Jika kita berbicara mengenai anak-anak muda, apa yang
pertama hadir di dalam kepala kita? Gaya berpakaian mereka, atau cara mereka
berbicara, cara mereka melihat sesuatu melalui perspektif mereka, gaya rambut,
dan cara mereka berpesta? Tapi ada satu hal yang selalu dapat kita lihat dari
kehidupan anak-anak muda tersebut, yang sama sekali tidak dapat terlupakan.
Yaitu kegemaran mereka terhadap sesuatu yang berbau sosialitas. Smartphone, dan
situs-situs sosial network, adalah beberapa hal yang selalu kita lihat. Ya.
Tidak ada satupun pemuda yang rela menghabiskan waktu mereka tanpa adanya
smartphone. Smartphone, sudah seperti kehidupan kedua mereka. Tapi diantara
hal-hal itu, ada kalanya seseorang dapat merasa begitu takut untuk menyentuh
ponsel mereka. Salah satunya, adalah seorang gadis belia bernama Haiden.
Alasannya, mungkin bukan
karena ia terlalu takut untuk melihat status pertemanannya di Facebook, atau
melihat jumlah followernya di twitter. Tapi karena suatu alasan yang sebenarnya
bisa dianggap sedikit tidak masuk akal dan terbilang cukup aneh.
Sudah beberapa hari ini
Haiden tidak menyentuh ponsel berwarna pink-nya itu. Ia terlalu takut. Kenapa?
Karena ia selalu mendapatkan email aneh dari seseorang di luar sana yang
sepertinya selalu dapat mengetahui apa yang ia lakukan. Stalker? Mungkin. Tapi
Haiden tidak pernah mendapatkan hal-hal semacam itu sebelumnya. Kejadiannya
baru bermula ketika ia pindah ke kamar asrama barunya yang terletak dekat
dengan kampus tempatnya kuliah. Semenjak hari itu, ia selalu mendapatkan
pesan-pesan aneh dari seseorang dengan nama Hell. Entah itu lewat emailnya,
atau lewat beberapa sosial media yang ia miliki. Pesan-pesan yang ditulisakan
selalu terdengar aneh dan sedikit mengerikan. Seperti…
“Hai!” sepertinya tidak
aneh. Namun bagaimana jika pesan yang sama selalu dikirimkan setiap menit
dengan kata yang sama? Itulah yang membuat Haiden kini sedikit menghindari
sosial media.
Hal-hal serupa terjadi
setiap harinya. Pesan-pesan yang masuk, dari user bernama Hell, terus memenuhi
inbox miliknya. Beberapa pesan yang dapat Haiden ingat, diantara…
“Senang bisa bertemu.” Atau,
“Kau sendirian?” dan ada lagi yang berbunyi, “Jangan tinggalkan aku.”
Haiden takut, namun disaat
yang bersamaan juga merasa penasaran dengan username Hell ini. Ia sudah mencoba
menceritakan hal ini pada beberapa temannya. Pendapat mereka, mungkin Haiden
memiliki penggemar rahasia. Memang kelihatannya begitu. Tapi haiden yakin bahwa
ada maksud tertentu dari orang bernama Hell ini.
Haiden pernah mencoba
membalas pesan dari Hell yang masuk ke dalam inbox emailnya.
“Siapa kau?” tulis Haiden.
Haiden menunggu, namun tidak ada balasan saat itu. Hingga akhirnya ponsel
miliknya berbunyi di tengah malam, saat ada sebuah pesan masuk. Ketika Haiden
membuka email itu, ia mendapatkan pesan balasan yang berbunyi,
“Aku temanmu. Yang
menemanimu saat kau tidur, seperti saat ini.”
Pesan yang singkat namun
mengandung arti yang mengerikan itu tentu saja membuat Haiden kesal. Ia sudah
mencoba meminta baik-baik agar Hell tidak mengganggunya lagi. Namun pesan-pesan
aneh selalu masuk setiap harinya.
“Sarapan?” atau. “Jangan
lupa sepatu barumu.”
Yang membuat aneh adalah
kenyataan bahwa Hell dapat mengethaui hal-hal yang seharusnya tidak diketahui.
Haiden membeli sepatu baru tanpa sepengetahuan siapapun. Tapi kenapa Hell bisa
tahu? Seolah Hall sudah tinggal bersamanya selama ia tinggal di asrama barunya
itu.
Pesan terakhir dari Hell
yang membuat Haiden semakin ketakutan masuk beberapa hari yang lalu. Pesan itu
berbunyi,
“Aku menyukaimu.” Yang
dikirim sebanyak 20 kali. Hal ini sudah cukup bagi Haiden untuk memutus
hubungan telekomunikasi di posnelnya. Ia matikan ponselnya itu dan ia masukkan
ke dalam laci. Jika ponselnya mati, berarti Hell tidak akan bisa mengiriminya
pesan, ‘kan? Tapi apakah hal itu berhasil?
Selama beberapa hari Haiden
tidak menyentuh ponselnya. Ia memang tidak mendapatkan gangguan lagi dari Hell.
Namun ia juga tidak bisa berkomunikasi dengan temannya jika tidak menggunakan
ponsel. Dan hal itu membuatnya stress.
Haiden menghidupkan kembali
ponselnya dengan hati berdebar. Ia mengira ia akan langsung mendapatkan pesan
dari Hell. Tapi…, tidak. Apakah ini berarti ia sudah terlepas dari gangguan
orang itu?
Tidak. Beberapa jam setelah
Haiden menghidupkan ponselnya, ia mendapatkan satu pesan lagi. Hanya satu
kalimat dari Hell, yang berbunyi…
“Kau tidak bisa lari dariku,
Haiden.”
Haiden kini sudah merasa
cukup muak dan ketakutan dengan adanya pesan-pesan aneh itu. Ia memutuskan
untuk mengganti alamat emailnya, membuat akun baru di Facebook dan Twitter, dan
berharap Hell tidak akan bisa menghubunginya lagi. Segalanya berjalan sempurna.
Selama beberapa hari Haiden tidak mendapatkan pesan-pesan lagi. Ia kira
starteginya itu berhasil. Namun disuatu malam, ia mendapatkan satu telepon dari
nomor yang tak dikenal. Ketika ia angkat telepon itu, sebuah suara seorang pria
dengan nada rendah menyapanya dari seberang sambungan. Pria itu berkata…
“Selamat malam, Haiden.
Selamat tidur.”
Haiden seketika melempar
ponselnya ke seberang ruangan. Ia merasakan aura yang tidak biasa. Keadaan di
sekitarnya terlihat terlalu mencekam. Ia bahkan tidak bisa tidur malam itu.
“Kau harus menyelesaikan
masalah ini.” Ucap salah seorang teman Haiden memebrikan solusi.
“Ajak dia untuk bertemu,
dengan satu syarat. Dia tidak boleh mengirimimu pesan-pesan lagi.”
Ya. Haiden setuju dengan hal
itu. Haiden membuka email lamanya, dan berharap ia akan mendapatkan pesan lagi
dari Hell. Dan apa yang dinantikannya tiba. Pesan dari Hell, berbunyi…
“Kau rindu padaku?”
“Siapa sebenarnya dirimu?”
balas Haiden. “Sebaiknya kita bertemu. Dan berjanjilah kau tidak akan
menggangguku lagi.”
“Ok.” Balas Hell.
“Jadi dimana kau mau bertemu
denganku?”
“Tidak perlu jauh-jauh.”
Balas Hell. “Karena aku…, sudah ada di belakangmu.”
Haiden seketika memutar
tubuhnya, dan di depannya hadir sebuah wajah pria berambut kumal dengan darah
memenuhi wajahnya. Wajah itu menyeringai, sambil berkata…
“Hai, Haiden!” dan Haiden
pun jatuh tak sadarkan diri.
***
No comments:
Post a Comment