Saturday, August 15, 2015

MISTERI GADIS DI LOTENG



Seminggu telah berlalu sejak kepindahan Elizabeth bersama dengan putrinya, Hana, ke rumah baru mereka yang ada di Blackwood. Memang tidak mudah untuk masuk ke dalam komunitas baru. Namun bagi Elizabeth, hal ini adalah hal terbaik yang bisa ia dapatkan setelah keluarganya dipaksa pindah dari rumah mereka yang lama karena suaminya dipindah tugaskan ke kota lain.
Kenapa Blackwood? Itulah pertanyaan yang masuk ke dalam pikiran Elizabeth saat suaminya mengusulkan tempat itu. Sejauh apa yang ia ketahui, Blackwood terkenal dengan cerita-cerita misteriusnya. Keangkeran, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan supranatural. Memang sedikit aneh bagi Elizabeth, yang dikenal sebagai wanita yang rasional, untuk dapat mempercayai hal-hal seperti itu. Dan John, suaminya pun telah mengatakan padanya bahwa cerita-cerita buruk mengenai Blackwood hanyalah karangan belaka. Tidak ada yang perlu ditakuti.
Menang benar. Semenjak kedatangannya seminggu yang lalu, Elziabeth akui bahwa Blackwood merupakan kota yang tenang dan sama sekali berbeda dengan cerita-cerita seram yang pernah ia dengar. Kota itu memang kecil, namun memberikan banyak kesempatan baginya untuk dapat memulai karir baru.
Elizabeth adalah seorang penulis lepas untuk sebuah surat kabar. Dan dalam kurun waktu satu minggu, ia telah mendapatkan kontrak kerja sama dengan sebuah redaksi majalah di Blackwood. Awal yang bagus. Dan pikiran-pikiran buruknya mengenai Blackwood telah hilang sepenuhnya.
Ia tinggal di sebuah rumah kecil dua lantai di tepian kota. Sebuah rumah tua, yang ukurannya lebih kecil dari rumahnya yang lama, namun terasa nyaman untuk ditempati. Lokasi rumahnya itu tidak jauh dari kantor majalah dimana ia bekerja, dan tidak jauh pula dari minimarket terdekat. Lokasinya cukup strategis, dan menurutnya tidak ada yang lebih sempurna dari hal-hal itu.
Elizabeth duduk di depan layar komputernya di suatu malam yang dingin di bulan November. Seperti biasa, ia bekerja hingga larut malam. Saat itu jarum jam telah menunjukkan pukul sebelas.
Ia yang sebelumnya fokus pada pekerjaannya tiba-tiba saja harus berhenti saat ia mendengar sebuah suara ganjil yang datang dari arah atas. Lantai dua. Ia mendengar putrinya, hana, tengah berbicara dengan seseorang. Tapi siapa? Penghuni rumah itu hanya dirinya dan putrinya. John hanya pulang seminggu sekali.
“Hana?” panggil Elziabeth. Tidak ada jawaban yang ia dengar.
Elizabeth kembali fokus pada tulisannya. Namun beberapa detik kemudian, ia harus menghentikan pergerakan jarinya saat ia mendengar lagi suara aneh itu. Kali ini sebuah suara tawa anak kecil. Suara putrinya?
Keadaan aneh yang membuatnya penasaran itu memaksanya untuk meninggalkan pekerjaannya dan bergerak naik untuk memeriksa putrinya. Ia bergerak mneyusuri lorong remang di lantai dua itu, hingga akhirnya sampai di sebuah pintu terbuka yang ada di sebelah kanan, yaitu kamar putrinya.
“Hana?”
Elizabeth heran dengan putrinya. Malam sudah begitu larut, namun Hana masih bermain dengan satu set peralatan dapur mainannya, dan tengah menyajikan minuman di meja kecil yang ada di tengah.
“Hana, kenapa kau tidak tidur? Ibu kira kau…”
“Dia masih mau bermain denganku.” Jawab gadis kecil berusia lima tahun itu. Sebuah kepolosan muncul di wajah putri kecilnya itu.
“Temanmu?” tanya Elizabeth sambil tersenyum. Ia sudah tidak heran lagi dengan hal itu. Tidak aneh rasanya bagi seorang anak kecil memiliki teman khayalan.
“Tapi sudah malam, sayang. Kau harus tidur.” Ucapnya. Hana, dengan berat hati meninggalkan set mainannya itu dan naik ke atas tempat tidur. Elizabeth menarik selimut menutupi tubuh putrinya, dan memberikan kecupan selamat malam.
“Mimpi yang indah.” Ucapnya kemudian. Ia bergerak keluar dari kamar seraya mematikan lampu. Namun langkahnya terhenti saat Hana memanggilnya kembali.
“Nyalakan lampunya!” ucap gadis itu. “Dia tidak suka tempat yang gelap.”
“Dia?” Elizabeth mengerutkan keningnya. Apakah ucapan putrinya itu mengacu pada teman khayalannya itu? Ia kemudian melihat putrinya itu memberikan sebuah anggukan.
“Oke.” Ucap Elizabeth. Ia menyalakan lagi lampu kamar itu. “Berjanjilah kau akan tidur setelah ini, oke?”
Elizabeth kembali turun untuk melanjutkan pekerjaan yang ia tinggalkan tadi. Namun keanehan terjadi di depan kedua matanya. Lampu ruang tengah yang sebelumnya menyala kini telah padam. Bagiamana mungkin bisa terjadi? Apakah dirinya yang mematikan lampu sebelum mengarah ke lantai dua tadi? Namun Elizabeth tidak ingat bahwa ia mematikan lampu.
Ia kembali menghadap laptopnya setelah menyalakan kembali lampu ruangan itu. Akan tetapi, dahinya kembali berkerut saat menemukan laptopnya dalam keadaan mati. Ia menekan sembarang tombol, untuk menghidupkan kembali layarnya. Mungkin laptopnya hanya masuk dalam modus tidur. Tapi…
Tidak.
Laptopnya tidak mau menyala. Ia tekan tombol power berkali-kali, namun tetap saja komputernya itu tidak mau menyala. Rusak? Mustahil. Elizabeth selalu merawat komputernya itu dengan baik dan selama ini belum pernah mengalami kerusakan. Setelah mencoba berkali-kali namun gagal, akhirnya Elizabeth menyerah. Ia berencana membawa laptopnya itu ke reparasi besok pagi.
Elizabeth memutuskan untuk pergi tidur. Namun malam itu tidurnya dipenuhi dengan mimpi buruk. Ia seperti mendengar saura-suara pelan di samping tempat tidurnya, seperti suara bisikan, desis angin, dan suara-suara lain yang memaksanya untuk membuka kedua matanya dalam ketakutan. Apa yang terjadi?
Keadaan kamar begitu tenang. Sepi, gelap, namun tidak ada satupun keanehan. Elizabeth berkeringat, seperti baru saja berlari. Karena mimpi buruknya itu, yang ia rasa begitu nyata.
Pikiran Elizabeth tanpa sadar mulai menghubungkan keanehan-keanehan yang terjadi dalam beberapa jam terakhir. Tingkah putrinya, lalu lampu ruangan yang tiba-tiba padam, lalu laptopnya yang tiba-tiba rusak, lalu suara bisikan itu…
Cerita-cerita mengerikan mengenai Blackwood yang pernah ia dengar dari teman-temannya mulai merasuki pikiran Elizabeth. Apakah cerita-cerita itu benar? Elizabeth mencoba untuk menolaknya dan berkata bahwa tidak ada satupun keanehan yang terjadi pada dirinya selama seminggu terakhir. Kenapa baru sekarang keanehan itu terjadi?
Semakin lama Elizabeth menolak pemikiran supranatural yang masuk ke dalam otaknya, semakin besar pula rasa penasaran yang timbul dalam hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Ia mencoba untuk tidur lagi, namun matanya itu tidak mau terpejam. Seolah saat ia memejamkan kedua matanya, ia mendengar lagi suara bisikan-bisikan itu.
Tubuh Elizabeth tiba-tiba saja membeku saat telinga mendengar dengan jelas suara aneh yang datang dari arah luar kamarnya. Sebuah tawa kecil, terdengar samar. Siapa? Ia yakin bahwa putrinya telah tidur. Apakah ia hanya salah dengar?
Suara tawa itu semakin jelas terdengar saat Elizabeth mencoba untuk mengabaikannya. Elizabeth kini yakin bahwa suara itu nyata terdengar, dan bukan karena imajinasinya. Rasa penasaran yang besar timbul dalam hatinya. Yang membuatnya bangkit dari tempat tidur, mengambil senter yang ada di laci kemudian keluar dari kamarnya.
Elizabeth berdiri selama beberapa detik di dalam kegelapan rumahnya. Selama ini ia tidak pernah menyadari bahwa keadaan rumahnya di malam hari bisa dibilang sedikit menyeramkan. Cahaya remang masuk dari arah luar, melalui jendela-jendela yang ada di ruang tengah.
Elizabeth menyorotkan senternya, lalu bergerak pelan menuju tangga yang mengarah ke lantai dua. Ia yakin bahwa suara-suara yang ia dengar mungkin berasal dari kamar putrinya. Apakah putrinya bangung di tengah malam hanya untuk bermain? Aneh.
Ternyata, dugaan Elizabeth salah. Hana masih tertidur di atas tempat tidurnya dengan tenang, dan tidak ada tanda-tanda bahwa gadis itu baru saja bermain. Tapi Elizabeth masih bertanya-tanya mengenai suara-suara tawa itu.
Elizabeth menghentikan langkahnya seketika saat telinga mendengar hal itu lagi. Suara itu. Suara aneh, tawa kecil dari seorang gadis yang entah tidak diketahui darimana asalnya. Elizabeth mulai merasakan perasaan aneh merayap di dalam tubuhnya. Perasaan takut, akan hal-hal ganjil yang baru saja ia alami.
Cahaya senter yang ia pegang tanpa sengaja mengarah ke bagian ujung koridor, dimana di tempat itu terdapat sebuah pintu yang menghubungkan koridor dengan tangga yang mengarah ke loteng. Elizabeth merasa bahwa ada sesuatu yang harus ia periksa. Hatinya mengatakan bahwa ada hal yang ganjil dari dalam loteng rumahnya.
Keadaan yang gelap, pengap penuh dengan debu menjadi satu-satunya hal yang dapat ia temukan di loteng rumahnya itu. Tumpukan barang-barang bekas terlihat bertumpuk di beberapa tempat. Elizabeth menyorotkan cahaya senternya ke beberpa sudut loteng, namun ia tidak menemukan sesuatu yang ganjil.
Tepat saat ia akan turun kembali ke arah koridor, ada sebuah sekelebatan bayangan yang bergerak cepat diantara kardus-kardus bekas. Elizabeth menyadarinya, namun tidak terlalu cepat untuk mengarahkan senternya. Apa yang baru saja ia lihat?
Elizabeth mengurungkan niatnya untuk kembali ke koridor sebelum ia dapat mengatahui dengan pasti apa yang baru saja ia lihat. Mungkin hanya bayangan seekor tikus?
Elizabeth bergerak diantara kardus-kardus yang bertumpuk, hingga akhirnya ia menemukan sebuah benda aneh berdiri di ujung lotengnya. Sebuah lemari tua dengan kayu berwarna hitam. Elizabeth bergerak mendekat, namun seketika menghentikan langkahnya saat sebuah guncangan terjadi dari lemari tua itu. Seperti ada sesuatu yang bergerak dari dalamnya. Hanya beberapa detik, lalu keadaan menjadi tenang kembali.
Elizabeth merasakan perasaan yang tidak nyaman di perutnya. Perasaan aneh, yang membuatnya merinding tak jelas. Ia bergerak mendekati lemari tua itu, kemudian menggenggap kenopnya, dan mencoba membuknya.
Tidak.
Lemari tua itu tidak bisa terbuka. Terkunci sepenuhnya. Sekuat apapun Elizabeth menarik kenopnya, pintu lemari itu tetap tak bergeming. Elizabeth menyerah beberapa detik kemudian. Ia rasa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, dan ia sama sekali tidak menemukan keanehan di loteng. Akan tetapi, sesaat sebelum ia keluar dari loteng itu, sebuah suara berkelotak kembali terdengar dari dalam lemari. Elizabeth menunggu selama beberapa detik, kemudian terdengarlah suara itu. Sebuah suara nyaring dari tawa seorang gadis yang dengan jelas terdengar dari dalam lemari itu. Elizabeth merasakan bulu kuduknya berdiri seketika, dan detik berikutnya, ia berlari keluar dari loteng itu.

*
Elizabeth masih belum bisa menjelaskan keanehan-keanehan yang terjadi di rumah barunya itu. Lampu yang padam, laptopnya yang rusak seketika, dan juga mengenai tawa gadis yang ia dengar.
Elizabeth mencoba mengabaikan suara tawa itu. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa mungkin ia hanya berhalusinasi. Tapi mengenai lampu yang tiba-tiba padam, dan laptopnya yang rusak, ia tidak bisa menjelaskannya.
Elizabeth telah bertanya pada pengelola perumahan mengenai listrik yang ada di rumahnya. Pengelola itu mengatakan bahwa tidak ada yang tak normal dengan tegangan listrik di rumahnya yang bisa menyebabkan lampu padam dengan sendirinya. Dan kondisi lampu di ruang tengah itu sendiri pun masih dalam keadan baru.
Yang lebih aneh adalah mengenai laptopnya. Ketika Elizabeth membawa laptop kecilnya itu ke reparasi, laptopnya dapat dinyalakan tanpa ada masalah. Tidak ada satupun kerusakan yang terdeteksi dari laptopnya.
Elizabeth mencoba menghubungi suaminya dan mulai menjelaskan segala keanehan yang terjadi.
“Aneh,’kan?” ucapnya begitu ia selesai dengan penjelasannya. “Kurasa ada hubungannya dengan rumah ini. Entahlah. Aku mulai merasakan hal-hal ganjil.”
“Tapi tidak ada masalah sebelumnya, ‘kan?”
“Ya.” Jawab Elizabeth. “Tetap saja…, dan Hana…, dia mulai bertingkah aneh.”
“Kenapa dengannya?”
“Kau tahu bahwa ia sering bermain sendirian bersama dengan teman khayalannya. Tapi kurasa kali ini berbeda.”
“Aku tidak mengerti.”
“Kumohon! Pulanglah! Aku mulai merasa takut.”
Elizabeth mengalami kejadian yang sama dalam hari-hari berikutnya. Tawa-tawa itu masih belum juga mau berhenti, dan ia merasa ia bisa gila jika ia terus mendengar suara-suara aneh seperti itu. Kejadian aneh lainnya juga terjadi. Mesin cucinya tiba-tiba berhenti, lalu lampu di dapur tidak dapat dinyalakan, dan masih banyak kejanggalan lain, yang tanpa diduga hilang di hari berikutnya. Mesin cucinya kembali normal, dan lapu di dapur juga tidak mengalami masalah.
Saat malam tiba, Elizabeth serasa menjalani sebuah penyiksaan. Suara-suara bisikan di samping tempat tidurnya terus ia dengar. Juga dengan suara berkelotak yang berasal dari loteng itu. Ia baru bisa tidur saat ia memutuskan untuk memakai headphone dan mendengarkan musik dari ponselnya.
John, suaminya, akhirnya pualng saat akhir pekan tiba. Elizabeth pun tak kuasa menahan keinginannya untuk segera menceritakan segala sesuatunya, segala hal yang menurutnya aneh itu pada John. Ia ceritakan mengenai malam pertama saat ia mulai merasa hal ganjil itu, lalu kejadian-kejadian mengenai lampu, laptop, suara-suara di loteng, dan juga bisikan-bisikan yang ia dengar di samping tempat tidurnya. John hanya duduk sambil mendengarkan sederet cerita istrinya itu sambil sesekali mengusap lengan Elizabeth.
“Kau yakin?” tanya John begitu cerita istrinya selesai.
“Kau kira aku berbohong?” Elizabeth sedikit menaikkan nada bicaranya. “John! Aku…, aku bukan tipe orang yang percaya dengan hal-hal klenik semacam itu. Tapi semua hal ini…, ah! Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.”
“Kau mungkin hanya lelah, Liz. Kau terus bekerja di depan komputer?”
“Tidak ada hubungannya dengan hal itu, oke?” ucap Liz. “Lalu mengenai putri kita, Hana. Mengenai teman khayalannya itu…”
Malam itu John memutuskan untuk melakukan pendekatan pada putrinya, dan mulai bertanya mengenai teman yang selama ini Hana ajak bicara.
“Kau tahu siapa dia?” tanya John sambil memangku Hana.
“Namanya Elizabeth. Dia teman baikku.”
“Namanya seperti nama ibumu.”
“Ya.” Hana mengangguk. “Tapi dia sedang dalam kesulitan, ayah. Aku harus membantunya.”
“Kesulitan apa?”
“Dia ingin pulang.” Jawab Hana. “Dia tidak tahu jalan pulang.”
“Dimana dia tinggal?” tanya John lebih lanjut, terus memancing cerita putrinya.
“Aku tidak tahu.” Jawab Hana. “Dia kesepian, dan selalu berada di tempat gelap. Dia meminta tolong padaku.”
John mengernyit. Ia tidak tahu apakah Hana tengah membicarakan teman khayalannya atau teman yang lain. Mustahil bagi Hana untuk mempunyai teman lain mengingat Hana tidak pernah keluar dari rumah. Namun John juga tidak menganggap apa yang Hana ceritakan adalah kebohongan. Berdasarkan apa yang pernah ia pelajari, anak kecil tidak pernah bisa berbohong.
Elizabeth yang duduk di depan suaminya memberikan tatapan bertanya pada John. Apa yang harus mereka lakukan? John hanya mengangkat dua bahunya.
“Mengenai Elizabeth…” ucap John kemudian. “Kapan kau mulai berkenalan dengannya?”
“Sejak kita datang.” Jawab Hana.
Hal-hal yang Hana ucapkan semakin membuat John dan Elizabeth penasaran. Siapa sebenarnya gadis kecil yang mengajak berbicara putri kecilnya ini? Siapa sebenarnya Elizabeth itu?
Malam itu Elizabeth memutuskan untuk mengajak putrinya tidur bersama di kamarnya. Ia tidak mau meninggalkan putrinya sendirian berada dekat dengan loteng yang mengerikan itu.
Hana sudah tertidur. Namun tidak dengan kedua pasangan suami istri itu. Mereka masih belum selesai membicarakan mengenai keanehan-keanehan yang terjadi di rumah baru mereka.
“Aku sudah bertanya pada pengelola perumahan, dan katanya tidak ada yang salah dengan rumah ini. Rumah ini seharusnya aman.”
“Tapi…” bantah Liz. “Suara-suara itu…, aku terus mendengarnya. Dan mengenai cerita Hana tadi…, mungkin…”
“Kau berpikir terlalu jauh.” Ucap John. “Tidak mungkin apa yang pernah kau lihat dalam film menjadi kenyataan, ‘kan?”
“Tapi film kadang dibuat berdasarkan kisah nyata.”
John mengusap wajah istrinya, dan meminta agar istrinya tenang. John berjanji bahwa besok pagi ia akan memeriksa loteng itu.
Pukul dua dini hari, John harus memaksa kedua matanya untuk terbuka saat ia merasakan guncangan pada lengannya. Ia lihat Liz telah duduk, dengan wajah begitu cemas, penuh dengan ketakutan.
“Liz, apa yang…”
“Suara itu!” bisik Liz. “Kau dengar?”
John mencoba untuk menajamkan pendengarannya. Namun ia sama sekali tidak mendengar apapun. Yang ada hanyalah keheningan dari suasana malam yang mencekam.
“Kau mungkin bermim…”
“Tidak!” bantah Liz. “Dengar! Itu…”
John tidak mendengar apapun pada awalnya. Namun beberapa detik kemudian, seluruh otot di tubuhnya menegang. Ia tidak bisa mempercayai apa yang didengar oleh telinganya. Suara itu…
“Oh, tidak.”
Suara itu terdengar pelan, begitu halus, namun begitu jelas. Suara seorang anak kecil yang menyebutkan nama putri mereka, Hana. Suara itu kadang berhenti, kadang timbul lagi. Namun John kini sudah merasa yakin bahwa apa yang didengar oleh istrinya bukanlah bualan atau imajinasi belaka.
“John!” keluh Elizabeth. “Apa yang harus kita lakukan?”
Kedua suami istri itu terlonajk kaget saat sebuah suara berdebum keras terdengar dari arah loteng. Ya. Suara yang begitu jelas mereak dengar.
“Apa itu?”
BRAK!! BUM!!
Suara-suara keras itu terdengar berkali-kali, lalu berhenti. Namun detik berikutnya terdengar kembali. John kali ini yakin bahwa ada yang tidak beres dengan loteng rumahnya itu.
“Tidak ada cara lain.” Ucap John seraya turun dari tempat tidur.
“John!” seru Elizabeth dengan penuh kekhawatiran. Ia ikut turun dari tempat tidur, lalu meraih Hana dan menggendongnya.
“Lemari itu.” Ucap John. “Ada yang tidak beres.”
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Kita akan memeriksanya, Liz. Kali ini, untuk membuktikannya.”
Elizabeth tidak tahu apakah hal itu adalah ide yang bagus untuk dilakukan. Namun ia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Ia hanya bisa mengiktui langkah John.
John membawa sebuah senter, dan juga sebuah linggis yang sudah ia ambil dari dalam gudang. Dengan gerak perlahan ia mulai berjalan naik ke lantai dua, menyusuri lorong remang itu, kemudian berhenti tepat di depan pintu yang mengarah ke loteng. Suara berdebum itu sudah berhenti sejak beberapa menit yang lalu.
John membuka pintu itu dengan perlahan, lalu menyorotkan cahaya senter yang ia pegang ke setiap sudut dari loteng tua berdebu itu. Sama seperti yang Elizabeth lihat pada saat itu, tidak ada yang aneh dengan loteng itu. Namun, detik berikutnya…
BRAK!!!
John secara reflek mengarahkan senternya ke arah sumber suara. Suara itu berasal dari balik tumpukan kardus, yang kemudian ia lewati, dan berakhir pada sebuah lemari tua berwarna hitam itu. John melihat dengan mata kepalanya sendiri saat lemari itu berguncang. Suara-suara keras terus bermunculan dari dalam lemari tua itu.
“John!” seru Elizabeth khawatir dengan apa yang akan dilakukan suaminya. John bergerak maju, menggenggam erat-erat kenop dari pintu lemari, dan menariknya dengan kuat.
Usahanya itu sia-sia. Pintu lemari itu terkunci, dan seolah ada sebuah kekuatan jahat yang mencegah pintu itu terbuka. Tapi John, yang ingin membongkar misteri dari lemari itu tidak kekurangan akal. Ia gunakan linggis yang ia pegang, dan menghujamkannya ke pintu lemari.
KRAK!
Sebuah celah terbuka. John kemudian mengerahkan kekuatannya yang lain untuk menjebol pintu lemari itu, hingga akhirnya…
Elizabeth dengen seketika memalingkan wajahnya dan rasa mual mulai mengusik perutnya setelah melihat apa yang ada di dalam lemari tua itu. Bahkan John pun sempat berteriak, lalu mengumpat tiada habisnya.
Jasad seorang gadis kecil terlihat telah mengering di bagian dalam lemari tua itu. Sebuah kerangka, yang dibalut dengan sebuah gaun berwarna biru muda, terlihat lebih mengerikan dan menjijikkan dari apapun. Elizabeth. Mungkin itu adalah nama gadis yang tewas di dalam lemari itu. John dan Elizabeth tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu, dan kenapa jasad gadis itu bisa berada di dalam loteng rumahnya. Yang jelas, cerita dari Hana mengenai Elizabeth yang meminta untuk pulang itu kini menjadi jelas. Mungkin arwah Elziabeth meminta pada Hana agar jasadnya ditemukan, dan dikuburkan dengan benar.
*
Dua hari telah berlalu sejak John dan Elizabeth menemukan jasad gadis kecil itu. Mereka telah melaporkan penemuan aneh mereka pada pihak kepolisian Blackwood, dan kini masalahnya tengah diurus. Jasad gadis itu pun telah dikuburkan di seuah pemakaman yang ada di belakang gereja.
Lalu bagaimana dengan keluarga itu? Apakah John dan istrinya mau tinggal lebih lama di dalam rumah itu?
Jawabannya, tidak.
John melirik ke arah spion mobil yang tengah ia kendarai, dan melihat rumah itu semakin menjauh. Ya. Ia memutuskan untuk pindah dari Blackwood setelah apa yang terjadi.
“Dia sudah pulang.” Ucap Hana dengan raut wajah senang. Elizabeth memandang John, dan tersenyum. Ya. Merekalah yang membebaskan arwah gadis itu dari penjaranya. Kini, Elizabeth, gadis kecil itu, dapat beristirahat dengan tenang.
“Semoga rumah baru yang akan kita tempati nanti tidak memberikan mimpi buruk seperti rumah itu.” Ucap Elizabeth. Suaminya itu tersenyum.
“Aku akan memeriksa lotengnya terlebih dahulu.”
John dan Elizabeth tidak akan pernah tahu cerita sebenarnya dari apa yang terjadi pada gadis kecil itu. Mereka sempat mendengar bahwa beberapa tahun yang lalu pernah terjadi sebuah tragedi di rumah yang ia tempati itu, namun mereka mencoba untuk tidak menggali cerita itu lebih dalam. Mereka merasa sudah tenang saat mengetahui bahwa arwah gadis itu bisa terbebas dari penyiksaan dunia ini. Gadis kecil itu, mungkin akan mengucapkan terima pada keluarga itu karena telah membebaskannya. Jika hal itu memungkinkan.

****


Friday, August 14, 2015

KUTUKAN RUMAH KOSONG

Steve hanya bisa marah-marah dengan mobilnya yang mogok tanpa terkira. Akibat dari hal itu, rencananya untuk menonton konser band kesayangannya pun gagal berantakan. Bukan hanya ia saja yang rugi, tetapi juga ketiga teman yang datang bersamanya.
Samantha, Elena, dan Nick hanya dapat memandangi kawannya yang sedari tadi menendangi mobilnya sendiri itu. Mereka pun kecewa. Namun rasa kekecewan itu tergantikan dengan perasaan kekhawatiran mengingat hari sudah mulai gelap, dan mereka berada di tengah hutan.
“Seharusnya kita tidak melewati jalan ini.” Ucap Elena dengan sebuah desahan. Ucapannya itu tak disangka membangkitkan amarah Steve, yang merasa bahwa keputusannya-lah yang salah.
“Oh, ya. Salahkan aku!” ucapnya dengan marah.
Nick, sebagai lelaki lain dalam grup itu mencoba untuk menangkan Steve yang sedari tadi mengomel tanpa henti. Steve mengucapkan kata-kata yang kasar, mencaci maki, bahkan mengutuk pemilik mobil yang ia tumpangi itu.
Mobil itu sebenarnya belum terlalu tua. Namun paman Steve yang memilikinya memang jarang menggunakan mobil itu, sehingga keadaannya cukup tak terawat. Steve seharusnya bersyukur mengingat  mobil itu masih bisa berjalan belasan kilometer sebelum akhirnya mogok.
“Oh, ini buruk!” keluh Samantha. Ia mengeluh bukan karena ia tak jadi menonton band kesayangannya, namun karena ia dan ketiga temannya itu kini terjebak di tengah hutan yang sepi tanpa ada tanda-tanda pertolongan. Mereka bahkan sepertinya tak tahu mereka ada dimana.
“Tempat ini tak terpetakan.” Ucap Nick. “Tapi kurasa kita sudah berada di kawasan Blackwood.”
“Blackwood?!” pekik Elena. Ketiga temannya dengan seketika memandang ke arahnya. Kenapa ia harus berteriak seperti itu?
“Kenapa?” tanya Samantha heran. “Kau tidak seharusnya…”
“Kalian tidak tahu?” potong Elena cepat. “Blackwood terkenal sebagai kota yang angker. Banyak sekali cerita mengenai…”
“Oh, diam Elena! Kau membuatku semakin pusing!”
Steve tidak tahan lagi dengan situasi yang tengah ia hadapi. Dengan keras ia banting pintu mobil dan berjalan dengan cepat meninggalkan ketiga temannya. Nick berseru memanggilnya, namun lelaki itu terus saja berjalan.
“Hentikan dia!” pinta Samantha pada Nick. Ia yang begitu peduli pada Steve tak mau melihat Steve celaka karena berjalan terlalu jauh di dalam hutan. Nick mengangguk, lalu berlari menyusul Steve.
Samantha hanya bisa mendesah. Ia membuka ponselnya, mencoba untuk meminta bantuan. Sayangnya, tidak ada sinyal sama sekali di tempat itu. Tidak aneh, mengingat mereka ada di antah berantah.
“Tidak ada sinyal.” Keluhnya.
“Lalu sekarang bagaimana?” tanya Elena yang berdiri disisinya. “Sebentar lagi gelap. Apa kita akan tidur dimobil? Oh, tidak!”
“Ucapanmu tadi…” ucap Samantha cepat. “Blackwood. Kau tahu tentang kota itu?”
“Aku hanya pernah mendengarnya.” Jawab Elena. “Kota itu terkutuk. Banyak hal-hal misterius yang terjadi. Entahlah. Itu hanya cerita yang kudengar dari orang-orang.”
“Tapi jika kita memang sudah dekat dengan Blackwood, kita bisa mencari bantuan.”
“Ke kota itu?! Tidak!”
“Kenapa tidak?” tanya Samantha. “Jangan katakan kau takut karena hanya mendengar hal-hal buruk mengenai hal itu!”
“Aku memang takut, oke?” ucap Elena. Gadis itu menggerutu tidak jelas, lalu masuk ke dalam mobil.
Beberapa detik kemudian Samantha mendongakkan kepalanya saat ia melihat Nick sudah kembali dengan Steve berjalan di belakangnya. Raut wajah Steve masih terlihat kusut, namun nada bicaranya sudah kembali normal. Sepertinya ia sudah berhasil mengatasi amarahnya.
“Jangan lakukan itu lagi, Steve! Kumohon!”
Samantha adalah kekasih lelaki itu. Mereka sudah berpacaran sejak SMA, hingga kini mereka berada pada tahun kedua di perkuliahan. Hubungan kedua remaja itu sudah ebgitu erat, dan sulit utnuk dipisahkan. Kekhawatiran yang disampaikan oleh Samantha membuat Steven harus mengucapkan maaf pada gadis itu.
“Aku emosi. Itu saja.” Ucapnya. “Maafkan aku!”
Samantha hanya bisa tersenyum, sambil mengelus pipi lelaki pujaan hatinya itu.
“Oke! Drama percintaannya sampai disini saja.” Potong Nick. Samantha cepat-cepat menarik tangannya dari wajah Steve.
“Sepertinya kita akan melewati malam di tempat ini.”
“Tidak!!” Elena berteriak dari dalam mobil. Ia kemudian melompat keluar, dan bertanya bertubi-tubi mengenai solusi untuk masalah mereka saat itu.
“Tidak ada cara lain.” Ucap Nick. “Ponsel kita tidak mendapat sinyal, dan Blackwood masih terlalu jauh dari tempat ini.”
“Jadi kita akan tidur di dalam mobil?” tanya Elena. “Berempat?”
“Tidak.” Balas Steve. “Aku dan Nick menemukan tempat dimana kita bisa menginap malam ini tanpa kedinginan. Kami melihat sebuah rumah kosong tak jauh dari sini. Kita bisa…”
“Tidak!!!” Elena lagi-lagi berteriak. Samantha yang merasa kesal langsung mencubit lengan gadis itu hingga gadis itu diam.
“Sakit! Hentikan!”
“Kau terlalu rewel, Elena.” Ucap Samantha. Sedetik kemudian ia arahkan matanya kembali pada Steve dan Nick.
“Rumah itu.” Ucapnya. “Menurutmu layak untuk ditempati?”
“Kurasa akan cukup hangat.” Ucap Steve. “Rumahnya belum terlalu bobrok. Hanya kosong ditinggalkan. Mungkin belum terlalu lama.”
“Apa kita punya pilihan lain selain rumah itu?” tanya Samantha. Ia masih berharap bahwa ada rumah disekitar hutan itu. Meski sebenarnya hatinya telah mengatakan bahwa mustahil ada rumah penduduk di tengah hutan seperti itu.
“Jika kau mau kedinginan dan digigit nyamuk, kau bisa tidur disini.” Ucap Nick. Ia sudah terlebih dahulu bergerak ke arah bagasi mobil dan mengangkut barang-barang. Nick memiliki tubuh atletis yang cukup besar bila dibandingkan dengan Steve. Jadi tidak heran jika ia menjadi ‘kuli’ bagi teman-temannya.
“Bagaimana?” tanya Steve meminta pendapat. Samantha yang tak bisa menemukan solusi lain, mau tak mau harus mengangguk menyetujui.
“Kalau begitu, ayo kita kesana!”
“Elena, kau mau tinggal disitu?” teriak Samantha. “Kami akan meninggalkanmu.”
“Tunggu!” gadis itu kemudian dengan tergesa menyusul ketiga temannya yang sudah terlebih dahulu bergerak menjauh.
Rumah kosong itu terlihat beberapa menit setelah mereka berjalan dari tempat mereka meninggalkan mobil. Rumah besar dua lantai itu terlihat begitu mengerikan dengan adanya pohon-pohon besar berada di sisi kiri dan kanannya. Atap rumah itu tinggi, dihiasi dengan sebuah cerobong asap batu berwarna hitam. Teras rumah itu terlihat begitu kotor, dipenuhi dengan daun-daun dan ranting kering, dan dihiasi pula dengan jejak-jejak kaki hewan yang mungkin berlindung di tempat itu saat hujan.
Adanya sebuah rumah besar di tengah hutan tentu saja akan menciptakan sebuah rasa penasaran di hati siapapun yang melihatnya. Tidak terkecuali keempat remaja itu.
“Orang macam apa yang membangun rumah di tempat seperti ini?” tanya Nick heran. “Tidakkah aneh?”
“Mungkin pemiliknya dulu sedikit gila?” ucap Steve sambil tertawa mencemooh.
“Tidak.” Bantah Samantha. “Memang ada sebagian orang yang memilih untuk hidup menyendiri. Dan kurasa rumah ini bukan hanya rumah biasa.”
“Apa maksudmu?” tanya Nick.
“Bisa jadi ini adalah rumah penjaga hutan, atau klub pemburu hewan, atau semacamnya.”
“Ya. Kurasa itu benar.” Sahut Steve. Tidak ada alasan lain untuk tidak mempercayai kata-kata kekasihnya itu.
Steve dan ketiga kawannya tanpa ragu naik ke teras rumah tua itu. Lantai kayu tua dibawah sepatu mereka berderak, mengeluarkan bunyi yang sama sekali tidak menyenangkan.
“Mari kita masuk.”
Keadaan di dalam rumah itu jauh lebih mengerikan dari penampilan luarnya. Keadaan gelap, berdebu, dan letak perabotan di dalam rumah tua itu sudah tidak beraturan, seolah ada perampok yang mengacak-acak tempat itu. Sofa yang ada di ruang tamu terbalik, begitu juga dengan mejanya. Lalu barang-barang yang ada di kabinet berhamburan di lantai.
“Cukup nyaman.” Ucap Nick sambil terkikik geli. Ia meletakan barang-barang yang ia bawa, lalu berlari di sepanjang koridor, yang ternyata menghubungkan ruang depan dan dapur.
Panci-panci terlihat masih ada diatas kompor, dan ada beberapa piring yang tertata di atas meja. Semuanya terlihat sudah tertutup dengan debu. Pemandangan yang ganjil itu tak ayal membuat bulu kuduk Nick berdiri. Melihat situasi di depan matanya, ia hanya dapat membayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada pemilik rumah itu.
Ia melihat sebuah bekas menghitam di lantai, yang berlanjut pada salah satu dinding di dapur itu. Bekas hangus. Api? Mungkin pernah terjadi insiden di dapur itu. Namun Nick tidak menemukan adanya kerusakan lain. Jendela-jendela masih terkunci dengan rapat. Sebuah pintu yang mengarah ke bagian belakang rumah pun masih terkunci dengan rapat.
Nick kembali bergabung bersama ketiga temannya beberapa menit kemudian. Sofa yang terbalik di ruang depan sudah dibenarkan ke posisi semula, dan kini dua gadis duduk diatasnya.
“Dimana Steve?” tanya Nick saat ia tidak melihat kawan baiknya itu. Samantha menggunakan jarinya untuk mengatakn bahwa Steve ada di lantai dua.
“Nick! Kemarilah!” teriak Steve dari arah lantai dua. Nick, tanpa membuang waktu langsung berlari menghampiri temannya itu. Ia mendapati Steve di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi dengan boneka-boneka tua dan usang. Semuanya sudah dalam keadaan buruk dan tak terawat.
“Astaga! Ini kamar seorang gadis.” Ucapnya  kemudian.
“Gadis kecil.” Tambah Steve. Ia mengangkat sebuah boneka yang terletak di sebuah keranjang. Namun ia segera melempar boneka itu saat tiba-tiba saja ada seekor laba-laba besar merayap keluar dari lubang pada boneka tua itu. Nick yang melihat tingkat ketakutan Steve malah menertawainya.
“Kau takut pada serangga, Steve? Konyol sekali.”
“Sudahlah!” ucap Steve seraya mendorong temannya itu keluar dari kamar. “Kita kembali ke bawah. Gadis-gadis itu tidak boleh dibiarkan sendirian.”
Saat malam tiba, kengerian yang sebenarnya dari rumah tua itu mulai terasa. Lorong-lorong gelap yang ada di dalam rumah itu seakan mengundang maut bagi siapa saja yang berani berjalan melewatinya.
Tak diduga, hujan deras turun mengguyur kawasan itu. Suara gemuruh dipenuhi dengan kilatan petir terlihat menghiasi langit yang terlihat begitu gelap, hitam pekat.
Keempat remaja itu duduk di depan perapian yang menyala. Untung saja Steve dan Nick berhasil mengumpulkan kayu bakar sebelum hujan datang. Dengan adanya api, keadaan menjadi sedikit hangat. Namun bayang-bayang hitam bergoyang yang diciptakan oleh lidah-lidah api dari perapian itu menciptakan kengerian lain.
Keempat remaja itu tanpa sadar terlelap. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan belasan kilometer dari rumah mereka meruntuhkan kekuatan tubuh mereka. Keempat remaja itu meringkuk, di depan sofa, mencoba untuk menahan rasa dingin.
Tepat tengah malam, Samantha tiba-tiba saja terbangun setelah mengalami mimpi buruk. Ia terengah-engah, seolah baru saja berlari. Elena yang tidur disebelahnya ikut bangun. Begitu juga dengan kedua lelaki itu.
“Oh! Ini benar-benar menyebalkan.” Keluh Elena. Kedua matanya terlihat bergerak tak tenang, mengamati setiap sudut ruangan yang seolah memiliki mata, dan mengawasinya dengan nafsu membunuh.
“Baru jam satu.” Ucap Samantha sesaat setelah memeriksa jam di pergelangan tangannya.
“Rumah ini benar-benar membuatku takut.” Keluh Elena lagi. Suara bergetar, seolah ingin menangis.
“Kami ada disini untuk melindungimu.” Ucap Samantha, sambil mencoba menenangkan temannya itu.
Keempat remaja itu  terlonjak kaget saat tiba-tiba saja sebuah suara keras terdengar. Suara ‘BRAK!!’, yang sepertinya berasal dari lantai dua.
“Apa itu?” Elena menggeser posisi duduknya merapat pada Samantha. Samantha merasakan ketakutan yang sama dengan gadis itu. Setiap benda di dalam rumah tua itu seolah memiliki kekuatan jahat.
“Mungkin tikus.” Ucap Steve.
“Tikus? Tidak mungkin tikus bisa menimbulkan suara seperti itu. Ada sesuatu di dalam rumah ini. Kita harus keluar!”
“Tenang, Elena!” ucap Samantha. Gadis itu melirik ke arah Steve, mencoba meminta pendapat. Namun lelaki itu hanya mengangkat kedua pundaknya.
“Oke!” ucap Nick. Sedetik kemudian ia sudah berdiri dari tempatnya berbaring dan merapatkan kerah jaketnya.
“Aku akan memeriksanya.”
“Oh! Kau gila?”
“Tidak ada yang perlu ditakuti.” Ucap Nick. Ia bergerak ke arah meja, meraih lilin yang sore tadi mereka temukan, dan menyalakannya. Steve bertanya apakah ia perlu teman, tapi Nick menolak.
“Tidak ada hantu.” Ucapnya dengan sikap congkak. Beberapa detik kemudian, Nick telah menghilang dari pandangan.
Steven mencoba menangkan kedua gadis di sampingnya itu. Ia sadar dengan benar, bahwa ia semua adalah kesalahannya. Jika saja ia tidak memilih jalan pintas itu, mungkin ia dan ketiga temannya tidak harus berlindung di dalam rumah tua yang mengerikan seperti ini.
“Aku merasakan hal yang aneh dari rumah ini.” Ucap Samantha. “Entahlah. Aku bisa merasakannya. Seperti ada sesuatu yang jahat…”
“Sam benar.” Tambah Elena yang masih merapat pada tubuh Samantha.
“Tinggal beberapa jam lagi.” Ucap Steve. “Kita akan pergi saat matahri terbit. Kita hanya perlu bertahan….”
“AHHHHH!!!!!!”
Ucapan Steve terpotong saat suara itu terdengar. Sebuah jeritan yang berasal dari arah lantai dua. Dan ia tahu benar, bahwa suara barusan adalah suara Nick.
“NICK!” teriak Steve. Tanpa sadar ia telah berdiri pada kedua kakinya dan berniat untuk berlari menghampiri Nick. Tetapi, ia kemudian ingat dengan dua gadis itu.
“Kalian disini saja, oke?”
“Tidak!” bantah Samantha. Gadis itu kemudian berdiri, diikuti oleh Elena. “Kami tidak mau ditinggal sendi…”
“AHHHHHH!!!!! TOLONG !!!”
Suara itu terdengar lagi. Lebih keras, diselingi dengan suara berdebum seperti ada barang yang jatuh berkali-kali ke lantai. Steve dan kedua temannya tak punya banyak waktu untuk berpikir. Tanpa sadar mereka telah berjalan cepat menuju ke lantai dua dengan Steve memimpin. Lilin yang ada di tangannya bergoyang, nyaris mati saat ia berjalan terlalu cepat.
“NICK! NICK! DIMANA KAU?”
Tidak ada jawaban meski Steve telah berteriak beberapa kali. Saat ia mencapai koridor lantai dua, instingnya mengatakan bahwa Nick berada di ruang gadis kecil yang sore tadi ia masuki.
“Oh, astaga! NICK!”
Samantha dan Elena menjerit ngeri melihat tubuh Nick yang tergeletak diatas lantai dengan darah memenuhi wajah lelaki itu. Wajah Nick terlihat polos, pucat dibalik darah merah itu, dan kedua matanya memutih, seolah ada yang merampas nafas kehidupan dari kedua mata itu.
“Oh! Apa yang terjadi? Tidak!!!”
Elena mulai menangis tak terkontrol. Tubuhnya bergetar, saat ia tak sanggup melihat apa yang terjadi pada temannya itu.
Steve berdiri kaku di tempatnya. Pikirannya kosong selama beberapa detik, saat ia tak tahu dengan apa yang baru saja terjadi pada temannya itu. Namun ia sadar, bahwa temannya itu sudah tak bernyawa lagi.
Ketiga remaja itu kembali berjingkat saat sebuah fenomena tak terjelaskan terjadi di depan kedua mata mereka. Lemari pakaian tua yang berada di sisi ruangan itu tiba-tiba saja bergetar dengan hebat, seolah ada seseorang di bagian dalam lemari itu yang mencoba untuk keluar. Keadaan yang benar-benar ganjil, yang membuat ketiga remaja itu bergerak mundur dengan cepat. Dan tiba-tiba saja…
“ARHHHHH!!!!!!”
Suara menjerit terdengar dari dalam lemari tua itu. Lemari itu bergoyang lebih cepat, lebih cepat, semain cepat, menimbulkan suara-suara berkeriak yang menyayat hati.
“KELUAR!” teriak Steve sedetik kemudian. Hal yang paling rasional untuk menghadapi situasi tak natural seperti itu adalah melarikan diri. Ketiga remaja itu berlari cepat menuruni tangga, tak peduli lagi bahwa lilin yang Steve bawa telah mati, dan kini mereka berada dalam kegelapan total. Namun entah mengapa, mata mereka seolah dapat melihat dalam gelap. Dan beberapa detik mereka sudah mencapai pintu depan, memutar kenop pintunya, tapi…
“TIDAK!!!!”
Steve mengguncang-guncang pintu itu namun pintu itu tak bergeming. Terkunci. Dan sama sekali tidak dapat ia buka. Hal aneh lainnya terjadi beberapa detik kemudian. Ruang tamu mulai bergetar seolah ada gempa bumi. Lukisan-lukisan yang ada di dinding bergetar hebat, lalu berjatuhan. Lampu yang ada di rumah itu, yang seharusnya sudah tidak bekerja lagi, mulai berkedip hidup mati.
“Lewat dapur! Cepat!”
Ketiga sampai di dapur dalam beberapa detik. Namun hal aneh yang terjadi di ruang depan pun terjadi pula dengan perabotan yang ada di dapur. Perabot-perabot mulai bergoyang, berguncang, menciptakan bebunyian yang aneh dan mengerikan. Kompor tua dengan dua panci diatasnya itu mulai menyemburkan api besar.
Elena menjerit-jerit ketakutan. Air mata membasahi pipinya yang memerah karena darah terlalu cepat terpompa ke kepalanya. Namun sedetik kemudian….
Samantha menjerit sekuat yang ia bisa saat ia dengan jelas, dengan kedua matanya sendiri melihat sebuah pisau dapur melayang, menggorok leher temannya itu. Menyebabkan darah memancar keluar dari arterinya yang terpotong. Elena dengan jerit yang mulai tenggelam oleh darahnya sendiri mengapai-gapai ke arah Samantha, seolah meminta pertolongan terakhir. Namun…., gadis itu kemudian terkulai lemah dan tewas seketika.
“TIDAK!!!”
Jeritan kedua remaja yang tersisa kalah oleh suara ribut yang ditimbulkan oleh rumah tua itu. Perabotan yang berdenting, lantai kayu yang berderak, kaca jendela yang bergetar hebat, semua hal aneh terjadi dalam hitungan detik.
“KELUAR, SAM! CEPAT!”
Pintu dapur, dengan anehnya, terbuka dengan sendirinya seolah membiarkan kedua remaja itu untuk melarikan diri. Sam berhasil keluar, akan tetapi ia tidak dapat menemukan Steve disebelahnya. Ketika ia menoleh kebelakang, pintu dapur telah tertutup kembali dan Steve terjebak di dalamnya.
“STEVEN!!! TIDAK!!!”
Samantha berlari ke arah jendela, dan hanya dapat melihat Steve yang menggedor-gedor jendela itu. Steve mengangkat sebuah kursi untuk memecahkan kaca jendela itu, namun kaca itu seolah terbuat dari kaca anti peluru, dan sama sekali tak tergores.
Rasa putus asa mulai muncul di dalam hati seorang gadis, Samantha, yang hanya bisa melihat kekasihnya terjebka dalamrumah maut itu. Air mata tak terbendung lagi, dan ia hanya bisa menjeritkan nama lelaki itu.
“STEVEN!!!”
Steve berdiri tenang dibalik kaca dimana Samantha dengan kekuatan penuh menggedor kaca jendela itu. Steve hanya tersenyum, telah meneyrah dengan keadaan, dan meminta kekasihnya itu untuk lari.
“Lari, Sam! Kumohon! Tinggalkan aku!”
“Tidak…, tidak…, Steven….”
“Lari! LARI!!!”
Dengan kekuatan terakhir, Samantha bergerak meninggalkan tempat itu. Dengan tangisan yang tak henti, ia mencoba menguatkan kedua kakinya untuk terus berlari, berlari, dan berlari tanpa henti. Dengan rasa sakit di dalam hati karena telah meninggalkan kekasihnya tanpa dapat berbuat apa-apa, ia menjeriakan nama Steven di dalam hatinya.

**
“Nona, kau bisa mendengarku?”
Samantha mendongakkan wajahnya, dan melihat wajah tampan itu. Steven. Dengan senyum yang menawan, yang selalu memikat hatinya.
“Steve…”
“Steve? Temanmu?”
Senyum di wajah gadis itu menghilang saat raut wajah Steven sirna, dan digantikan dengan wajah lain yang memandang penuh kepedulian dan rasa penasaran padanya.
“Nona, kau baik-baik saja? Kau bisa mengingat namamu?”
Samantha duduk di sebuah bangku di tepian sebuah kota dengan penampilan terburuknya. Rambutnya kusut, pakaian kotor dan robek di beberapa tempat. Ia sadari bahwa ia telah berhasil keluar dari dalam hutan, dan kini mobil patroli polisi dan ambulan telah mengelilinginya.
“Dia tidak mau mengatakan sesuatu, inspektur.” Ucap seorang polisi muda kepada atasannya setelah berusaha mengajak bicara gadis itu.
“Ada berita lain.” Ucapnya inspektur itu. “Tiga remaja ditemukan tewas di rumah tua itu. Dua dengan keadaan mengenaskan, dan satu lelaki tewas di dapur dengan pisau menusuk jantung.”
“Rumah itu lagi?”
“Ya. Sudah yang ketiga kali sejak tiga tahun terakhir.”
Gambaran-gambaran mengenai wajah ketiga kawannya membuat Samantha mulai menangis lagi. Ia merasa, bahwa dunia yang ia tempati telah berputar, gila, segila-gilanya.
“Tidak! Tidak! Steven! Elena! Nick! Tidak!!!”
Paramedis berusaha menangani gadis itu. Keadaan Crystal yang kacau dan terus memberontak memaksa pihak medis untuk menyuntikkan obat penenang pada gadis itu untuk membuat gadis itu tertidur. Dan dalam kesadaran yang mulai memudar, Crystal dapat mendengar sebuah suara di sampingnya. Suara yang terdengar begitu jelas, seolah dibisikkan kerahanya.
“Samantha. Aku mencitaimu. Kau akan baik-baik saja.”
Samantha tersenyum. Steven. Lelaki itu masih berada di dalam hatinya. Ia mengucapkan nama itu sedetik sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.

****