keduanya sama-sama merasakan satu atmosfir ketegangan yang semakin lama semakin menekan dada. Seolah mereka dapat merasakan suatu bahaya besar yang mendekat, dan mungkin akan meluluh lantakkan dataran Berkshire yang tenang itu.
“Kau sudah mendengar mengenai mitos yang berkembang?” tanya James sedetik kemudian. Pistol yang ia bawa tergeletak di sisinya.
“Mitos itu lagi?”
“Ya.” Jawab James. “Aku tidak…”
“Tidak  mungkin.” Balas John cepat. “Kau tidak terlalu bodoh untuk mempercayai hal semacam itu, ‘kan, James?”
James hanya dapat menggelengkan kepalanya. Namun tidak dapat ia sangkal pula bahwa mitos yang berkembang di desa itu membuatnya sedikit merasa ngeri.
Mitos tenang apa?
Kehidupan tenang di Berkshire sudah cukup terganggu dengan adanya kasus menghilangnya ternak-ternak itu. Kini, ada satu mitos yang muncul hasil dari spekulasi dan dugaan-dugaan orang-orang desa. Ditambah dengan adanya beberapa saksi mata yang mengatakan bahwa mitos itu benar.
Cerita yang berkembang, mengatakan bahwa ada monster di desa itu. Terdengar konyol? Ya, mungkin. Namun ceritanya menjadi seidkit diluar kendali saat beberapa orang melaporkan bahwa mereka melihat langsung monster itu.
“Di bukit!” ucap seorang pria histeris, di suatu malam, di dalam sebuah bar kecil yang terletak di ujung jalan. Dengan tubuh bergetar, pria itu mengatakan bahwa ia melihat makhluk asing itu di puncak bukit.
“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.” Ucap pria itu. “Makhluk itu tinggi, dan mengeluarkan suara yang nyaring di tenga kegelapan malam. Di bukit! Seperti kataku, ini nyata!”
Pada awalnya cerita itu hanya dianggap sebagai hoax biasanya. Namun dalam beberapa minggu, beberapa orang pada akhirnya juga melihat apa yang dilihat oleh pria itu. Anehnya, deskripsi setiap orang berbeda-beda mengenai makhluk yang ada di bukit itu.
“Makhluk itu memiliki sayap!” ucap seorang wanita paruh baya dengan histeris. Ia bahkan nyaris pingsan saat menderitakannya. “Kedua matanya menyorot dengan tajam, merah darah.”
Cerita orang lain, berbeda lagi.
“Tinggi, kurus, dengan lengan yang panjang. Makhluk itu yang menghabisi ternak kita akhir-akhir ini. Makhluk itu menghisap darah dan memakan ternak-ternak kita!”
Rumor yang berkembang ini semakin lama menjadi semakin menakutkan. Mengenai makhluk yang ada di bukit itu, yang dihubungkan dengan menghilangnya beberapa ternak warga.
“Jadi apa yang terjadi dengan toko Ny. Adam tidak ada hubungannya dengan menghilangnya hewan-hewan itu, ‘kan?” ucap James di suatu pagi yang tenang, saat ia sarapan bersama dengan ayahnya.
“Sudah kukatakan, James,” ucap John. “Mungkin orang-orang hanya salah lihat dengan apa yang ada di bukit. Tidak mungkin ada monster atau apapun di sana. Kau percaya dongeng aneh seperti itu?”
“Tapi orang-orang benar-benar melihatnya.” Ucap James cepat. “Mereka tidak mengada-ada. Tidak mungkin. Memang ada yang aneh dengan apa yang ada di bukit itu. Bukankah disana ada tambang?”
Ya. Satu-satunya hal yang dapat dikatakan ‘benar-benar’menakutkan mungkin hanyalah kenyataan bahwa ada tambang terbengkalai di atas bukit. Sebuah tambang yang sudah tidak digunakan sejak akhir 50-an. Tapi selama ini, tidak ada satupun kejadian aneh mengenai tambang itu.
“Kita lakukan apa yang semestinya kita lakukan.” Ucap John. “Kita harus berpatroli setiap malam.”
John dan James melakukan patroli hampir setiap malam. Dan mereka belum dapat menemukan satu masalahpun pada ladang atau peternakannya. Namun semakin hari berganti, cerita aneh terus berkembang. Salah satu kawan John mengatakan bahwa salah satu kambingnya menghilang lagi.
“Makhluk keparat itu!” teriak Willie, teman John itu, saat menceritakan mengenai ternaknya yang hilang. Wajahnya memerah sambil menunjuk ke arah bukit di kejauhan dimana tambang kosong itu berada.
“Aku akan kesana!” ucapnya geram. “Aku akan membunuh siapapun yang berani mengoyak peternakanku.”
Warga yang lain sudah mencoba untuk menghentikan aksi Willie yang terbilang cukup nekat itu. Kata-kata mengenai monster dan sebagainya tidak Willie gubris. Suatu sore, ia terlihat bergerak menjauhi rumahnya, bergerak ke arah bukit bermasalah itu dengan satu senapan berada di punggung. John dan James hanya dapat melihat kepergian Willie sambil berdoa agar tidak terjadi apa yang tidak mereka inginkan.
Malam tiba lagi. Kegiatan berpatroli setiap malam itu mulai teasa melelahkan. Awalnya mereka bisa bertahan hingga pukul dua pagi. Namun malam itu, John memutuskan untuk kembali ke rumah pukul dua belas malam. Istri dan putri kecilnya sudah tidur. Dengan satu ucapan, John menyuuruh anak tertuanya, yang ikut dengannya, untuk tidur. John pun bergabung dengan istrinya beberapa saat kemudian.
Tidur John rasanya dipenuhi dengan mimpi. Ia seperti mendengar jeritan di kejauhan, namun terasa begitu nyata. Sebuah suara keras membangunkannya seketika. Kuda di istal terdengar meringkik-ringkik tidak tenang. John tahu seketika bahwa ternaknya berada dalam bahaya.
“JAMES!” teriaknya ketika tiba di lorong. Dengan tergesa John memakai sepatunya lalu meraih senapan yang ia gantungkan di dinding. James datang sambil berlari beberapa detik kemudian, dengan senapan di tangannya.
“Kudanya!” ucapnya histeris.
John dan James dengan cepat keluar dari rumah dan mengarah pada kandang kuda, yang tidak jauh dari lumbung. John dan James membidikkan senapan mereka ke arah istal kuda, dimana kuda-kuda terdengar meringkik meminta pertolongan. John tiba di depan istal, dan merasakan jantungnya melompat saat melihat sesosok bayangan tengah menarik salah satu kudanya. Di tengah keterkejutannya, John masih dapat berpikir. Ia menarik pemicu senapannya,
DOR!
Kuda itu meringkik dan terlepas dari sosok bayangan itu. Sosok itu bergerak cepat, berlari, meninggalkan kawasan peternakan John Cooper dengan kecepatan tinggi. Dengan cahaya bulan yang bersinar malam itu, John dan James dapat melihat dengan jelas sosok itu. Sesosok manusia, mungkin terlihat mirip dengan manusia, memiliki tubuh tinggi kurus, dan jika tidak salah lihat, John melihat seringai mengerikan di wajah sosok itu.
“Monster itu!” John dan James melepaskan beberapa tembakan. Namun sosok itu seolah dapat menebak kemana arah peluru beterbangan. Dalam beberapa detik, ia menghilang di balik semak.
John dan James masih belum dapat mengatasi keterkejutan mereka. Wajah mereka pucat, meski tidak terlihat di tengah gelapnya malam.
“Jadi benar?” ucap James. “Ada makhluk aneh yang tinggal di tambang?”
Keributan di rumah keluarga Cooper terjadi. Istri dan putrinya berlari keluar rumah setelah mendengar tembakan. Wajah istrinya terlihat sama pucatnya dengan wajahnya.
“John, apa yang…”
“Makhluk itu, Abby.” Ucap John. “Makhluk itu nyaris mencuri kuda kita.”
“Kau menembaknya?”
“Dia lari.” Sahut James. “Tapi kita tahu kemana makhluk itu pergi.”
“John, kau tidak berpikir untuk mengarah ke tambang itu, ‘kan?” ucap Abigail dengan wajah penuh dengan kecemasan. John tidak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
“Willie belum kembali sejak ia pergi sore tadi.” Lanjut Abigail. “Ny. Trump mengatakannya padaku.
“Mungkin Willlie bertemu dengan makhluk itu.” Ucap James. “Mungkin Willie sudah…”
“Aku tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi.” Ucap John. Dengan satu usaha keras ia berhasil mengkang kembali senapannya. Wajah istrinya menunjukkan sebuah kecemasan yang berlebihan. Putrinya menunjukkan raut wajah yang sama.
“Jangan khawatir!” ucap John kemudian. “Aku tidak akan pergi seorang diri.”
Rencana John malam itu adalah mengarah ke tambang yang bermasalah itu, dan mencoba untuk mengakhiri teror yang terus terjadi di Berkshire. Ia mengumpulkan pria-pria lain dari desa, yang sebagian besar memiliki senapan sebagai senjata perlindungan.
“Apa benar yang mereka katakan, bahwa Willie belum kembali?”
“Kita akan mencari tahu!”
John dan rombongan para pria mulai bergerak menaiki bukit. Beberapa dari mereka membawa obor sebagai penerangan, sementara pria-pria lain terus membidikkan senapan mereka. Makhluk itu bisa saja sudah menunggu kedatangan mereka.
Tambang tua yang ada di atas bukit memang menjadi satu-satunya tempat di Berkshire yang tidak pernah terjamah. Tidak ada yang berani mendekati tambang kosong itu. Cerita yang berkembang mengatakan bahwa tempat itu dipenuhi dengan hantu. Dan kini, ada monster itu.
Wajah dari para pria menunjukkan satu ekspresi jijik secara bersamaan ketika mereka sampai di puncak bukit. Mereka melihat bangkai hewan tersebar di segala tempat, dengan darah membasahi rerumputan, dan isi perut hewan tersebar di berbagai tempat. Potongan-potongan tidak rapi telrihat dari beberapa bangkai itu. Apa yang terjadi? Hanya ada satu penjelasan soal hal itu. Makhluk itu memakan hewan yang ia curi dari warga.
“Monster.” Gumam John. “Kita akan segera tahu.”
Semakin bergerak mendekati mulut tambang, mereka semakin ngeri membayangkan apa yang akan terjadi di dalam tambang kosong itu. Ceceran daging dan usus hewan tersebar di sekitar mulut tambang. Dan kegelapan dari tambang sepertinya menciutkan nyali beberapa pria.
“Kita masuk?” tanya salah seorang pria. John menunjuk pada beberapa pria bersenjata, bersama salah satu pria yang memegang obor.
“Yang lain tinggal disini, dan berjaga. Jika kami tidak kembali…”
“Kami tahu apa yang harus kami lakukan, John.” Balas pria lain.
John mengarahkan matanya pada James, putranya, yang sepertinya ingin ikut masuk namun John memaksanya untuk tinggal di luar bersama yang lain.
“Aku tidak akan lama.” Ucap John, sesaat sebelum ia dan beberapa pria melangkah memasuki tambang.
Mereka tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa mereka akan masuk ke dalam sistem lorong tambang kosong itu. Tanpa adanya cerita mengenai monster saja, tambang itu sudah cukup meneyramkan. Kini mereka berada di dalam perut bumi. Bergerak menyusuri koridor yang remang, yang hanya diterangi cahaya dari dua obor. Mereka dapat melihat trek besi untuk lori yang sudah tidak terpakai. Keadaannya cukup memprihatinkan. Barang-barang yang tertinggal di dalam tambang selama puluhan tahun penuh dengan karat. Ada satu hal lagi yang mereka takutkan. Bagaimana jika tmbang itu sampai runtuh? Struktur lorongnya sudah cukup tua dan ringkih.
“Ini menjelaskan hal aneh yang terjadi di desa selama beberapa bulan terakhir.” Ucap salah seorang pria. Suaranya menggema di dalam lorong tambang yang gelap itu.
“Monster, atau apalah yang ada di dalam tempat ini.”
“Mungkin pria gila.” Ucap John.
Mereka tidak tahu sudah berapa dalam mereka masuk ke dalam tambang. Mereka sering menemukan cabang lorong, dan dengan insting terliar, memasuki salah satu lorong. Semakin masuk ke dalam, mereka mulai mencium bau anyir. Di sepanjang lorong terdapat bekas dari hewan-hewan yang seolah dibantai. Beberapa tulang berserakan. Dan tak jauh dari tempat itu, terdapat beberapa bungkus makanan yang bertumpuk menjadi satu.
“Makhluk itu juga yang mencuri dari toko Adam?”
John dan pria-pria lain seketika menghentikan langkah mereka saat mereka dengan jelas mendengar satu teriakan nyaring yang arahnya dari dalam tambang. Suara yang mirip sebuah erangan itu menggema di sepanjang koridor. Beberapa pria terlihat mulai bergetar ketakutan.
“Siapkan senjata kalian!” bisik John. Dengan langkah pelan, ia bergerak maju. Mereka berhenti beberapa kali saat mereka mendengar ada langkah lain selain dari langkah mereka sendiri. Obor diarahkan ke beberapa sudut tambang, namun yang ada hanyalah kegelapan total, dengan atmosfir yang dapat menegakkan bulu kuduk. Namun mereka tahu, bahwa monster itu sedang menunggu mereka.
Mereka bergerak ke arah bagian tengah tambang, yang ternyata mirip sebuah gua dengan lubang menganga di bagian atas. Cahaya bulan menerangi sedikit bagian tambang, yang mirip sebuah ruangan kecil. Dan disanalah mereka menemukan horor yang sesungguhnya. Cabikan daging, usus, dan tulang-tulang hewan bercampur aduk menjadi satu. Cipratan darah memenuhi dinding batu, dan sampah lain bertebaran, memberikan kesan kotor dan menjijikkan. Disinilah makhluk itu tinggal. Namun tidak ada tanda-tanda kehadiran makhuk tersebut pada saat itu.
“Lihat itu!” teriak salahs eorang pria pembawa obor ke arah sebuah sisi kecil dari tambang. Pria-pria itu dapat melihat sepasang kaki mencuat dari balik tikungan tambang. Mereka mendekat secara bersamaan, dan melonjak seketika saat cahaya api obor menerangi sesosok tubuh pria yang dipenuhi dengan darah. Mereka kenal dengan pria itu.
“Willie!”
John merunduk, memeriksa tubuh Willie yang tergeletak di tanah yang dingin. Dari apa yang dapat ia lihat, darah di tubuh Willie bukanlah darahnya sendiri. Willie sendiri hanya menderita luka terbuka di bagian dahi. John merundukkan kepalanya, menempelkan telinga ke dada Willie, dan tersenyum saat ia masih dapat mendengar detak jantung temannya itu, meski kelihatannya terlalu lemah.
“Dia masih hidup.” Ucap John seraya bangkit berdiri. “Sebaiknya kita…”
Ucapannya terhenti seketika. Perhatiannya, dan juga teman-temannya terarah pada salah satu koridor tambang yang gelap, dimana baru saja terdengar satu teriakan, yang lebih mirip sebuah jeritan. Monster itu, masih mengawasi mereka.
“Senjata!” ucap John cepat.
Cahaya obor secara cepat menerangi sebuah wajah di dalam kegelapan. Wajah yang kurus, cekung, dengan rambut berantakan dan mata yang seolah bersinar merah. Monster itu telah menunjukkan wajahnya dan meringis ke arah beberapa pria. Namun hanya sedetik, sebelum makhluk itu menghilang lagi.
Beberapa pria mulai melakukan tembakan ke arah lorong tambang, tanpa tahu apakah mereka dapat mengenai sasaran atau tidak. Paling tidak, usaha mereka dapat menjauhkan makhuk itu untuk sementara waktu.
“Ambil Willie! Kita keluar!” seru John.
Dua orang pria membantu membawa tubuh Willie yang lemah, dan mulai bergerak keluar dari tambang. Lagi-lagi jeritan dan geraman dari makhluk itu terdengar lagi. John menembakkan senapannya. Diikuti oleh pria-pria lain.
“Cepat! Cepat!” teriak beberapa pria. Dua orang yang membawa tubuh Willie terlihat kesulitan saat mencoba bergerak menaiki lorong tambang yang curam.
Jeritan terdengar sekali lagi. Namun bukan hanya jeritan dari makhluk itu saja. Salah satu pria dari kelompok John mengerang saat sebuah batu mengenai kepalanya.
“Tembak sekarang!” seru John. Cahay dari senjata mereka dapat sedikit memberikan penerangan pada lorong tambang yang gelap. Namun mereka sama sekali tidak dapat melihat monster itu.
“Lari!” teriak salah seorang pria saat ia sadari bahwa keadaannya sudah cukup genting, dan tidak mungkin bagi mereka untuk dapat melawan sosok misterius itu di tengah kegelapan tambang.
Mereka berlari. Terseok-seok pada permukaan tanah yang lembab, penuh dengan kerikil. Tubuh lemah Willie terlihat terombang-ambing dalam pelarian itu.
“Kemari, keparat!” teriak salah seorang pria sambil membidikkan shotgun miliknya ke arah kegelapan. Namun seketika…
“AAHHHHHKKKK!!!”
“TIM!” John berteriak saat tubuh Tim menghilang dalam kegelapan. Monster itu berhasil menggondol Tim. Hal ini semakin membuat usaha pelarian itu semakin cepat. Dan mereka sadari kemudian, mereka telah berada di luar tambang, saat mereka dapat menghirup udara segar lagi.
“Arahkan senjata kalian ke mulut tambang!” teriak John. Semua roang yang berada di dekat mulut tambang melakukan apa yang ia perintahkan. Mereka tidak tahu apa yang sedang mereka hadapi. Apakah benar-benar monster? Atau hal lain yang sulit untuk dijelaskan? Yang pasti, makhuk itu telah merenggut Tim dari mereka.
“Jones dan Derek, pergi ke desa, dan hubungi polisi! Minta mereka untuk membawa persenjataan lengkap!”
Hanya itu yang dapat mereka lakukan selama semalaman. Mereka terus membidikkan moncong senapan dan pistol mereka ke arah mulut tambang. Bersiap, seandainya makhluk itu akan muncul lagi. Namun hingga pagi menjelang, tidak ada yang keluar dari mulut tambang. Jeritan monster itu pun seolah menghilang dengan datangnya sinar matahari.
Pasukan dari kepolisian akhirnya datang dengan tim SWAT mereka. Dengan persenjataan dan perlngkapan yang cukup, tim SWAT bergerak masuk ke dalam tambang. Tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan di dalam selama lebih dari tiga puluh menit. Hingga akhirnya tim SWAT keluar lagi dari tambang, dengan sesuatu berada di tangan beberapa anggota SWAT.
Sesosok tubuh pria kurus dengan rambut hitam kumal terlihat diseret keluar dari tambang. Pria itu mati. Namun kini menjelaskan seperti apa makhluk itu sebenarnya.
“Tidak pernah ada yang namanya monster.” ucap kepala tim SWAT sambil menunjukkan sebuah berkas pada John. John dapat membaca dengan jelas berkas tersebut. Disana dikatakan bahwa salah satu tawanan kepolisian berhasil kabur dua bulan yang lalu. Pria itu, yang kini mati di tangan SWAT, adalah tawanan itu.
Tim tidak mendapatkan luka yang serius. Kakinya terluka, namun pria itu masih dapat berjalan.
“Monster itu.” Ucap Tim sambil menunjuk pada jenasah tawanan yang dibawa ke ambulan itu.
“Dia bersembunyi cukup lama di tambang ini. Cukup gila, menurutku.” Ucap John. “Dia menderita keputusasaan dalam pelariannya. Kurasa itu menjelaskan kenapa ia tega mencuri dari warga desa. Membobol toko Adam, kurasa cukup masuk akal. Namun mencuri ternak dan memakannya mentah-mentah…”
“Pria itu gila, John.” Ucap salah seorang pria yang berdiri tak jauh dari John. John hanya dapat mengangguk menyetujui.
“Jadi tidak pernah ada yang namanya monster?” ucap James. “Tidak seperti apa yang kita bayangkan selama ini.”
“Berkshire akan kembali aman seperti sedia kala.” Ucap John. “Tidak. Tidak pernah ada yang namanya monster. Hanya sebuah misteri yang perlu dipecahkan. Dan kita berhasil melakukannya.”

****