Saturday, March 12, 2016

TANGISAN RUANG BAWAH TANAH



Jason Jasper dan istrinya, Rose, sudah dua minggu menempati rumah baru mereka yang mereka dapatkan dengan harga murah. Keadaan ekonomi yang susah menyebabkan mereka harus kehilangan pekerjaan lama mereka dan terpaksa harus pindah ke kota baru di selatan, dimana mereka menemukan rumah tua dengan harga murah itu. Mengingat mereka memiliki dua anak yang masih harus bersekolah, mereka tidak bisa menyewa sebuah apartemen yang harganya memang jauh lebih murah. Rumah yang mereka tempati saat ini cukup luas untuk keluarga mereka. Cukup nyaman, meski berada jauh dari pusat kota.
Jason dan Rose tidak pernah mengira bahwa kehidupan tentram mereka akan terganggu dengan keputusan mereka pindah ke rumah itu. Memang pada awalnya semuanya berjalan baik-baik saja. Jason mendapatkan pekerjaan baru dengan panghasilan cukup bagus, dan Rose senang dengan rutinitas menulisnya di rumah sementara kedua anaknya bersekolah. Semuanya berjalan begitu mulus, hingga kejadian itu terjadi beberapa hari yang lalu.
Rose tengah berada di tengah mimpi saat tiba-tiba saja ia dikagetkan oleh sebuah suara hantaman yang sepertinya berasal dari salah satu bagian rumah. Di tengah kegelapan, Rose mencoba menajamkan kedua indra pendengarannya, menunggu suara hantaman itu datang lagi. Ia khawatir jika ada pencuri yang masuk. Rumah itu memang sudah tua dengan kunci pintu yang sudah selayaknya diganti. Dan sepertinya bukan pemikiran yang asal jika ia khawatir akan datangnya pencuri.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Jason yang melihat istrinya duduk diatas tempat tidur dengan wajah pucat. Jason mengguncang lengan istrinya, membuat wanita itu menolah ke arahnya.
“Ada apa?”
“Kau tidak dengar?” tanya Rose. “Ada sebuah suara keras yang datang dari bawah.”
“Benarkah?”
Rose masih menunggu datangnya suara keras itu. Namun menit-menit berlalu, dan suara itu tidak kembali. Rose mendesah pelan, lalu kembali berbaring diatas tempat tidur. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Sebenarnya, suara apa yang ia dengar tadi? Rose tidak menemukan jawabannya, dan suara itu tidak terdengar lagi.
Rose sepenuhnya telah melupakan suara yang ia dengar semalam saat pagi datang. Kesibukannya sebagai seorang ibu rumah tangga memaksanya untuk tidak pernah bisa terfokus pada hal-hal kecil yang terjadi di sekelilingnya. Mengenai suara itu, Rose tidak membicarakannya lagi. Dan Jason pun juga tidak merasa penasaran dengan apa yang ia dengar semalam.
Jam-jam berlalu. Jason sudah pergi bersama dengan kedua anaknya beberapa jam yang lalu, dan Rose sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Untuk sesaat, ia merasa bahwa semuanya baik-baik saja. Namun ketika ia tidak menyadari, suara gebrakan keras itu terdengar lagi.
Rose melonjak kaget, membuat pisau yang ada di tangannya terjatuh ke lantai. Suara hentaman itu terdengar begitu keras dan begitu dekat, bahkan seolah-olah keluar dari lantai. Rose mengelus dadanya yang berdegup kencang. Suara apa itu?
Belum sempat Rose terlepas dari keterkejutannya, suara kedua datang dengan sama keras.
“BRAKK!!”
Rose lagi-lagi melonjak. Ia pegang erat kursi yang yang ada di dapur, dengan otak berputar cepat, mencoba untuk menebak apa yang sebenarnya menciptakan suara itu.
Suara yang Rose dengar memang benar-benar berasal dari dalam tanah. Tidak. Lebih tepatnya, dari arah ruang bawah tanah rumah yang ia tempati itu. Rose, selama ia tinggal di tempat itu, jarang mengunjungi ruang bawah tanah. Yang ia tahu, hanya ada mesin cuci dan beberapa barang bekas di ruang bawah tanah itu. Dan ia tidak pernah menghabiskan waktu lama untuk mencuci di sana karena ia selalu membawa pakaian kotor ke tempat pencucian. Dan kini, ada suara misterius yang datang dari sana. Apa yang harus ia lakukan?
Rose sedikit takut. Bukankah itu wajar? Namun ia juga masih memiliki pemikiran yang cukup logis. Apa yang mungkin menyebabkan suara itu? Mungkin karena ulah tikus?
Rose bergerak meninggalkan dapur dengan lambat. Ia merasa sedikit cemas, dengan apa yang sebenarnya tidak ia ketahui dengan jelas. Pintu menuju ruang bawah tanah terletak tepat di depan pintu dapur. Rose bergerak menuju pintu tersebut, dan perlahan membukanya.
Sebuah lorong sempit yang mengarah ke bawah terlihat begitu gelap. Dengan satu saklar, ruang bawah tanah itu segera berpendar, memancanrkan cahaya keemasan yang berasal dari sebuah bola lampu yang tergantung tepat di tengah ruangan. Rose, dengan perlahan mulai menggerakkan kakinya menuruni tangga, hingga akhirnya ia sampai di ruangan kecil yang lembab itu.
Yang terlihat hanyalah barang rongsokan yang seharusnya sudah dibuang. Ada sebuah lemari tua, kotak perkakas kerja, dan ada sepeda tua. Mesin cuci tua terletak di sudut ruangan. Sejauh apa yang Rose lihat, tidak ada yang aneh dengan ruangan itu.
Rose sempat melihat adanya sebuah lubang di sudut ruangan itu. Sebuah lubang kecil yang hanya dapat dimasuki oleh tikus. Mungkin suara itu memang disebabkan oleh tikus? Hanya itu penjelasan masuk akal yang dapat Rose terima.
Rose kembali ke dapur, melanjutkan pekerjaannya. Selama beberapa setelah itu, tidak ada lagi suara hantaman itu. Namun ketika sore tiba, suara itu terdengar lagi. Rose yang tengah bersantai di depan tv terpaksa harus melonjak terkejut lagi.
“BRAK!!”
Rose merasa benar-benar kesal dengan suara itu. Suara-suara aneh itu membuatnya merasa begitu takut dan cemas disaat yang bersamaan, dan ia tidak pernah bisa tahu apa sebenarnya yang menyebabkan suara hantaman itu.
Rose segera menceritakan hal-hal aneh itu pada Jason ketika Jason pulang beberapa jam kemudian.
“Seperti yang kau dengar semalam?” tanya Jason. “Mungkin hanya tikus atau semacamnya. Rumah ini tua.”
“Awalnya aku berpikiran seperti itu.” Ucap Rose. “Tapi…, masih saja terasa aneh. Kau harus melihatnya.”
Jason setuju dengan usulan istrinya itu. Sebagai seorang suami, ia tidak ingin membiarkan istrinya hidup dalam ketakutan. Setelah makan malam, ia dan Rose berjalan turun ke ruang bawah tanah itu, dan menemukan bahwa tidak ada satupun hal yang aneh.
“Oh! Lihat lubang itu?” tanya Jason sambil menunjuk. “Sepertinya kita mendapatkan jawabannya?”
“Aku juga sudah memikirkannya.” Ucap Rose. “Tapi aku tidak melihat adanya tikus. Lagipula, apa tikus bisa menyebabkan suara keras seperti itu?”
Pertanyaan itu belum dapat terjawan saat itu juga. Jason dan Rose kembali naik, dan menghabiskan malam mereka di depan tv. Kedua putri mereka sudah pergi tidur beberapa jam sebelumnya.
Rose tidak sadar sudah berapa lama ia tidur. Ia tertidur ketika menonton tv di pangkuan suaminya. Jason sudah tertidur ketika Rose bangun malam itu. Jam yang ada diatas perapian menunjukkan pukul setengah dua malam. Keadaan yang dingin membuat Rose ingin masuk ke kamarnya dan tidur dibalik selimut hangat.
“Sayang! Jason!”
Rose mengguncang lengan Jason untuk membangunkan pria itu. Namun pria itu masih tertidur pulas. Mungkin ia kelelahan karena pekerjaannya.
“Jason!”
Ruangan yang Rose tempati terlihat remang, karena satu-satunya cahaya hanya berasal dari tv yang masih menyala. Di tengah keremangan, Rose merasakan sebuah perasaan cemas yang aneh, yang tidak dapat ia jelaskan. Suara misterius dari ruang bawah tanah itu masih menjadi satu-satunya hal yang menggantung di pikirannya.
Rose bergerak ke arah dapur dan meminum segelas air putih untuk dapat menenangkan perasaannya. Namun secara tak disangka, suara gebrakan itu terdengar lagi. Rose melonjak, nyaris melepaskan pegangannya pada gelas yang ada di tangannya.
“Jason!” Rose berteriak. Ia berada dalam keadaan yang tidak begitu mengenakkan. Namun ternyata teriakannya tidak dapat membangunkan suaminya itu. Tubuh Rose bergetar. Dan bergetar lebih hebat saat dengan samar ia dengar sebuah rintihan anak kecil dari suatu tempat. Apakah tangisan putrinya? Bukan. Putri Rose sudah jarang menangis lagi. Dan arah suaranya bukan dari lantai dua. Melainkan dari ruang bawah tanah dimana suara hentakan itu berasal.
Rose mencoba menutup kedua telinganya seraya bergerak cepat meninggalkan dapur dan bergabung kembali dengan suaminya yang masih tertidur pulas di sofa. Ia ingin sekali marah pada Jason karena pria itu tidak mau bangun. Tapi…, Rose mengurungkan niatnya untuk membangunkan suaminya itu.
“Tidak apa-apa.” Ucap Rose mencoba menenangkan dirinya sendiri seraya masuk ke dalam pelukan suaminya. Suara rintihan tangis pelan itu masih dengan samar terdengar. Dan Rose mencoba untuk mengabaikannya. Ia pun tertidur dalam ketakutan.

**

“Kau tidak akan percaya.” Ucap Rise keesokan harinya, menjelaskan segala sesuatu yang ia dengar semalam pada Jason. Jason sedikit tidak percaya. Namun ia sama sekali tidak menunjukkan sikap tak acuhnya pada semua ucapan Rose.
“Tangisan? Bagaimana mungkin…”
“Ini gila.” Ucap Rose. “Kita tidak tahu sejarah rumah ini. Dan kurasa, ceritanya tidak akan terdengar bagus.”
“Kau terlalu banyak berspekulasi mengenai segala hal, Rose.” Ucap Jason. “Rumah ini…, baik-baik saja.”
“Tapi suara-suara itu…” balas Rose. “Tidak mungkin tikus, ‘kan? Lalu tangisan itu?”
“Mungkin Amber?” ucap Jason.
“Bukan.” Balas Rose. “Bukan tangisan Amber.”
Amber adalah putri kedua Rose, yang baru berusia enam tahun. Dan ketika ia membicarakan mengenai Amber, ia baru sadar bahwa Amber tidak ada di meja makan pagi itu. Hanya ada Cecil, yang duduk di sebelah ayahnya.
“Dimana adikmu, Cecil?” tanya Rose. “Bukankah kalian tadi sudah turun?”
“Dia pergi saat kau sibuk berbicara.” Jawab Cecil, yang hanya dua tahun lebih tua dari Amber.
“Amber!”
Rose meneriakkan nama putrinya itu sambil bergerak ke setiap ruangan, mencoba menemukan Amber. Namun Amber tidak terlihat sama sekali.
“Amber, dimana kau?”
Rose tiba-tiba saja menghentikan langkahnya saat terdengar sebuah suara dari belakangnya. Ketika ia memutar kepalanya, terlihat seorang gadis kecil telah berdiri di belakangnya. Amber. Dan anehnya, ia baru saja keluar dari ruang bawah tanah.
“Amber, apa yang kau lakukan disana?” tanya Rose. “Apa yang kau lakukan di ruang bawah tanah, sayang?”
“Dia kesepian. Dia butuh teman. Aku bermain dengannya.”
“Siapa yang kesepian?”
Amber tidak menjawab. Melainkan, ia hanya menunjuk dengan satu jarinya ke arah belakang tubuh Rose. Rose merinding seketika. Ketika ia putar kepalanya, ia sama sekali tidak melihata seorang pun berdiri di belakangnya. Dengan tatapan nanar, Rose melempar pandangannya pada Jason yang juga merasa aneh dengan apa yang baru saja Amber ucapkan.
“Tidak mungkin.”
Jason memutuskan untuk tidak pergi bekerja hari itu. Ia pulang ke rumah setelah mengantarkan Amber dan Cecil ke sekolah, tepat pukul sembilan pagi. Dan sisa pagi itu ia gunakan untuk membicarakan hal aneh yang terjadi pada rumah tua itu.
“Tidak mungkin ia berbohong.” Ucap Rose. “Amber tidak pernah berbohong.”
“Tapi dia bertingkah aneh.”
“Ini pertama kalianya ia seperti itu.” Ucap Rose. “Aku tidak pernah melihatnya bermain dengan teman khayalan sebelumnya.”
“Lalu apa maksud dari anak itu?”
Jawabannya tidak akan mereka temukan saat itu juga. Hari berlalu, berganti malam. Suara hentakan keras dan tangisan itu tidak terdengar lagi. Jason dan Rose masih sibuk membicarakan masalah itu diatas tempat tidur. Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam.
“Mungkin besok aku harus mencari jawabannya.” Ucap Jason. “Aku akan bertanya pada penduduk setempat, tetangga mungkin, mengenai rumah ini.”
“Kita tidak bisa tinggal disini lagi.” Ucap Rose. “Gangguan ini…”
Tapi mereka berdua tidak punya pilihan lain. Mereka tidak memiliki cukup uang untuk pindah lagi. Dan sebenarnya, tanpa suara yang mengganggu itu, rumah itu terlihat begitu sempurna.
Rose telah terjatuh ke dalam alam mimpi, ketika lagi-lagi ia dikejutkan dengan sebuah suara keras dari lantai bawah. Lagi-lagi dari ruang bawah tanah bermasalah itu. Kali ini, Jason pun mendengarnya. Dan anehnya, suara itu kini terdengar berulang-ulang. Seperti ada seseorang yang berusaha untuk meruntuhkan dinding rumah itu.
“Jason!”
“Kita harus memeriksanya.” Ucap Jason seraya bangkit dari tempat tidur.
Jason dan Rose merasakan jantung mereka yang berdegup kencang, saat mereka berdua turun ke lantai satu lalu mengarah ke ruang bawah tanah. Ketika mereka membuka pintu yang menuju ruangan itu, tiba-tiba Rose terpekik.
“Astaga!”
Aroma busuk tiba-tiba saja menyeruak. Seperti ada hewan mati di dalam ruang bawah tanah itu. Yang tidak mereka cium sebelumnya. Keadaan sudah benar-benar aneh, dan tidak masuk akal lagi. Suara benturan keras itu terdengar semakin jelas, dan memang berasal dari ruang bawah tanah rumah itu. Tapi, ketika Jason dan Rose tiba di ruang bawah tanah, suara itu berhenti seketika.
Aroma busuk itu masih tercium dengan begitu jelas. Rose mungkin bisa muntah seketika jika ia tidak bisa menahan.
“Astaga! Bau apa ini?”
Jason bergerak ke tengah ruangan. Dan tiba-tiba saja ia berteriak pelan saat kakinya secara tidak sengaja menyentuh benda cair dingin, yang merembes dari celah papan kayu di lantai. Cairan kental, hitam, merembes keluar dari bawah tanah.
“Itu lumpur?” tanya Rose. “Kenapa bisa…”
Jason mengambil kapak yang ada di seberang ruangan. Sesaat, ia pandang istrinya. Ia mengangguk pelan, dan kini benar-benar serius untuk mengungkap apa yang ada balik papan lantai itu. Dan dengan satu ayunan, sebuah suara berderak terdengar.
Papan kayu pecah, terlepas begitu saja. Dan cairan kental hitam mulai merembes dengan kencang dari celah yang tercipta. Cairan kental berwarna hitam seperti lumpur rawa itu beraroma begitu busuk. Dan cairan seperti itu belum pernah Jason lihat selama hidupnya.
“Sesuatu dibalik lumpur ini…”
Jason menggunakan ujung kapaknya untuk menjajaki genangan lumpur dari lubang lantai yang tercipta. Dan tiba-tiba saja ia merasakan sebuah benda keras berada di balik lumpur itu.
“Ada sesuatu…”
Jason mencungkil benda itu keluar. Dan saat itu juga, Rose menjerit saat melihat sebuah tekorak keluar dari lubang lantai.

**

Ketenangan malam hari itu harus terganggu dengan datangnya mobil-mobil polisi. Jason telah melaporkan apa yang terjadi, dan petugas telah bekerja di ruang bawah tanah untuk mengambil tulang belulang yang terkubur di bawah lantai ruang bawah tanah itu. Bersamaan dengan diangkatnya kerangka itu, terdapat pula cuilan baju seorang anak kecil, yang sudah membusuk di dalam sana.
“Dia butuh teman.” Ucap Amber.
Jason dan Rose mendapatkan keterangan mengenai apa yang terjadi beberapa jam kemudian. Beberapa tahun yang lalu, pernah ada laporan seorang gadis kecil yang hilang, dan tidak pernah ditemukan. Gadis itu adalah anak dari pemilik rumah yang lama. Dan dapat ditebak. Mungkin ada semacam permainan rahasia dalam keluarga pemilik rumah itu beberapa tahun yang lalu, yang berakibat dengan meninggalnya putri kecil itu. Namun mengenai alasan kenapa jasad anak itu dikuburkan di ruang bawah tanah masih menjadi misteri. Keluarga lama penghuni rumah itu sudah menghilang sejak dua tahun yang lalu, tanpa ada yang tahu keberadaan mereka.
“Dia akan pergi dengan tenang.” Ucap Amber lirih sambil tersenyum. Ia melambai ke arah taman di depan rumah, tanpa ada satupun makhluk terlihat di tempat itu.
“Selamat jalan, Ester!”

****

Friday, February 26, 2016

KUTUKAN BONEKA VENTRILOQUIS



“Ada yang tidak beres dengan boneka itu.” Ucap Terry meyakinkan suaminya. Ia tidak tahu dengan apa yang ia rasakan mengenai kehadiran boneka itu. Akan tetapi, selalu ada perasaan mengganjal ketika ia memandang kehadiran sosok manusia kecil dari kayu yang kini terpajang di rak dinding ruang tamu.
Boneka itu merupakan sebuah boneka ventriloquis tua yang dibeli oleh Frank, suami Terry, dari sebuah kota di selatan yang namanya saja membuat Terry bergidik. Blackwood. Frank membeli boneka itu dengan harga murah di Blackwood dari seseorang yang sama sekali tidak dikenal dan terlihat sedikit mencurigakan.
“Tidak ada yang salah dengan boneka itu.” Ucap Frank. “Memang terlihat sedikit menyeramkan. Namun boneka hanyalah boneka. Dia tidak akan hidup dan memakanmu.”
Frank tertawa, mencoba membuat istrinya tersenyum. Namun tetap saja, Terry merasakan hawa yang tidak menyenangkan yang datangnya dari boneka berwujud seorang anak kecil dengan mata besar itu. Boneka itu seolah menatapnya, menyeringai ke arahnya. Boneka itu seolah hidup.
Terry sendiri tidak tahu kenapa Frank membeli boneka tua itu. Frank bukanlah penggemar Ventriloquis. Dan kini ketika boneka itu sudah ada di rumahnya, pertanyaan pun bertambah. Kenapa Frank membeli boneka itu? Terry sudah mencoba mempertanyakan hal itu tetapi Frank menjawabnya dengan lelucon yang sama sekali tidak terdengar lucu. Terry mencoba untuk membicarakannya secara serius. Tetapi Frank selalu mengatakan padanya bahwa boneka itu hanyalah sebuah pajangan yang antik.
Terry tidak pernah merasakan kecemasan seperti ini sebelumnya. Ia, sebagai seorang ibu rumah tangga, selalu bekerja di rumah. Pekerjaannya yang biasanya terasa menyenangkan kini terasa sedikit berat dengan adanya boneka tua itu. Setiap kali ia membersihkan ruang tamu, ia selalu bergidik jika matanya bertemu dengan mata boneka itu. Boneka itu terlihat seperti terus mengawasi gerak-geriknya. Dan bahkan, Terry seperti mendengar sebuah bisikan yang datang dari boneka itu.
“Kenapa aku harus membuangnya?” tanya Frank ketika Terry terus menceritakan rasa tidak nyamanya mengenai boneka itu.
“Kau berpikir terlalu berlebihan, sayang.” Lanjutnya. “Seperti di film, maksudmu? Boneka ventriloquis yang bisa hidup? Semua hanya khayalan. Tidka mungkin boneka itu hidup.”
“Tapi aku merasa seperti itu, Frank.” Ucap Terry bersikukuh dengan pendapatnya.
“Blackwood.” Lanjutnya. “Tidak tahukah kau bahwa kota itu dijuluki sebagai kota angker oleh orang-orang? Aku bahkan terus mengkhawatirkanmu ketika kau harus mendapatkan tugas di kota itu, meski hanya sehari. Dan kini, kau malah membeli boneka menyeramkan ini. Aku tidak mengerti dengan apa yang kau pikirkan. Kau pikir boneka ini lucu, dan aku akan menyukainya?”
“Kau tidak menyukainya?”
“Bukankah sudah jelas?” balas Terry sambil berteriak. Suasana tenang malam hari itu bisa saja berubah menjadi pertengkaran seandainya saja Frank bukanlah tipe pria yang tenang berkepala dingin. Dengan santai, ia mencoba menanangkan istrinya kembali.
“Percaya padaku!” ucapnya. “Jika boneka itu mulai macam-macam, aku akan segera menyingkirkannya. Oke?”
Terry tidak mengerti dengan ucapan suaminya itu. Frank pikir hal ini lucu? Pria itu terus tertawa melihat dirinya ketakutan. Dan bukannya membantu, Frank sepertinya malah terus menggodanya. Bagaimana jika apa yang ia rasakan benar-benar terjadi?
Malam berlalu. Detik berganti menit, dan jam terus berganti. Jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari ketika Terry terpaksa harus bangun dari mimpinya. Ia dikejutkan dengan sebuah suara berdebum dari lantai bawah, seperti ada benda yang jatuh. Terry terduduk diatas tempat tidurnya, di tengah kegelapan dan kesunyian, dan tengah mencoba untuk mendengarkan situasi yang terjadi. Apakah hanya halusinasi akibat dari ketakutannya?
“DUK!!”
Suara itu terdengar lagi. Terry seketika mencengkeram lengan suaminya, dan mengguncangkannya untuk membangunkan pria itu. Frank membuka kedua matanya, namun seperti tidak begitu peduli dengan ketakutan yang ada di wajah istrinya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Kau tidak dengar?” balas Terry. “Bagaimana mungkin kau tidak dengar? Suaranya begitu keras.”
“Suara apa?”
“Dari lantai bawah.” Jawab Terry. Kecemasan masih terlihat jelas di wajahnya. “Ada suara benda jatuh. Keras.”
“Yang benar saja!”
“Kau pikir aku berbohong?”
Frank menggeliat di posisinya, namun tidak mau bangun. Ia memang membuka kedua matanya dan merespon ucapan istrinya dengan baik. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan bangun dari tempat tidur dan memeriksa ruang bawah.
“Sudahlah! Kembali tidur!”
Terry tidak begitu yakin dengan apa yang ia rasakan. Ia takut, namun juga penasaran. Namun ia juga tidak mau bangkit dari tempat tidur, dan kembali bergelung di bawah selimut. Untuk sesaat ia coba tajamkan kembali pendengarannya, seandainya suara itu kembali. Namun…, tidak. Semuanya terlihat normal dan hening. Tidak ada suara lain selain suara berdetik dari jam di atas meja. Terry berpikir, mungkin suara itu hanya suara yang berasal dari dalam kepalanya sendiri.
Terry sudah hampir tertidur ketika suara berdebum keras itu kembali terdengar. Terry seketika menegakkan tubuhnya, dan dengan cepat membangunkan kembali suaminya itu.
“Suara itu lagi.” Ucapnya. “Ada yang tidak beres, Frank. Kau harus mempercayaiku.”
Frank dengan terpaksa bangkit dari posisinya. Ia coba dengarkan dengan kedua telinganya, namun keadaan tetap hening.
“Ini aneh.” Ucap Terry. “Suara itu.”
“Kau yakin suara itu berasal dari lantai bawah?” tanya Frank. “Tapi tidak ada benda…, jangan katakan sesuatu mengenai boneka itu!”
“Mungkin…” ucap Terry sedikit ragu. “Bagaimana jika hal lain? Mungkin ada pencuri yang mencoba masuk…”
Frank lebih bisa menerima penjelasan itu daripada cerita takhayul mengenai boneka tua itu. Ya. Bisa saj pencuri berusaha masuk ke dalam rumah dan menciptakan suara-suara aneh itu.
“Oke. Aku akan periksa.”
Frank bangkit dari tempat tidur diikuti oleh Terry. Keduanya bergerak bersamaan keluar kamar, menuruni tangga lalu menuju ke ruang tengah. Frank menyalakan lampu, dan ruangan itu terang seketika. Untuk sesaat keduanya terdiam, dan mencoba memeriksa apakah ada yang aneh dengan barang-barang di ruangan itu.
“Lihat?” ucap Frank. “Tidak ada yang berubah, ‘kan?”
“Bagaimana dengan ruang tamu?”
Keduanya bergerak bersama ke arah ruangan dimana boneka itu berada. Mereka memeriksa ruangan itu, namun juga tidak ada berubah. Semua benda masih berada di tempatnya. Termasuk boneka ventriloquis tua yang ada diatas rak.
Terry seketika merasakan perasaan takut yang luar biasanya ketika kedua matanya bertemu dengan kedua mata boneka itu. Seolah ada sebuah kekuatan yang tak terlihat, yang memancar dari dalam boneka itu, yang membuat bulu kuduknya berdiri. Boneka yang terlihat selalu tersenyum itu benar-benar membuat Terry tidak nyaman.
“Semua jendela masih tertutup dan terkunci. Begitu juga dengan pintu-pintu. Tidak ada apa-apa disini.”
“Kau yakin?” tanya Terry. “Bagaimana dengan boneka itu?”
Frank mendesah, lalu memandang istrinya dengan tatapan kesal dan tak menyenangkan.
“Dengar! Aku lelah saat ini, Terry. Jika ingin membicarakan mengenai boneka itu, sebaiknya besok pagi saja. Oke?”
Terry tidak mengucapkan apa-apa lagi. Beberapa menit kemudian, ia sudah melingkar kembali diatas tempat tidurnya. Ia mencoba untuk tidur, namun kedua matanya tidak bisa terpejam. Ia merasa sedikit cemas, takut, dan perasaan lain yang tak dapat ia jelaskan.
Keadaan benar-benar sunyi. Suara berdebum itu sudah tidak terdengar lagi, entah kenapa. Dan apa yang menyebabkan suara itupun tidak diketahui. Kenyataan yang terjadi, Terry akhirnya dapat tertidur. Dan tidak ada gangguan lain untuk malam itu.

*

Keesokan harinya, keadaan masih terlihat normal seperti biasa. Terry bangun dan menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum suaminya itu pergi bekerja. Perbicangan pagi itu sedikit tidak menyenangkan karena Terry terus mengungkapkan keluh kesahnya mengenai boneka ventriloquis itu, namun Frank malah menanggapinya dengan sedikit emosi.
“Aku tidak ingin membicarakannya!” bentak Frank sesaat sebelum ia pergi. Ia tatap kedua mata istrinya, yang sebenarnya sedikit menyusahkan hatinya. Ia menyesal dengan teriakannya barusan.
“Aku harus pergi.” Lanjutnya dengan nada bicara sudah kembali normal. Sesaat, ia berikan senyuman pada istrinya itu, dan pergi.
Terry tetap tidak bisa melepaskan pikirannya dari hal-hal aneh yang sudah terjadi. Tentu saja mengenai boneka itu. Ia mencoba meyakinkan dirinya, seperti kata-kata Frank, bahwa boneka itu hanya boneka biasa dan tidak bermasalah. Namun, hatinya berkata lain.
Terry melakukan pekerjaannya seperti biasa hari itu. Menyapu, mengepel lantai, membereskan tempat tidur dan menjemur pakaian. Hingga tengah hari, tidak ada satupun hal ganjil yang terjadi. Namun beberapa jam setelah Terry selesai dengan pekerjaannya, ia dikagetkan oleh sebuah suara yang datangnya dari arah ruang tamu.
Suara benda jatuh itu datang lagi. Terry mungkin tidak akan berani memeriksa ruang tamu seandainya bukan pada saat siang hari. Perlahan ia arahkan langkah kakinya ke ruang tamu kecilnya, dan ia menemukan boneka kayu tua itu telah terjatuh dari raknya. Tertelungkup diatas lantai, dengan bagian wajah menempel pada lantai.
Terry ragu untuk mengambil boneka itu. Perasaannya mengatakan bahwa ia seharusnya tidak berada dekat-dekat dengan boneka itu. Tapi ia juga merasa bahwa ia tidak bisa membiarkan boneka itu tergeletak begitu saja. Setelah cukup lama meyakinkan hatinya, ia pun bergerak ke arah boneka itu. Ia ulurkan tangannya, dan dengan perlahan memegang lengan boneka itu.
Terry merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia putar tubuh boneka itu, hingga wajah menyeramkan itu bertatapan dengan kedua matanya. Mata bundar, besar, terlihat polos namun ada kesan licik dalam seringainya. Boneka kayu tua itu memang menyeramkan.
Terry bangkit dari posisi jongkok sambil mengangkat boneka itu. Saat tiba-tiba saja kedua mata boneka itu bergerak. Terry seketika melempar boneka itu sambil menjerit. Kenapa hal itu terjadi?
Boneka itu tergeletak kembali di lantai dengan tatapan kedua matanya ke arah Terry. Apa boneka itu hidup? Terry amati dengan seksama, namun kedua mata boneka itu masih diam di tempat. Lalu apa yang terjadi beberapa detik yang lalu? Apakah halusinasinya saja?
Terry mengangkat boneka itu lagi dan dengan cepat meletakkannya diatas rak. Ia tidak mau berdekatan dengan boneka itu lagi. Terry memutar tubuhnya cepat dan bergerak pergi. Namun baru beberapa langkah, ia terhenti saat dengan jelas ia mendengar sebuah suara anak kecil di belakangnya, yang mengucapkan,
“Mati!”

*

“Boneka itu hidup!” ucap Terry menjelaskan pada Frank sore harinya. Ia mengatakannya dengan sungguh-sungguh, namun seperti sikap Frank sebelumnya, pria itu seolah tidak peduli.
“Sudah berapa kali kita membicarakan hal ini?” balas Frank. “Kau berlebihan, Terry. Dan aku tidak suka dengan sikapmu.”
“Kau pikir aku berbohong?” teriak Terry dengan air mata mulai membasahi kedua matanya. “Apa aku pernah berbohong padamu selama ini? Aku hanya…”
“Oke. Mari kita periksa!”
Terry mengikuti langkah suaminya ke arah ruang tamu. Terry melihat dengan jelas sosok boneka itu. Masih menyeramkan seperti sebelumnya. Cahaya lampu yang menyiram wajah boneka itu menciptakan sebuah bayang-bayang yang membuatnya semakin terlihat sadis.
“Boneka ini.” Frank meraih boneka itu lalu dengan cepat mengguncangkannya. Ia sentuh kedua mata boneka itu, yang tidka bisa bergerak. Frank membuka tutup mulut boneka itu, dan tidak ada yang terjadi.
“Lihat?” ucap Frank. “Jika boneka ini bisa hidup, kenapa ia hanya berani menunjukkan aksinya padamu? Kenapa ia tidak…ARGGGH!!!”
Frank berteriak seketika, dan melempar boneka yang ia pegang. Ia lihat satu jarinya berdarah karena terjepit oleh mulut boneka tua itu.
“Lihat?” ucap Terry.
Frank menatap nanar pada boneka yang kini tergeletak di lantai itu. Diantara percaya dan tidak, Frank mengarahkan pandangan matanya pada Terry yang berdiri di sebelahnya.
“Boneka itu…, boneka itu menggigit…”
“LIHAT!”
Mengikuti teriakan istrinya, Frank memutar kepalanya dengan cepat. Dan kini ia lihat dengan sendirinya saat kepala boneka kayu itu berputar perlahan, dengan mulut terbuka dan tertutup secara sendirinya. Dan mereka berdua dapat mendengar dengan jelas saat boneka itu mengucapkan,
“Kalian harus mati.”
Terry berteriak seketika. Frank, tanpa sadar bergerak cepat ke arah boneka itu dan dengan keras menendangnya. Boneka itu terlempar ke udara dan membentur dinding. Sebagian dari wajah kayunya hancur, dan meninggalkan satu lubang menganga. Namun, mulut boneka itu masih dapat bergerak. Dan ia berucap lagi,
“Kalian anak nakal. Kalian pantas mati!”
Frank dan Terry sama-sama melonjak kaget saat terdengar sebuah suara berdenting dari dapur, dan mereka dapat mendengar sebuah suara semburan yang begitu keras. Dan dalam beberapa detik, mereka dapat mencium sebuah aroma yang khas di udara.
“Oh, tidak!”
Gas dari selang kompor yang terlepas telah memenuhi ruangan. Dan sebelum Frank dapat bertindak, semua lampu yang ada di rumah itu menjadi semakin terang, dan terang, dan terang, hingga akhirnya salah satu bohlam lampu pecah.
Frank dan Terry tidak dapat melakukan apapun. Hal terakhir yang mereka ingat adalah suara bola lampu pecah, dan seketika cahaya merah mulai menenggelamkan mereka. Satu ledakan terjadi, dan rumah itu pun hancur berkeping-keping. Frank dan Terry, tewas seketika.

*

“Tidak ada yang tersisa dari rumah itu.” Ucap salah seorang petugas pemadam kebakaran yang datang beberapa menit setelah ledakan terjadi. Kediaman Frank dan Terry telah hancur terbakar, dan tubuh keduanya ditemukan telah gosong di ruang tamu rumah itu.
“Ada satu bendat tersisa.” Ucap salah seorang yang datang beberapa saat kemudian. Di tangan pemadam kebakaran itu, terdapat satu benda yang sama sekali tidak terbakar sedikitpun oleh api. Sebuah boneka kayu, dengan kedua mata besar dan seringai lebar. Seolah dapat mengatakan bahwa ia merasa puas karena telah merenggut dua nyawa malam itu.

***